Assalamu'alaikum Wr. Wb. i just want to share knowledge to all muslim people. This blog is for all muslim whole the world please correct me if wrong. learn is the best. its all about Islam n i will add Computer Knowledge. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

السبت، يوليو 02، 2005

Tafsir Surat al-Hadid 22-23

DR. Abdul Adhim Badawi
Mengapa engkau tidak meminta petunjuk Tuhanmu, mengapa engkau tidak bangun dimalam hari (shalat malam) menghadap kepada-Nya sambil berdo'a : "Ya Allah Rabb Jibrail, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang ghaib maupun yang nyata, Engkaulah yang memutuskan perselisihan hamba-hamba-Mu, tunjukilah aku kebenaran dari apa yang mereka perselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus." (Hadits riwayat Muslim)
Tafsir surat al-Hadid : 22-23
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."
Oleh : Doktor Abdul Adhim Badawi
Allah berfirman : "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi" berupa kekeringan dan kemarau atau bencana lainnya, "dan (tidak pula) pada dirimu sendiri" berupa sakit dan penderitaan dan bencana lainnya, "melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh)" disisi Allah "sebelum Kami menciptakannya."
Allah telah menulis segala apa yang akan terjadi lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan Bumi, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah (dalam hadits beliau). Dan ayat ini adalah salah satu dalil yang dipergunakan Ahlussunnah untuk membantah madzhab Qodariyyah, yang mengatakan : "Tidak ada takdir, dan kejadian itu baru terjadi". Mereka bermaksud dengan ucapan itu : "Bahwasanya Allah tidak mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya". Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan;
“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk : 14)
Beriman terhadap takdir -maknanya adalah beriman terhadap ilmu Allah yang mengetahui segala sesuatu sebelum penciptaannya- dan ini termasuk salah satu dari rukun iman, sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril ketika Jibril bertanya kepada Nabi tentang iman. Lalu Rasulullah menjawab :
"Engkau beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, dan beriman terhadap takdir baik atau buruknya".
Dan Rasulullah bersabda :
"Tidaklah beriman seorang hamba hingga ia beriman terhadap takdir yang baik atau yang buruk, hingga ia mengetahui bahwa apa saja yang menimpanya tidak akan meleset, dan apa saja yang meleset darinya tidak akan menimpanya". (Hadits riwayat Tirmidzi 2231).
Didalam al-Qur'an banyak sekali dijumpai ayat yang menjelaskan tentang takdir, diantaranya firman Allah :
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (al-Qamar : 49)
Beriman terhadap takdir mempunyai empat kandungan pengertian :
Pertama :
Beriman bahwasanya Allah mengetahui segala sesuatu, dan tiada sesuatupun yang di langit maupun di bumi tersembunyi dari-Nya. Allah berfirman :
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." (At-Thalaq : 12)
Kedua :
Beriman bahwasanya Allah telah menuliskan segala apa yang terjadi dalam kitab-Nya (Lauhul Mahfudz), sebagaimana Allah berfirman :
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid : 22)
Dan Rasulullah bersabda :
"Awal kali yang diciptakan Allah adalah pena. Allah berfirman : "Tulislah!" pena berkata : "Apa yang akan saya tulis?" Allah berfirman : "Tulislah apa yang akan terjadi hingga hari kiamat!" (Shahih riwayat Abu Daud)
Dan Rasulullah bersabda kepada Ibnu Abbas :
"Ketahuilah bahwa seandainya umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan sesuatu yang telah dituliskan Allah bagimu, dan kalau seandainya mereka berkumpul untuk memberi mudharat bagimu niscaya mereka tidak akan dapat memberi mudharat melainkan apa yang telah dituliskan bagimu. Pena-pena telah diangkat dan telah kering lembaran-lembaran". (Hadits Shahih riwayat Tirmidzi 4/76/2635)

Ketiga :
Beriman bahwasanya Allah adalah Rabb (Pencipta,Pemelihara) dan Pemilik segala sesuatu, dan bahwasanya Allah adalah Raja segala Raja, Allah adalah pengatur seluruh alam semesta ini, apa yang dikehendaki Allah akan terlaksana, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terlaksana sekalipun seorang hamba menginginkannya :
"Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia." (Yasin : 82)
Keempat :
Beriman bahwsanya Allah adalah pencipta segala sesuatu, dan tidak ada pencipta selain-Nya, dan sebagian dari ciptaan Allah adalah perbuatan manusia, Allah berfirman :
"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". (ash-shaffaat : 96)
Empat hal inilah yang wajib diimani hingga seorang hamba menjadi seorang yang beriman terhadap takdir, dan wajib untuk menahan diri dari terlalu mendalami masalah takdir, dan saya melihat manusia yang paling bodoh terhadap takdir adalah mereka yang paling banyak berdalam-dalam dalam masalah takdir.
Akan tetapi disana ada syubhat yang dilontarkan oleh orang-orang musyrik baik pada zaman dahulu maupun sekarang, dan barangkali syubhat ini ada pada orang-orang yang beriman. Syubhat ini adalah perkataan : "Jika Allah adalah pencipta kita dan pencipta perbuatan-perbuatan kita, mengapa Dia mengazab hamba yang bermaksiat kepadanya?"
Allah berfirman :
“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun". Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta. Katakanlah: "Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya". (al-An'am : 148-149)
Tidak ada pada seorang hamba hujjah/alasan untuk membantah Allah. Ya benar perbuatan kita adalah ciptaan Allah, akan tetapiAllah I mencintai ketaatan-ketaatan yang kita lakukan, dan membenci kemaksiatan-kemaksiatan kita. Allah I memerintahkan kita untuk taat kepada-Nya, dan melarang kita berbuat maksiat kepada-Nya. Maka perintah adalah tanda kecintaan, dan larangan adalah tanda kebencian. Adapun kehendak (irodah) ada dua macam :
< "Irodah Kauniyyah Khalqiyyah" (Ketetapan/taqdir Allah yang tidak pasti dicintai-Nya)< "Irodah Syar'iyyah Diiniyyah" (Ketetapan/taqdir Allah yang pasti dicintai-Nya)
Adapun "Irodah Syar'iyyah Diiniyyah" berhubungan dengan perintah dan larangan, adapun "Irodah kauniyyah khalqiyyah" berhubungan dengan perbuatan seorang hamba. Terkadang (didapati pada diri seorang hamba) ada ketaatan, dan terkadang ada maksiat. Maka jika didapati kemaksiatan tidaklah hal ini menunjukkan tanda kecintaan Allah, karena Allah melarangnya, dan larangan itu tanda dari kebencian bukan tanda kecintaan, apapun yang dilarang Allah adalah sesuatu yang dibenci, walaupun hal ini takdir, dan apa yan diperintahkan Allah adalah sesuatu yang dicintai sekalipun tidak ada takdir. Dan kita dibebani dengan perbuatan yang dicintai Allah, dan meninggalkan perbuatan yang dilarang-Nya.
Allah telah mengirim para rasul-Nya serta menurunkan kitab-kitab-Nya untuk menerangkan kepada manusia apa yang wajib diamalkannya dan apa yang wajib ditinggalkannya, dan dengan hal ini hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya ditegakkan, oleh karena itu Allah berfirman :
"Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (al-Isra : 15)
Maka selagi Allah memberi petunjuk kita kepada dua jalan, dan mengirim para rasul yang memerintahkan kita untuk menempuh jalan yang lurus, yaitu jalan Allah, dan melarang kita untuk menempuh jalan bengkok lainnya, maka telah tegak hujjah Allah atas hamba, maka barangsiapa mentaatinya akan mendapatkan surga, dan barangsiapa berbuat maksiat kepadanya maka akan masuk neraka ;
"Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun". (al-Kahfi : 49)
Subhat yang lain :Kerap kali kita mendengar sebagian orang jika dinasehati atau diingatkan ia berkata :
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya." (al-Qashas : 56)
Kalimat ini benar, tapi digunakan untuk kebatilan, karena bukanlah makna : "Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya" bahwa seseorang yang tersesat terus-menerus dalam kesesatan, yang akhirnya Allah memberinya hidayah, sesungguhnya Allah tidak menghendaki manusia dipaksa untuk mengikuti petunjuk, Allah I berfirman :
"Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya." (as-Sajadah : 13)
Allah tidak menghendaki untuk menjadikan manusia seperti malaikat :
"Mereka (para malaikat) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (at-Tahrim : 6)
Akan tetapi Allah :
"Dia menciptakan manusia, Yang telah mengajarkan Al Qur'an." (ar-Rahman : 3-4)
Dan Allah telah memberinya dua jalan, lalu membiarkannya agar memilih yang dikehendakinya :
"Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". (al-Kahfi : 29)
Dan ayat ini turun sebagai pelipur lara Rasulullah, dan untuk menghibur beliau atas kematian pamannya Abu Thalib dalam keadaan kafir, karena pembelaan Abu Thalib terhadap Rasulullah telah masyhur, dan Rasulullah sangat menginginkan agar pamannya masuk Islam, maka disaat-saat mendekati kematiannya, Nabi berkata kepada pamannya :
"Wahai paman, katakanlah : la ilaha illalloh, saya akan memberi syafaat bagimu dengannya disisi Allah.”
Abu Thalib berkeinginan untuk mengucapkannya, akan tetapi teman-temannya yang jahat yaitu Abu Jahl dan teman-temannya, berkata kepadanya : "Apakah engkau ingin meninggalkan agama Abdul Mutthalib ?" Lalu Abu Thalib menjawab : "Tidak, saya tetap dalam agama Abdul Mutthalib." Maka setelah itu Abu Thalib mati dalam keadaan kafir. Nabi pun sedih lantaran hal ini. Lalu beliau berkata : "Wahai paman, demi Allah saya akan memohonkan ampunan untukmu selama aku belum dilarang Allah untuk hal ini." Maka Allah menurunkan firmannya :
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yangdikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (al-Qashash : 56)
“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam.” (at-Taubah : 113)
Jika demikian halnya : "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi", dikatakan kepada seorang alim yang sangat berkeinginan keras untuk memberi petunjuk manusia, sedangkan manusia berpaling darinya, tidak menerima dakwahnya, maka dikatakan kepadanya untuk menghiburnya : "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi." Sebagaimana juga dikatakan kepada seorang ayah yang berkeinginan keras untuk memberi petunjuk anaknya yang berbuat maksiat, dan anak itu terus berbuat maksiat, maka dikatakan kepada semisalnya : "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi." Adapun jika ayat ini dijadikan hujjah bagi orang-orang yang sesat dan mereka berkata : "Kalau Allah I menghendaki tentu Dia akan memberi petunjuk kita." Maka ini adalah perkataan yang aneh, karena seseorang jika tertimpa penyakit ia akan segera pergi berobat ke dokter, siang dan malam berusaha mencari rezki, adapun hidayah/petunjuk yang mana ia adalah sesuatu yang paling mahal yang dimiliki oleh manusia ia tidak berusaha untuk mencarinya, tetapi ia hanya duduk menunggu agar datang tanpa usaha dan amal. Kalaulah engkau jujur wahai manusia dalam mencari petunjuk dan mengharapkan padanya, mengapa engkau tidak berusaha untuk mendapatkannya? Mengapa engkau tidak bangun di akhir malam dan berdoa :
"Ya Allah berilah aku petunjuk, ketaqwaan, kehormatan dan kekayaan." (Hadits shahih riwayat Muslim 2721/4/287) danTirmidzi (3555/5/184).
"Ya Allah berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang engkau beri petunjuk." (Shahih riwayat Abu Daud 1412, Tirmidzi dan Nasa'i 3/248).
Tidakkah engkau mengetahui bahwasanya Allah berfirman dalam hadits Qudsi :
"Wahai hambaku, kalian semua dalam keadaan tersesat kecuali mereka yang aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk-Ku niscaya Aku beri petunjuk kalian." (Muslim 770, 1/534)
Mengapa engkau tidak meminta petunjuk Tuhanmu, mengapa engkau tidak bangun dimalam hari (shalat malam) menghadap kepada-Nya sambil berdo'a :
"Ya Allah Rabb Jibrail, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang ghaib maupun yang nyata, Engkaulah yang memutuskan perselisihan hamba-hamba-Mu, tunjukilah aku kebenaran dari apa yang mereka perselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus." (Hadits riwayat Muslim)
Semoga Allah memberi petunjuk kita kepada jalan yang lurus.Dan firman Allah : "Supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu."
Jika engkau sangat menginginkan sesuatu, engkau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperolehnya lalu luput, maka janganlah engkau terlalu bersedih hati :
"Ketahuilah bahwa apa saja yang luput dari mu tidak akan engkau dapatkan."
Dan bahwa luputnya itu adalah baik bagimu daripada mendapatkannya, maka ridhalah terhadap apa yang dibagikan Allah , dan ketahuilah bahwasanya :
"Tidaklah Allah mentakdirkan kepada hambanya yang beriman suatu takdir melainkan baik baginya."
Dan jika engkau memperoleh sesuatu maka janganlah terlalu bergembira ;
"Dan Allah tidak menyukai setiap orang-orang yang terlalu membanggakan diri." (al-Qashash : 76)
Maksud dari hal ini : "Hendaknya seseorang tidak bersedih hati atas apa yang luput darinya dengan kesedihan yang menggiringnya kedalam keputus-asaan, dan hendaknya jangan terlalu bergembira dengan apa yang diperolehnya yang menyebabkannya lupa karunia Allah dan tidak mensyukurinya. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Qorun :
"(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri’. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (al-Qashash : 76-77)
Maka tidaklah jawaban yang diucapkan Qarun melainkan :
“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’.” (al-Qashash : 78)
Apakah ini karunia Allah atasku ? Ini adalah hasil dari ilmu dan kemahiranku serta kepandaianku dalam mengolah, tidak ada karunia Allah atasku ;
"Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka." (al-Qashash : 78)
Ini adalah kegembiraan yang dilarang, dan kalau tidak demikian maka tidak ada seorangpun diantaran kita melainkan bersedih terhadap apa yang luput, dan bergembira dengan apa yang diperolehnya. Dan firman-Nya :
“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (al-Hadid : 23)
Dan Qarun sombong dan berbangga diri terhadap manusia dengan harta yang bukan dari usahanya, dan bukan dari hasil perbuatan tangannya.
Mereka bakhil dengan karunia Allah yang diberikan kepada mereka, dan tidak menginfakkannya dijalan Allah, dan tidak hanya bakhil saja, bahkan mereka "Menyuruh orang lain berbuat kikir", dan barangsiapa "berpaling" dari Allah dan Rasul-Nya "Maka sesungguhnya Allah adalah Maha Kaya lagi Maha Terpuji", sebagaimana firman Allah :
"Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu." (az-Zumar : 7)
Maraji':Majalah at-Tauhid

1 Comments:

Blogger Marhendra Lidiansa said...

lalu peran usaha dimana ya ketika semua yang akan terjadi ternyata telah tertulis. menurut saya hal tersebut terucap dari kaum qodariyah karena mereka sadar bahwa 4JJI sangat menghargai faktor usaha dari manusia.. atau laufuzh mahfuzh itu selalu berada berdasar kondisi kekinian dan keputusan apa yang diambil oleh manusia ? kalau begitu justru memperkuat kaum qoidariyah...

terima kasih

2:11 م

 

إرسال تعليق

<< Home