<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657</id><updated>2011-04-22T06:56:28.890+07:00</updated><title type='text'>Islam Inside</title><subtitle type='html'>Assalamu'alaikum Wr. Wb.
i just want to share knowledge to all muslim people.
This blog is for all muslim whole the world please correct me if wrong.
learn is the best. its all about Islam n i will add Computer Knowledge.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112038506363887498</id><published>2005-07-03T17:02:00.000+07:00</published><updated>2005-07-03T17:04:23.656+07:00</updated><title type='text'>Jagalah Pandanganmu</title><content type='html'>Oleh : Rahmah Al-Atsariyyah"Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa maksiat itu semuanya racun, penyebab sakit dan binasanya hati. Maka tundukkanlah pandanganmu, jangan kau umbar pada yang diharamkan, karena ini adalah kemaksiatan"Saudaraku, sesungguhnya kemaksiatan itu dapat menjadikan hatimu kotor, maka bersihkanlah hatimu dengan menjaga pandangan dan sibukkanlah dirimu untuk memperbaiki hatimu, agar terpancar dari hatimu akhlaq yang mulia dan tercapai apa yang kau rindukan yaitu manisnya iman.Allah Taala telah berfirman : "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya", yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nuur : 30-31). Abu Bakr Al-Jazairi mengenai ayat diatas berkata : "Hendaknyalah mereka menahan pandangannya sehingga tidak melihat kepada wanita yang tidak halalbaginya." Larangan ini juga berlaku bagi wanita yaitu haram memandang laki-laki yang tidak halal baginya.Pada ayat ini Allah memulai perintah-Nya dengan menahan pandangan sebelum perintah menjaga kemaluan, karena pandangan itu petunjuk bagi hati, sebagaimana demam yang tinggi petunjuk bagi kematian. Rasulullah telah memperingatkan hal ini melalui riwayat Ibnu Abbas : "Fadl bin Abbas membonceng Rasulullah pada waktu Haji Wada, maka datanglah wanita dari (bangsa) Khatsam maka mulailah Fadl melihat kepadanya dan dia (wanita itu) mulai melihat kepadanya (Fadl) dan Nabipun memalingkan muka Fadl ke arah lain" (Muttafaq alaih lafadz Bukhari).Ibnu Bathal mengatakan bahwa hadits ini mengandung perintah untuk menahan pandangan karena dikhawatirkan fitnah. Begitu pula sabda Rasulullah kepada Ali bin Abi Thalib : "Hai Ali, jangan sampai pandangan yang pertama diikuti dengan pandangan yang lain, karena pandangan yang pertama itu untukmu dan yang terakhir (berikutnya) itubukan untukmu." (dikeluarkan oleh AL-Hakim dan Ahmad dari jalan Hamid bin Salamah, berkata Al-Albany : Hadits hasan). Dari Abu Said AL-Khudri berkata : Rasulullah bersabda : "Jauhilah duduk-duduk di jalan !" Mereka (para sahabat) berkata, Ya Rasulullah, kami terpaksa perlu tempat duduk untuk berbincang-bincang. Maka Nabi bersabda :"Jika kalian enggan, maka berilah (jalan itu) haknya." Mereka berkata, Apa hak jalan itu ? Beliau bersabda : "Menundukkan pandangan, menahan sesuatu yang menyakitkan (tidak mengganggu orang yang sedang lewat), membalas salam dan memerintahkan kepada yang maruf dan mencegah dari kemungkaran." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud).Saudaraku, demikianlah peringatan Allah dan Rasul-Nya yang wajib kita kita yakini dan amalkan, karena barangsiapa yang berani melawan perintah Allah dan Rasul-Nya, nerakalah tempatnya, sebagaimana firmannya : "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." (QS. Al-Jin : 23). Sudah jelas bagi kita bahwa Allah dan Rasul-Nya melarang kita untuk mengumbar pandangan. Saudaraku, segala peristiwa dan petaka itu bermula dari pandangan, maka jaga dan hati-hatilah.Ibnul Qayyim telah menuturkan bahwa secara umum segala kejadian yang menimpa manusia bersumber dari pandangan, karena pandangan itu melahirkan bahaya, kemudian bahaya itu melahirkan pikiran, pikiran melahirkan syahwat, kemudian syahwat itu melahirkan keinginan, kemudian semakin kuat dan terjadilah perbuatan dan pasti tidak akan ada penahan yang dapat membendungnya.Karena itu dikatakan : Bersabar untuk menahan pandangan itu lebih mudah daripada sabar atas sakit yang terjadi sesudahnya. Beliau juga menerangkan bahwa diantara bahaya pandangan adalah kerugian, keluhan dan percikan api. Saudaraku, hendaklah kita takut kepada Allah, karena Dia Maha Meliputi segala sesuatu. Dia-pun mengetahui kerdipan mata yang berkhianat dan bisikan hati. Allah telah berfirman : "Dia mengetahui khianatnya mata dan apa yang tersembunyi dalam hati." (QS. Ghafir : 19).Saudaraku, hanyalah pandangan yang diizinkan yaitu pandangan kepada yang halal, memandang mahram dan pandangan (nadhar) seorang laki-laki kepada wanita yang hendak dipinangnya, sebagaimana dalam hadits dari Jabir,Rasulullah bersabda : "Apabila seorang daripada kamu meminang seorang wanita, maka kalau ia dapat melihat kepada apa yang menarik untuk menikahinya, hendaklah ia lakukan." (HR. Ahmad).Begitu pula sebuah hadits dari Abu Hurairah behwasannya Rasulullah telah berkata kepada laki-laki yang hendak menikahi seorang wanita : "Sudah engkau lihat dia ?" Lelaki itu menjawab : Belum. Sabda beliau : "Pergi dan lihatlah !" (HR. Muslim). Saudariku, mengumbar pandangan kepada yang diharamkan Allah adalah kemaksiatan yang harus kita jauhi. Ibnu Qayyim menasehatkan bahwa kemaksiatan yang satu dapat melahirkan kemaksiatan yang lain, dan kemaksiatan itu bisa melemahkan dan menutup/menggelapkan hati, serta dapat merusak akal.Semoga Allah menjaga kita dari segala perbuatan maksiat. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112038506363887498?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112038506363887498/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112038506363887498' title='6 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112038506363887498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112038506363887498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/jagalah-pandanganmu.html' title='Jagalah Pandanganmu'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112037511646318014</id><published>2005-07-03T14:15:00.000+07:00</published><updated>2005-07-03T14:18:36.466+07:00</updated><title type='text'>DAYA RUSAK SEBUAH HADITS PALSU</title><content type='html'>Berkata sebagian kaum Muslimin : "Biarkanlah keragaman pendapat yang ada di tubuh kaum Muslimin tentang agama mereka tumbuh subur dan berkembang, asalkan setiap perselisihan dibawa ketempat yang sejuk." Alasan mereka didasarkan pada sebuah hadits yang selalu mereka ulang-ulang dalam setiap kesempatan, yaitu hadits: "Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat" Benarkah ungkapan ini? benarkah Rasulullah mengucapkan hadits tersebut?&lt;br /&gt;Apa kata Muhadditsin tentang hadits tersebut??&lt;br /&gt;Syaikh Al-Albani rahimahulah berkata: "Hadits tersebut tidak ada asalnya". [Adh-Dha’ifah :II \ 76-85]&lt;br /&gt;Imam As-Subki berkata: "Hadits ini tidak dikenal oleh ahli hadits dan saya belum mendapatkannya baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun maudhu (palsu)."&lt;br /&gt;Syaikh Ali-hasan Al-Halaby Al-Atsari berkata: "ini adalah hadits bathil dan kebohongan." [Ushul Al-Bida’]&lt;br /&gt;Dan dari sisi makna hadits ini disalahkan oleh para ulama.&lt;br /&gt;Al-‘Alamah Ibnu Hazm berkata dalam Al-Ahkam Fii Ushuli Ahkam (5/64) setelah menjelaskan bahwa ini bukan hadits: "Dan ini adalah perkataan yang paling rusak, sebab jika perselisihan itu adalah rahmat, maka berarti persatuan adalah adzhab. Ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim, karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan, rahmat dan adzhab."&lt;br /&gt;Bagaimanakah daya rusak hadits palsu tersebut terhadap Islam ??&lt;br /&gt;1. Mengekalkan perpecahan dalam Islam&lt;br /&gt;Tidak ragu lagi bahwa hadits tersebut adalah tikaman para pembawanya bagi persatuan Islam yang haqiqi. Ketika para pembawa panji-panji sunnah menyeru umat kepada persatuan Aqidah dan Manhaj (jalan/metode) yang shahih. Tiba-tiba muncul orang-orang yang mengaku mengajak kepada persatuan Islam dengan berkata: "Biarkanlah kaum muslimin dengan keyakinannya masing-masing , biarkanlah kaum muslimin dengan metodenya masing-masing dalam berjalan menuju Allah, janganlah memaksakan perselisihan yang ada harus seragam dengan keyakinan dan pola pikir orang-orang arab padang pasir 15 abad yang lalu. Karena Rasulullah shallallahu’alihi wasallam bersabda: " perselisihan pendapat pada umatku adalah rahmat."&lt;br /&gt;Allahu Akbar…!! Alangkah kejinya ungkapan tersebut dan banyak lagi perkataan yang semisalnya yang mengakibatkan kaum muslimin abadi di dalam aqidah dan manhaj yang berbeda. Padahal ayat-ayat dalam Al-Qur’an melarang berselisih pendapat dalam urusan agama dan menyuruh bersatu. Seperti Firman Allah dalam:&lt;br /&gt;Ø Surat Al-Anfal ayat 46 yang artinya; "Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu."&lt;br /&gt;Ø Surat Ar-Rum ayat 31-32: " Jangan kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka."&lt;br /&gt;Ø Surat Hud ayat: 118-119: " Mereka terus-menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu."&lt;br /&gt;Dan kita diperintah Allah Subhanahuwata’ala untuk bersatu dalam Aqidah dan manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana Firman Allah Subhhanahu wata’ala dalam surat Al-An’am ayat: 153 yang artinya: "Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa." Dan kita diperintahkan Allah untuk merujuk bersama kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika terjadi perselisihan, bukannya membiarkan perselisihan aqidah dan hal-hal yang pokok dalam agama meradang di tengah ummat dengan dalih sepotong hadist palsu. Firman-Nya dalan surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: " Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya."&lt;br /&gt;2. Kaum muslimin tidak lagi menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagi sandaran kebenaran dan hakim&lt;br /&gt;Syaikh Al-Albani berkata: "Diantara dampak buruk hadits ini adalah banyak kaum muslimin yang mengakui terjadinya perselisihan sengit yang terjadi diantara 4 madzab dan tidak pernah sama sekali berupaya untuk mengembalikannya kepada Al-Qu’an dan Al-Hadits." [Adh-Dha’ifah: I/76]&lt;br /&gt;Allah berfirman menceritakan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam ketika mengadu kepada-Nya: "Berkatalah rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan." [QS. Al-Furqan:30]. Sungguh hal itu terulang kembali di zaman ini dikarenakan hadist palsu yang menggerogoti ummat.&lt;br /&gt;3. Umat islam tidak lagi menjadi umat terbaik yang jaya di atas umat yang lainnya.&lt;br /&gt;ini dikarenakan hadits palsu tersebut menjadi dinding bagi seorang muslim untuk beramar ma’ruf nahi mungkar, seorang muslim tidak lagi menegur saudaranya yang berbuat salah dalam syirik, kekufuran, dan bid’ah serta maksiat disebabkan meyakini hadits palsu tersebut. Karena mereka menganggap semua itu sebagai suatu perbedaan yang hakikatnya adalah rahmat, sehingga tidak perlu untuk ber-nahi mungkar. Akibatnya, predikat ummat terbaik tidak lagi disandang oleh umat islam, karena telah meninggalkan syaratnya yakni Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali-’Imran ayat:110 yang artinya: "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.&lt;br /&gt;4. Ancaman dan kecaman yang keras dari Nabi, karena berkata dengan mengatasnamakan Rasulullah secara dusta.&lt;br /&gt; Rasulullah bersabda : "Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia siapkan tempat duduknya dari api neraka" [Riwayat Bukhari-Muslim]. Hendaklah takut orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta atas nama Rasulullah, demikian pula orang-orang yang menyebarkan dan mendongengkan kisah-kisah palsu dan lemah yang hanya muncul dari prasangka belaka yang padahal prasangka itu adalah seburuk-buruk perkataan.&lt;br /&gt;5. Meninggalkan perintah Allah&lt;br /&gt;Ini adalah efek lanjutan dari hadist palsu tesebut, karena ketika seseorang mentolelir perselisihan aqidah, halal dan haram, serta segala sesuatu yang telah tegas digariskan oleh dua wahyu, maka di saat yang sama ia telah meninggalkan perintah Allah untuk menuntaskan setiap perselisihan kepada Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Sebagaimana Allah berfiman : "Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya" [An-Nisa:59]&lt;br /&gt;6. Melemahkan kekuatan kaum Muslimin serta membuka jalan bagi orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam dari dalam&lt;br /&gt;Syaikh Ali Hasan dalam kitabnya "ushul bida" mengisyaratkan dampak buruk hadist tersebut yang dapat melemahkan kaum muslimin dan menjatuhkan kewibawaannya, karena jelas-jelas hadist palsu tersebut menebarkan benih-benih perpecahan di tubuh kaum Muslimin, sedangkan Allah berfirman :"Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu." [Al-Anfal: 46]&lt;br /&gt;. . . . kepada mereka ! ! ! Tukang mengada-ada&lt;br /&gt;Simaklah firman Allah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :&lt;br /&gt;"Seandainya dia [Muhammad] mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami [Allah], niscaya benar-benar Kami pegang ia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya"[QS. Al-Haqqah : 44 - 46]&lt;br /&gt;Mereka. . .!!!&lt;br /&gt;Tukang mengada-ada atas nama Allah dan Rasul-Nya.Para pembuat hadist palsu yang telah mendahului Allah dalam Syari’at.Para penebar hadist-hadist dusta yang telah mengotori Sunnah yang suci.&lt;br /&gt;Tidakkah mereka takut akan ayat di atas ? ?&lt;br /&gt;Mereka bukan Rasul sebagaimana Allah telah mengangkat Muhammad sebagai Rasul. Mereka bukan kekasih Allah sebagaimana Ia telah menjadikan Muhammad sebagai kekasih-Nya. Bukan pula mereka orang-orang yang disucikan oleh Allah sebagaimana Allah telah mensucikan Muhammad dari dosa.&lt;br /&gt;Sungguh Allah telah mengancam keras Kekasih-Nya dalam ayat tersebut dengan berfirman: "Kami potongan tali urat jantungnya"&lt;br /&gt;Lalu apakah MEREKA merasa aman ???&lt;br /&gt;Al-Hafidz Abul Khathab bin Dihyah berkata : "Jagalah dirimu wahai hamba-hamba Allah dari kebohongan orang yang meriwayatkan kepadamu hadist yang dikemukakan untuk memaparakn kebaikan. Sebab melakukan kebaikan harus berdasarkan syari’at dari Rasululah Shallallahu’alaihi wa sallam. Jika ternyata dia bohong maka dia keluar dari yang disyari’atkan dan berkhidmat kepada Syaithan karena dia menggunakan hadist atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berdasarkan keterangan dari Allah." [Ma jaa fi Syahri Sya’ban, dinukil darinya oleh Abu Syamah dalam "Al-Baits :127"]&lt;br /&gt;Maraji’:Ushul bida’ [Syaikh Ali Hasan Ali Abdul hamid]Sifatush shalaty An-Naby Shallallahu’alaihi wa sallam [Syaikh Muhammad Nasyaruddin Al-Albani] dan sumber-sumber lainnya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112037511646318014?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112037511646318014/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112037511646318014' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112037511646318014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112037511646318014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/daya-rusak-sebuah-hadits-palsu.html' title='DAYA RUSAK SEBUAH HADITS PALSU'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112037440537829558</id><published>2005-07-03T14:00:00.000+07:00</published><updated>2005-07-03T14:06:45.383+07:00</updated><title type='text'>Bodoh,...Penyakit yang Membinasakan</title><content type='html'>Bodoh adalah salah satu penyakit hati yang sangat membahayakan dan sangat mengerikan akibatnya. Akan tetapi sering dan mayoritas penderitanya tidak merasa kalau dirinya sedang terjangkit penyakit berbahaya ini. Dan karena penyakit bodoh inilah muncul penyakit-penyakit hati yang lain seperti iri, dengki, riya, sombong, ujub (membanggakan diri) dan lainnya. Karena kebodohan ini adalah sumber segala penyakit hati dan sumber segala kejahatan. Kebodohan ini penyakit hati yang berbahaya lebih dahsyat dibanding penyakit badan. Karena puncak dari penyakit badan berakhir dengan kematian, adapun penyakit hati akan mengantarkan penderitanya kepada kesengsaraan dan kebinasaan yang kekal. Manusia yang terkena penyakit ini hidupnya hina dan sengsara di dunia maupun di akherat Allah Taala banyak menyebutkan dalam Al-Quran tentang tercelanya dan hinanya serta balasan dan akibat bagi orang-orang yang bodoh yang tidak mau tahu tentang ilmu agama di dunia dan akherat. Diantaranya Allah menyatakan dalam surat Al-Furqon: 44 "Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar dan memahami ?. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat jalannya".Di dalam ayat ini, Allah Taala menyerupakan orang-orang bodoh yang tidak mau tahu ilmu agama seperi binatang ternak bahkan lebih sesat dan jelek. Di dalam surat Al-Anfal : 22. Allah juga menyatakan: "Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling jelek di sisi Allah adalah orang yang bisu dan tuli yang tidak mau mengerti apapun (tidak mau mendengar dan memahami kebenaran)".Dalam ayat ini Allah memberitakan bahwa orang-orang bodoh yang tidak mau memahami kebenaran adalah binatang yang paling jelek diantara seluruh binatang-binatang melata seperti keledai, binatang buas, serangga, anjing dan seluruh binatang yang lain. Maka orang-orang bodoh yang tidak mau kebenaran lebih jahat dan lebih jelek dari seluruh binatang.Kemudian Allah Taala juga menyatakan bahwa orang-orang yang bodoh seperti orang-orang yang buta yang tidak bisa melihat sebagaimana dalam surat Ar Rodu : 19. Allah berfirman: "Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sama dengan orang yang buta ?"Dan sungguh Allah Taala banyak mensifati orang-orang yang jahil itu dengan bisu, buta dan tuli.Kemudian keberadaan orang-orang yang jahil terhadap dakwahnya para rosul sejak rosul yang pertama sampai rosul yang terakhir, mereka adalah musuh yang paling berbahaya bahkan musuh para rosul yang sebenarnya. Hingga Musa alaihissalam berlindung kepada Allah agar tidak menjadi orang yang jahil, sebagaimana dalam surat Al-Baqoroh: 67 "Aku berlindung kepada Alloh agar tidak menjadi orang yang jahil".Dan Allah juga memerintahkan kepada nabinya shollallaahu alaihi wassalam untuk berpaling dari orang yang jahil "Dan berpalinglah engkau dari orang-orang yang jahil !"Kemudian Allah Taala juga menyerupakan orang jahil yang tidak menerima dakwah rasul seperti orang yang mati dan telah terkubur, walau jasad mereka hidup. Karena dakwah rasul itu ilmu dan iman. Ilmu dan iman inilah yang menjadikan hati itu hidup, kalau ilmu dan iman tidak terdapat di hati orang maka orang itu menjadi bodoh. Dan orang yang bodoh matilah hatinya.Akibat dari kebodohan inilah maka kehidupan dia di dunia seperti orang buta tidak bisa melihat kebenaran. Siapa yang tidak mengerti kebenaran maka dia sesat dan menjalani hidup ini tanpa arah.Orang yang buta mata hatinya akibat kebodohannya, nanti akan dibangkitkan dalam keadaan buta. Dan tempatnya adalah neraka jahannam. Sebagaimana firman Allah Taala dalam surat Al-Isra: 72 dan 97"Barang siapa di dunia ini buta mata hatinya maka dia di akherat lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar" "Dan kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat diseret atas muka mereka di seret dalam keadaan buta, bisu dan pekak, tempat kediaman mereka adalah neraka jahanam."Demikianlah akibat dan balasan bagi orang-orang yang bodoh yang tidak mau tahu ilmu agama ini. Karena memang demikianlah keadaan mereka di dunia. Dan manusia dibangkitkan sesuai dengan keadaan hatinya. Kebodohan juga salah satu sifat dari sifat-sifat penduduk neraka sebagaimana Allah menyatakan dalam surat Al-Araf: 179"Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka punya hati tapi tidak digunakan untuk melihat dan mereka punya telinga tapi tapi tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."Dalam ayat ini Allah Taala mengabarkan tentang sifat-sifat penduduk neraka jahanam yaitu orang-orang yang tidak memperoleh ilmu karena tidak mau menggunakan sarana-sarana untuk mendapatkan ilmu yaitu: akal, pendengaran, dan pengelihatan sehingga mereka menjadi orang-orang yang bodoh. Ini semua adalah menunjukkan tentang jeleknya kebodohan itu dan tercelanya, orang yang jahil di dunia dan di akherat. Betapa bahayanya dan mengerikannya kalau kebodohan itu menimpa seseorang, dia akan menerima akibatnya yang membinasakannya. Padahal kalau kita melihat keadaan kaum muslimin sekarang ini yang ada di sekitar kita, sungguh mereka telah dilanda penyakit yang mengerikan ini. Kalau kita tahu sedikit saja tentang agama ini dan berusaha untuk mengamalkan maka kita akan tahu kenyataan yang menyedihkan, kebodohan telah merata baik secara individu, keluarga, masyarakat dan negara. Namun mereka tidak merasa kalau mereka sedang dijangkit penyakit berbahaya yang akan membinasakan dirinya. Mereka tertawa dan terlena dengan kegemilangan dunia, tidak sadar kalau mereka di atas kesesatan bahkan di dalam kekafiran, kebidahan dan kemaksiatan. Namun karena kebodohan, mereka tidak merasa, bahkan merasa di atas kebenaran dan ketaatan. Tatkala disampaikan Al-haq, mereka merasa resah dan tertuduh sesat. Kenyataan ini melanda mayoritas kaum muslim, orang mudanya, orang tuanya, rakyatnya dan pimpinannya. Sungguh menyedihkan kenyataan ini.Maka bagaimana kalau hal ini terus berlarut-larut dibiarkan ?Semoga tulisan singkat ini menjadikan peringatan bagi kita semua, sehingga kita semua tersadar untuk merubah keadaan yang berbahaya dan mengerikan ini untuk kemudian untuk meraih kehidupan yang diridloi oleh Allah Taala yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, di dunia maupun di akherat. Dan keadaan seperti ini tidak akan ada jalan lain untuk merubahnya kecuali dengan bekal ilmu yang bermanfaat. Karena kebodohan adalah penyakit hati yang tidak ada obatnya kecuali dengan ilmu. Sebagaimana sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam :" Tidak lain obatnya kebodohan selain bertanya" (HR. Ibnu Majjah, Ahmad dan yang lainnya).&lt;br /&gt;Oleh karena inilah Allah menamakan Al-Quran sebagai obat bagi segala penyakit hati. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Yunus: 57" Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman".Karena inilah kedudukan ulama seperti dokter, yakni dokter hati. Maka butuhnya hati terhadap ilmu seperti butuhnya nafas terhadap udara bahkan lebih besar.Ilmu itu bagi hati laksan air bagi ikan, apabila hilang air maka matilah ikan.Jadi kedudukan ilmu bagi hati laksana cahaya bagi mata, laksana mendengarnya telinga terhadap ucapan lisan, apabila semua ini hilang maka hati itu laksana mata yang buta, telinga yang tuli dan lisan yang bisu.wallahu taala alam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112037440537829558?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112037440537829558/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112037440537829558' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112037440537829558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112037440537829558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/bodohpenyakit-yang-membinasakan.html' title='Bodoh,...Penyakit yang Membinasakan'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112037400785409933</id><published>2005-07-03T13:53:00.000+07:00</published><updated>2005-07-03T14:00:07.860+07:00</updated><title type='text'>Bagaiamana menghapal Al-Quran Al-Kariim?</title><content type='html'>Oleh : Ummu Abdillah &amp; Ummu MaryamSebagai seorang mukmin, kita tentunya berkeinginan untuk dapat menghafal Al-Quran dan setiap kita pasti memimpikan agar dapat melahirkan anak-anak yang hafal Al-Quran (hafidz/hafidzah).&lt;br /&gt;Berikut ini ada beberapa cara/kaidah dasar untuk memudahkan menghafal, di antaranya:&lt;br /&gt;1. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah Azza wa Jalla.Memperbaiki tujuan dan bersungguh-sungguh menghafal Al-Quran hanya karena Allah Subhanahu wa Ta`ala serta untuk mendapatkan syurga dan keridhaan-Nya. Tidak ada pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Quran dan menghafalnya karena tujuan keduniaan, karena riya atau sumah (ingin didengar orang), dan perbuatan seperti ini jelas menjerumuskan pelakunya kepada dosa.&lt;br /&gt;2. Dorongan dari diri sendiri, bukan karena terpaksa.Ini adalah asas bagi setiap orang yang berusaha untuk menghafal Al-Quran. Sesungguhnya siapa yang mencari kelezatan dan kebahagiaan ketika membaca Al-Quran maka dia akan mendapatkannya.&lt;br /&gt;3. Membenarkan ucapan dan bacaan.Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendengarkan dari orang yang baik bacaan Al-Qurannya atau dari orang yang hafal Al-Quran. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sendiri mengambil/belajar Al-Quran dari Jibril alaihis salam secara lisan. Setahun sekali pada bulan Ramadhan secara rutin Jibril alaihis salam menemui beliau untuk murajaah hafalan beliau. Pada tahun Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam diwafatkan, Jibril menemui beliau sampai dua kali. Para shahabat radliallahu `anhum juga belajar Al-Quran dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam secara lisan demikian pula generasi-generasi terbaik setelah mereka. Pada masa sekarang dapat dibantu dengan mendengarkan kaset-kaset murattal yang dibaca oleh qari yang baik dan bagus bacaannya. Wajib bagi penghafal Al-Quran untuk tidak menyandarkan kepada dirinya sendiri dalam hal bacaan Al-Quran dan tajwidnya.&lt;br /&gt;4. Membuat target hafalan setiap hari.Misalnya menargetkan sepuluh ayat setiap hari atau satu halaman, satu hizb, seperempat hizb atau bisa ditambah/dikurangi dari target tersebut sesuai dengan kemampuan. Yang jelas target yang telah ditetapkan sebisa mungkin untuk dipenuhi.&lt;br /&gt;5. Membaguskan hafalan.Tidak boleh beralih hafalan sebelum mendapat hafalan yang sempurna. Hal ini dimaksudkan untuk memantapkan hafalan di hati. Dan yang demikian dapat dibantu dengan mempraktekkannya dalam setiap kesibukan sepanjang siang dan malam.&lt;br /&gt;6. Menghafal dengan satu mushaf.Hal ini dikarenakan manusia dapat menghafal dengan melihat sebagaimana bisa menghafal dengan mendengar. Dengan membaca/melihat akan terbekas dalam hati bentuk-bentuk ayat dan tempat-tempatnya dalam mushaf.Bila orang yang menghafal Al-Quran itu merubah/mengganti mushaf yang biasa ia menghafal dengannya maka hafalannya pun akan berbeda-beda pula dan ini akan mempersulit dirinya.&lt;br /&gt;7. Memahami adalah salah satu jalan untuk menghafal.Di antara hal-hal yang paling besar/dominan yang dapat membantu untuk menghafal Al-Quran adalah dengan memahami ayat-ayat yang dihafalkan dan juga mengenal segi-segi keterkaitan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya. Oleh sebab itu seharusnyalah bagi penghafal Al-Quran untuk membaca tafsir dari ayat-ayat yang dihafalnya, untuk mendapatkan keterangan tentang kata-kata yang asing atau untuk mengetahui sebab turunnya ayat atau memahami makna yang sulit atau untuk mengenal hukum yang khusus. Ada beberapa kitab tafsir yang ringkas yang dapat ditelaah oleh pemula seperti kitab Zubdatut Tafsir oleh Asy-Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar. Setelah memiliki kemampuan yang cukup, untuk meluaskan pemahaman dapat menelaah kitab-kitab tafsir yang berisi penjelasan yang panjang seperti Tafsir Ibnu Katsier, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir As-Sadi dan Adhwaaul Bayaan oleh Asy-Syanqithi.wajib pula menghadirkan hatinya pada saat membaca Al-Quran.&lt;br /&gt;8. Tidak pindah ke surat lain sebelum hafal benar surat yang sedang dihafalkan.Setelah sempurna satu surat dihafalkan, tidak sepantasnya berpindah ke surat lain kecuali setelah benar-benar sempurna hafalannya dan telah kokoh dalam dada.&lt;br /&gt;9. Selalu memperdengarkan hafalan (disimak oleh orang lain).Orang yang menghafal Al-Quran tidak sepantasnya menyandarkan hafalannya kepada dirinya sendiri. Tetapi wajib atasnya untuk memperdengarkan kepada seorang hafidz atau mencocokkannya dengan mushaf. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan kesalahan dalam ucapan, atau syakal ataupun lupa. Banyak sekali orang yang menghafal dengan hanya bersandar pada dirinya sendiri, sehingga terkadang ada yang salah/keliru dalam hafalannya tetapi tidak ada yang memperingatkan kesalahan tersebut.&lt;br /&gt;10. Selalu menjaga hafalan dengan murajaah.Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam :"Jagalah benar-benar Al-Quran ini, demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, Al-Quran lebih cepat terlepas daripada onta yang terikat dari ikatannya." Maka seorang yang menghafal Al-Quran bila membiarkan hafalannya sebentar saja niscaya ia akan terlupakan. Oleh karena itu hendak hafalan Al-Quran terus diulang setiap harinya. Bila ternyata hafalan yang ada hilang dalam dada tidak sepantasnya mengatakan: "Aku lupa ayat (surat) ini atau ayat (surat) itu." Akan tetapi hendaklah mengatakan: "Aku dilupakan," karena Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah bersabda: (..arab..)&lt;br /&gt;11. Bersungguh-sungguh dan memperhatikan ayat yang serupa.Khususnya yang serupa/hampir serupa dalam lafadz, maka wajib untuk memperhatikannya agar dapat hafal dengan baik dan tidak tercampur dengan surat lain.&lt;br /&gt;12. Mencatat ayat-ayat yang dibaca/dihafal.Ada baiknya penghafal Al-Quran menulis ayat-ayat yang sedang dibaca/dihafalkannya, sehingga hafalannya tidak hanya di dada dan di lisan tetapi ia juga dapat menuliskannya dalam bentuk tulisan.Berapa banyak penghafal Al-Quran yang dijumpai, mereka terkadang hafal satu atau beberapa surat dari Al-Quran tetapi giliran diminta untuk menuliskan hafalan tersebut mereka tidak bisa atau banyak kesalahan dalam penulisannya.&lt;br /&gt;13. Memperhatikan usia yang baik untuk menghafal.Usia yang baik untuk menghafal kira-kira dari umur 5 tahun sampai 25 tahun. Wallahu alam dalam batasan usia tersebut. Namun yang jelas menghafal di usia muda adalah lebih mudah dan lebih baik daripada menghafal di usia tua.&lt;br /&gt;Pepatah mengatakan: Menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, menghafal di waktu tua seperti mengukir di atas air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAL-HAL YANG DAPAT MENGHALANGI HAFALANSetelah kita mengetahui beberapa kaidah dasar untuk menghafal Al-Quran maka sudah sepantasnya bagi kita untuk mengetahui beberapa hal yang menghalangi dan menyulitkan hafalan agar kita dapat waspada dari penghalang-penghalang tersebut.&lt;br /&gt;Di antaranya:&lt;br /&gt;1. Banyaknya dosa dan maksiat.Sesungguhnya dosa dan maksiat akan melupakan hamba terhadap Al-Quran dan terhadap dirinya sendiri. Hatinya akan buta dari dzikrullah.&lt;br /&gt;2. Tidak adanya upaya untuk menjaga hafalan dan mengulangnya secara terus-menerus. Tidak mau memperdengarkan (meminta orang lain untuk menyimak) dari apa-apa yang dihafal dari Al-Quran kepada orang lain.&lt;br /&gt;3. Perhatian yang berlebihan terhadap urusan dunia yang menjadikan hatinya tergantung dengannya dan selanjutnya tidak mampu untuk menghafal dengan mudah.&lt;br /&gt;4. Berambisi menghafal ayat-ayat yang banyak dalam waktu yang singkat dan pindah ke hafalan lain sebelum kokohnya hafalan yang lama.Kita mohon pada Allah Subhanahu wa Ta`ala semoga Dia mengkaruniakan dan memudahkan kita untuk menghafal kitab-Nya, mengamalkannya serta dapat membacanya di tengah malam dan di tepi siang. Wallahu alam bishawwab.&lt;br /&gt;(Ummu Abdillah &amp;amp; Ummu Maryam, dinukil dari kutaib: "Kaifa Tataatstsar bil Quran wa Kaifa Tahfadzuhu?" oleh Abi Abdirrahman)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112037400785409933?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112037400785409933/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112037400785409933' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112037400785409933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112037400785409933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/bagaiamana-menghapal-al-quran-al.html' title='Bagaiamana menghapal Al-Quran Al-Kariim?'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112037331316249754</id><published>2005-07-03T13:32:00.000+07:00</published><updated>2005-07-03T13:48:33.173+07:00</updated><title type='text'>74 Wasiyat Untuk Para Pemuda</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah yang berfirman:“Dan sungguh Kami telah memerintahkan orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.” (An-Nisa’: 131)&lt;br /&gt;Serta shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad yang bersabda:“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah , serta agar kalian mendengar dan patuh.”Dan takwa kepada Allah adalah mentaati-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Wa ba’du:&lt;br /&gt;Berikut ini adalah wasiat islami yang berharga dalam berbagai aspek seperti ibadah, muamalah, akhlak, adab dan yang lainnya dari sendi-sendi kehidupan.&lt;br /&gt;Kami persembahkan wasiat ini sebagai peringatan kepada para pemuda muslim yang senantiasa bersemangat mencari apa yang bermanfaat baginya, dan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan hal ini bermanfaat bagi orang yang membacanya ataupun mendengarkannya.&lt;br /&gt;Dan agar memberikan pahala yang besar bagi penyusunnya, penulisnya, yang menyebarkannya ataupun yang mengamalkannya. Cukuplah bagi kita Allah sebaik-baik tempat bergantung.&lt;br /&gt;1. Ikhlaskanlah niat kepada Allah dan hati-hatilah dari riya’ baik dalam perkataan ataupun perbuatan.&lt;br /&gt;2. Ikutilah sunnah Nabi dalam semua perkataan, perbuatan, dan akhlak.&lt;br /&gt;3. Bertaqwalah kepada Allah dan ber’azamlah untuk melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.&lt;br /&gt;4. Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nashuha dan perbanyaklah istighfar.&lt;br /&gt;5. Ingatlah bahwa Allah senatiasa mengawasi gerak-gerikmu. Dan ketahuilah bahwa Allah melihatmu, mendengarmu dan mengetahui apa yang terbersit di hatimu.&lt;br /&gt;6. Berimanlah kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir serta qadar yang baik ataupun yang buruk.&lt;br /&gt;7. Janganlah engkau taqlid (mengekor) kepada orang lain dengan buta (tanpa memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk serta mana yang sesuai dengan sunnah/syari’at dan mana yang tidak). Dan janganlah engkau termasuk orang yang tidak punya pendirian.&lt;br /&gt;8. Jadilah engkau sebagai orang pertama dalam mengamalkan kebaikan karena engkau akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikuti/mencontohmu dalam mengamalkannya.&lt;br /&gt;9. Peganglah kitab Riyadlush Shalihin, bacalah olehmu dan bacakan pula kepada keluargamu, demikian juga kitab Zaadul Ma’ad oleh Ibnul Qayyim.&lt;br /&gt;10. Jagalah selalu wudlu’mu dan perbaharuilah. Dan jadilah engkau senantiasa dalam keadaan suci dari hadats dan najis.&lt;br /&gt;11. Jagalah selalu shalat di awal waktu dan berjamaah di masjid terlebih lagi sahalat ‘Isya dan Fajr (shubuh).&lt;br /&gt;12. Janganlah memakan makanan yang mempunyai bau yang tidak enak seperti bawang putih dan bawang merah. Dan janganlah merokok agar tidak membahayakan dirimu dan kaum muslimin.&lt;br /&gt;13. Jagalah selalu shalat berjamaah agar engkau mendapat kemenangan dengan pahala yang ada pada shalat berjamaah tersebut.&lt;br /&gt;14. Tunaikanlah zakat yang telah diwajibkan dan janganlah engkau bakhil kepada orang-orang yang berhak menerimanya.&lt;br /&gt;15. Bersegeralah berangkat untuk shalat Jumat dan janganlah berlambat-lambat sampai setelah adzan kedua karena engkau akan berdosa.&lt;br /&gt;16. Puasalah di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah agar Allah mengampuni dosa-dosamu baik yang telah lalu ataupun yang akan datang.&lt;br /&gt;17. Hati-hatilah dari berbuka di siang hari di bulan Ramadhan tanpa udzur syar’i sebab engkau akan berdosa karenanya.&lt;br /&gt;18. Tegakkanlah shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan terlebih-lebih pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah agar engkau mendapatkan ampunan atas dosa-dosamu yang telah lalu.&lt;br /&gt;19. Bersegeralah untuk haji dan umrah ke Baitullah Al-Haram jika engkau termasuk orang yang mampu dan janganlah menunda-nunda.&lt;br /&gt;20. Bacalah Al-Qur’an dengan mentadaburi maknanya. Laksanakanlah perintahnya dan jauhi larangannya agar Al-Qur’an itu menjadi hujjah bagimu di sisi rabmu dan menjadi penolongmu di hari qiyamat.&lt;br /&gt;21. Senantiasalah memperbanyak dzikir kepada Allah baik perlahan-lahan ataupun dikeraskan, apakah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring. Dan hati-hatilah engkau dari kelalaian.&lt;br /&gt;22. Hadirilah majelis-majelis dzikir karena majelis dzikir termasuk taman surga.&lt;br /&gt;23. Tundukkan pandanganmu dari aurat dan hal-hal yang diharamkan dan hati-hatilah engkau dari mengumbar pandangan, karena pandangan itu merupakan anak panah beracun dari anak panah Iblis.&lt;br /&gt;24. Janganlah engkau panjangkan pakaianmu melebihi mata kaki dan janganlah engkau berjalan dengan kesombongan/keangkuhan.&lt;br /&gt;25. Janganlah engkau memakai pakaian sutra dan emas karena keduanya diharamkan bagi laki-laki.&lt;br /&gt;26. Janganlah engkau menyeruapai wanita dan janganlah engkau biarkan wanita-wanitamu menyerupai laki-laki.&lt;br /&gt;27. Biarkanlah janggutmu karena Rasulullah: “Cukurlah kumis dan panjangkanlah janggut.” (HR. Bukhari Dan Muslim)&lt;br /&gt;28. Janganlah engkau makan kecuali yang halal dan janganlah engkau minum kecuali yang halal agar doamu diijabah.&lt;br /&gt;29. Ucapkanlah "bismillah" ketika engkau hendak makan dan minum dan ucapkanlah "alhamdulillah" apabila engkau telah selesai.&lt;br /&gt;30. Makanlah dengan tangan kanan, minumlah dengan tangan kanan, ambillah dengan tangan kanan dan berilah dengan tangan kanan.&lt;br /&gt;31. Hati-hatilah dari berbuat kezhaliman karena kezhaliman itu merupakan kegelapan di hari kiamat.&lt;br /&gt;32. Janganlah engkau bergaul kecuali dengan orang mukmin dan janganlah dia memakan makananmu kecuali engkau dalam keadaan bertaqwa (dengan ridla dan memilihkan makanan yang halal untuknya).&lt;br /&gt;33. Hati-hatilah dari suap-menyuap (kolusi), baik itu memberi suap, menerima suap ataupun perantaranya, karena pelakunya terlaknat.&lt;br /&gt;34. Janganlah engkau mencari keridlaan manusia dengan kemurkaan Allah karena Allah akan murka kepadamu.&lt;br /&gt;35. Ta’atilah pemerintah dalam semua perintah yang sesuai dengan syari’at dan doakanlah kebaikan untuk mereka.&lt;br /&gt;36. Hati-hatilah dari bersaksi palsu dan menyembunyikan persaksian.“Barangsiapa yang menyembunyikan persaksiannya maka hatinya berdosa. Dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Baqarah: 283)&lt;br /&gt;37. “Dan ber amar ma’ruf nahi munkarlah serta shabarlah dengan apa yang menimpamu.” (Luqman: 17)Ma’ruf adalah apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya , dan munkar adalah apa-apa yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya.&lt;br /&gt;38. Tinggalkanlah semua hal yang diharamkan baik yang kecil ataupun yang besar dan janganlah engkau bermaksiat kepada Allah dan janganlah membantu seorangpun dalam bermaksiat kepada-Nya.&lt;br /&gt;39. Janganlah engkau dekati zina. Allah berfirman: “Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah kekejian dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra’:32)&lt;br /&gt;40. Wajib bagimu berbakti kepada orang tua dan hati-hatilah dari mendurhakainya.&lt;br /&gt;41. Wajib bagimu untuk silaturahim dan hati-hatilah dari memutuskan hubungan silaturahim.&lt;br /&gt;42. Berbuat baiklah kepada tetanggamu dan janganlah menyakitinya. Dan apabila dia menyakitimu maka bersabarlah.&lt;br /&gt;43. Perbanyaklah mengunjungi orang-orang shalih dan saudaramu di jalan Allah.&lt;br /&gt;44. Cintalah karena Allah dan bencilah juga karena Allah karena hal itu merupakan tali keimanan yang paling kuat.&lt;br /&gt;45. Wajib bagimu untuk duduk bermajelis dengan orang shalih dan hati-hatilah dari bermajelis dengan orang-orang yang jelek.&lt;br /&gt;46. Bersegeralah untuk memenuhi hajat (kebutuhan) kaum muslimin dan buatlah mereka bahagia.&lt;br /&gt;47. Berhiaslah dengan kelemahlembutan, sabar dan teliti. Hatilah-hatilah dari sifat keras, kasar dan tergesa-gesa&lt;br /&gt;.48. Janganlah memotong pembicaraan orang lain dan jadilah engkau pendengar yang baik.49. Sebarkanlah salam kepada orang yang engkau kenal ataupun tidak engkau kenal.&lt;br /&gt;50. Ucapkanlah salam yang disunahkan yaitu "assalamualaikum" dan tidak cukup hanya dengan isyarat telapak tangan atau kepala saja.&lt;br /&gt;51. Janganlah mencela seorangpun dan mensifatinya dengan kejelekan.&lt;br /&gt;52. Janganlah melaknat seorangpun termasuk hewan dan benda mati.&lt;br /&gt;53. Hati-hatilah dari menuduh dan mencoreng kehormatan oarng lain karena hal itu termasuk dosa yang paling besar.&lt;br /&gt;54. Hati-hatilah dari namimah (mengadu domba), yakni menyampaikan perkataan di antara manusia dengan maksud agar terjadi kerusakan di antara mereka.&lt;br /&gt;55. Hati-hatilah dari ghibah, yakni engkau menceritakan tentang saudaramu apa-apa yang dia benci jika mengetahuinya.&lt;br /&gt;56. Janganlah engkau mengagetkan, menakuti dan menyakiti sesama muslim.&lt;br /&gt;57. Wajib bagimu melakukan ishlah (perdamaian) di antara manusia karena hal itu merupakan amalan yang paling utama.&lt;br /&gt;58. Katakanlah hal-hal yang baik, jika tidak maka diamlah.&lt;br /&gt;59. Jadilah engkau orang yang jujur dan janganlah berdusta karena dusta akan mengantarkan kepada dosa dan dosa mengantarakan kepada neraka.&lt;br /&gt;60. Janganlah engkau bermuka dua. Datang kepada sekelompok dengan satu wajah dan kepada kelompok lain dengan wajah yang lain.&lt;br /&gt;61. Janganlah bersumpah dengan selain Allah dan janganlah banyak bersumpah meskipun engkau benar.&lt;br /&gt;62. Janganlah menghina orang lain karena tidak ada keutamaan atas seorangpun kecuali dengan taqwa.&lt;br /&gt;63. Janganlah mendatang dukun, ahli nujum serta tukang sihir dan jangan membenarkan (perkataan) mereka.&lt;br /&gt;64. Janganlah menggambar gambar manuasia dan binatang. Sesungguhnya manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah tukang gambar.&lt;br /&gt;65. Janganlah menyimpan gambar makhluk yang bernyawa di rumahmu karena akan menghalangi malaikat untuk masuk ke rumahmu.&lt;br /&gt;66. Tasymitkanlah orang yang bersin dengan membaca: "yarhamukallah" apabila dia mengucapkan: "alhamdulillah"&lt;br /&gt;67. Jauhilah bersiul dan tepuk tangan.&lt;br /&gt;68. Bersegeralah untuk bertaubat dari segala dosa dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan karena kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan hati-hatilah dari menunda-nunda.&lt;br /&gt;69. Berharaplah selalu akan ampunan Allah serta rahmat-Nya dan berbaik sangkalah kepada Allah .&lt;br /&gt;70. Takutlah kepada adzab Allah dan janganlah merasa aman darinya.&lt;br /&gt;71. Bersabarlah dari segala mushibah yang menimpa dan bersyukurlah dengan segala kenikamatan yang ada.&lt;br /&gt;72. Perbanyaklah melakukan amal shalih yang pahalanya terus mengalir meskipun engkau telah mati, seperti membangun masjid dan menyebarakan ilmu.&lt;br /&gt;73. Mohonlah surga kepada Allah dan berlindunglah dari nereka.&lt;br /&gt;74. Perbanyaklah mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah.Shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya sampai hari kiamat juga kepada keluarganya dan seluruh shahabatnya.&lt;br /&gt;(Diterjemahkan dari buletin berjudul 75 Washiyyah li Asy-Syabab terbitan Daarul Qashim Riyadl-KSA oleh Abu Abdurrahman Umar Munawwir)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112037331316249754?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112037331316249754/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112037331316249754' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112037331316249754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112037331316249754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/74-wasiyat-untuk-para-pemuda.html' title='74 Wasiyat Untuk Para Pemuda'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112035776430830247</id><published>2005-07-03T09:19:00.000+07:00</published><updated>2005-07-03T09:29:24.313+07:00</updated><title type='text'>RISALAH JENAZAH</title><content type='html'>Oleh : Iyyas&lt;br /&gt;A. MUQODDIMAH.&lt;br /&gt;Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan karunia Nya kepada ummat manusia agar supaya manusia mensyukurinya.&lt;br /&gt;Sholawat beriring salam selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, demikian juga kepada keluarga dan sahabat – sahabatnya serta para pengikut-pengikutnya yang masih istiqomah dengan ajaran-ajarannya.&lt;br /&gt;Alloh Ta’ala berfirman&lt;br /&gt;“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian”. (Q.S Ali Imron :185 ).&lt;br /&gt;Wahai saudara yang menyadari akan arti kehidupan. Mati adalah sesuatu yang pasti bagi kita, tentunya kita menginginkan agar mayat kita diurus dengan benar sesuai dengan ajaran Rosul Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Nah….! Kalau kita menginginkan agar mayat kita diurus orang lain, maka hendaknya kita juga harus bisa mengurus jenazah, bagaimana cara mempersiapkan pemandian bagi jenazah, memandikannya, mengkafaninya, mensholatkan, sampai kita menguburkannya. Maka kami coba untuk membuat risalah jenazah yang kami sarikan dan kami nukilkan dari kitab Al Wijaazah fi Tajhiizi Al Janaazah karangan Abdurrohman bin Abdulloh Al Ghaits.&lt;br /&gt;B. MEMANDIKAN JENAZAH.&lt;br /&gt;a. Orang yang berhak memandikan jenazah.&lt;br /&gt;1. Jika mayyit telah mewasiatkan kepada seseorang untuk memandikannya, maka orang itulah yang berhak.&lt;br /&gt;2. Jika mayyit tidak mewasiatkan, maka yang berhak adalah ayahnya atau kakeknya atau anak laki-lakinya atau cucu-cucunya yang laki-laki (kalau mayatnya laki-laki, kalau perempuan maka dari jenis putri).&lt;br /&gt;3. Jika tidak ada yang mampu, keluarga mayyit boleh menunjuk orang yang amanah lagi terpercaya buat mengurusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tempat memandikan mayyit harus tertutup baik dinding maupun atapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Dianjurkan agar yang memandikan jenazah memilih 2 orang dari keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Perlengkapan bagi yang memandikan jenazah.&lt;br /&gt;1. Penutup hidung.&lt;br /&gt;2. Memakai pelindung tubuh agar tidak terkena kotoran-kotoran seperti sisa air perasan daun bidara dan kapur barus.&lt;br /&gt;3. Sarung tangan.&lt;br /&gt;4. Sepatu bot berlaras tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Cara menyediakan perasan daun bidara.&lt;br /&gt;1 Gelas besar : 4 liter&lt;br /&gt;8 lt + 2 gls air perasan daun bidara&lt;br /&gt;12 lt + 3 gls air perasan daun bidara&lt;br /&gt;16 lt + 4 gls air perasan daun bidara&lt;br /&gt;20 lt + 5 gls air perasan daun bidara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Cara menyediakan air dan kapur barus.&lt;br /&gt;Setiap 4 liter air dicampur dengan 2 potong kapur barus 1 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Persiapan sebelum memandikan jenazah.&lt;br /&gt;1. Menutup aurat simayyit dengan handuk besar mulai pusar sampai dengan lututnya (laki-laki dan perempuan sama) .&lt;br /&gt;2. Melepas pakaian yang masih melekat ditubuhnya.&lt;br /&gt;Caranya :&lt;br /&gt;Pakaian :&lt;br /&gt;a) Dimulai dari lengan sebelah kanan kearah kiri&lt;br /&gt;b) Selanjutnya dari lobang baju (krah) kebawah&lt;br /&gt;c) Setelah itu bagian depan ditarik dengan perlahan dari bawah handuk penutup auratnya. (ini kalau mayyit mengenakan gamis atau baju panjang, kalau hanya kemeja cukup buka kancingnya).&lt;br /&gt;Celana :&lt;br /&gt;a) Digunting sisi sebelah kanan dari atas sampai kebawah lalu sebelah kiri&lt;br /&gt;b) Setelah itu bagian depan ditarik dengan perlahan dengan tetap menjaga handuk penutup.&lt;br /&gt;Pakaian belakang mayyit :&lt;br /&gt;- Tubuh mayyit dibalik ke sebelah kiri, pakaian digeser kekiri.&lt;br /&gt;- Setelah itu dibalikkan lagi kekanan&lt;br /&gt;3. Menggunting kuku tangan dan kaki kalau panjang .&lt;br /&gt;4. Mencukur bulu ketiak, kalau tidak lebat dicabut saja.&lt;br /&gt;5. Merapikan kumis.&lt;br /&gt;6. Membersihkan hidung dan mulut serta menutupnya dengan kapas ketika dimandikan lalu dibuang setelah selesai&lt;br /&gt;h. Memandikan jenazah.&lt;br /&gt;1. Bersihkan isi perut dengan tangan kiri yang telah terbalut&lt;br /&gt;Angkat sedikit tubuh mayyit, tekan perutnya perlahan-lahan sebanyak tiga kali hingga keluar, bersihkan kotoran itu dengan kain pembersih kemudian siram.&lt;br /&gt;2. Wudhukan jenazah.&lt;br /&gt;a) Bacalah basmallah.&lt;br /&gt;b) Cuci tapak tangan mayyit 3 X.&lt;br /&gt;c) Bersihkan mulut dan hidungnya 3 X&lt;br /&gt;d) Wajah dan tangan kanan lalu kiri sampai dengan siku.&lt;br /&gt;e) Kepala dan kedua telinganya.&lt;br /&gt;f) Kaki kanan kemudian kirinya.&lt;br /&gt;3. Cara menyiram air perasan daun bidara.&lt;br /&gt;a) Siram kepala dan wajahnya dengan perasan dengan buihnya dulu.&lt;br /&gt;b) Basuh tubuh bagian kanan dari pundak ketelapak kaki sebelah kanan terus kearak kiri.&lt;br /&gt;c) Ulangi sekali lagi.&lt;br /&gt;4. Menyiram dengan air kapur barus (caranya Idem).&lt;br /&gt;5. Keringkan (usap) tubuh mayyit dari atas kebawah. Usahakan menggunakan handuk yang halus.&lt;br /&gt;Rambut wanita dikepang menjadi tiga.&lt;br /&gt;Wajib berwudhu bagi yang memandikan dan dianjurkan mandi setelah selesai.&lt;br /&gt;C. MENGKAFANI JENAZAH.&lt;br /&gt;a. Ukuran kain kafan yang digunakan.&lt;br /&gt;Ukurlah lebar tubuh jenazah. Jika lebar tubuhnya 30 cm, maka lebar kain kafan yang disediakan adalah 90 cm. 1 : 3.&lt;br /&gt;b. Ukurlah tinggi tubuh jenazah.&lt;br /&gt;1. Jika tinggi tubuhnya 180 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 60 cm.&lt;br /&gt;2. Jika tinggi tubuhnya 150 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 50 cm.&lt;br /&gt;3. Jika tinggi tubuhnya 120 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 40 cm.&lt;br /&gt;4. Jika tinggi tubuhnya 90 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 30 cm.&lt;br /&gt;5. Tambahan panjang kain kafan dimaksudkan agar mudah mengikat bagian atas kepalanya dan bagian bawahnya.&lt;br /&gt;c. Tata cara mengkafani.&lt;br /&gt;1. Jenazah laki-laki.&lt;br /&gt;Jenazah laki-laki dibalut dengan tiga lapis kain kafan. Berdasar dengan hadits.&lt;br /&gt;“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dikafani dengan 3 helai kain sahuliyah yang putih bersih dari kapas, tanpa ada baju dan serban padanya, beliau dibalut dengan 3 kain tersebut.&lt;br /&gt;a. Cara mempersiapkan tali pengikat kain kafan.&lt;br /&gt;1. Panjang tali pengikat disesuaikan dengan lebar tubuh dan ukuran kain kafan. Misalnya lebarnya 60 cm maka panjangnya 180 cm.&lt;br /&gt;2. Persiapkan sebanyak 7 tali pengikat. ( jumlah tali usahakan ganjil). Kemudian dipintal dan diletakkan dengan jarak yang sama diatas usungan jenazah.&lt;br /&gt;b. Cara mempersiapkan kain kafan.&lt;br /&gt;3 helai kain diletakkan sama rata diatas tali pengikat yang sudah lebih dahulu , diletakkan diatas usungan jenazah, dengan menyisakan lebih panjang di bagian kepala.&lt;br /&gt;c. Cara mempersiapkan kain penutup aurat.&lt;br /&gt;1. Sediakan kain dengan panjang 100 cm dan lebar 25 cm ( untuk mayyit yang berukuran lebar 60 cm dan tinggi 180 cm), potonglah dari atas dan dari bawah sehingga bentuknya seperti popok bayi.&lt;br /&gt;2. Kemudian letakkan diatas ketiga helai kain kafan tepat dibawah tempat duduk mayyit, letakkan pula potongan kapas diatasnya.&lt;br /&gt;3. Lalu bubuhilah wewangian dan kapur barus diatas kain penutup aurat dan kain kafan yang langsung melekat pada tubuh mayyit.&lt;br /&gt;d. Cara memakaikan kain penutup auratnya.&lt;br /&gt;1. Pindahkan jenazah kemudian bubuhi tubuh mayyit dengan wewangian atau sejenisnya. Bubuhi anggota-anggota sujud.&lt;br /&gt;2. Sediakan kapas yang diberi wewangian dan letakkan di lipatan-lipatan tubuh seperti ketiak dan yang lainnya.&lt;br /&gt;3. Letakkan kedua tangan sejajar dengan sisi tubuh, lalu ikatlah kain penutup sebagaimana memopok bayi dimulai dari sebelah kanan dan ikatlah dengan baik.&lt;br /&gt;e. Cara membalut kain kafan :&lt;br /&gt;1. Mulailah dengan melipat lembaran pertama kain kafan sebelah kanan, balutlah dari kepala sampai kaki .&lt;br /&gt;2. Demikian lakukan denngan lembaran kain kafan yang kedua dan yang ketiga.&lt;br /&gt;f. Cara mengikat tali-tali pengikat.&lt;br /&gt;1. Mulailah dengan mengikat tali bagian atas kepala mayyit dan sisa kain bagian atas yang lebih itu dilipat kewajahnya lalu diikat dengan sisa tali itu sendiri.&lt;br /&gt;2. Kemudian ikatlah tali bagian bawah kaki dan sisa kain kafan bagian bawah yang lebih itu dilipat kekakinya lalu diikat dengan sisa tali itu sendiri.&lt;br /&gt;3. Setelah itu ikatlah kelima tali yang lain dengan jarak yang sama rata. Perlu diperhatikan, mengikat tali tersebut jangan terlalu kencang dan usahakan ikatannya terletak disisi sebelah kiri tubuh, agar mudah dibuka ketika jenazah dibaringkan kesisi sebelah kanan dalam kubur.&lt;br /&gt;4. Mengkafani jenazah wanita.&lt;br /&gt;Jenazan wanita dibalut dengan lima helai kain kafan. Terdiri atas : Dua helai kain, sebuah baju kurung dan selembar sarung beserta kerudungnya. Jika ukuran lebar tubuhnya 50 cm dan tingginya 150 cm, maka lebar kain kafannya 150 cm dan panjangnya 150 ditambah 50 cm.&lt;br /&gt;Adapun panjang tali pengikatnya adalah 150 cm, disediakan sebanyak tujuh utas tali, kemudian dipintal dan diletakkan sama rata di atas usungan jenazah. Kemudian dua kain kafan tersebut diletakkan sama rata diatas tali tersebut dengan menyisakan lebih panjang dibagian kepala.&lt;br /&gt;a. Cara mempersiapkan baju kurungnya.&lt;br /&gt;1. Ukurlah mulai dari pundak sampai kebetisnya, lalu ukuran tersebut dikalikan dua, kemudian persiapkanlah kain baju kurungnya sesuai dengan ukuran tersebut.&lt;br /&gt;2. Lalu buatlah potongan kerah tepat ditengah-tengah kain itu agar mudah dimasuki kepalanya.&lt;br /&gt;3. Setelah dilipat dua, biarkanlah lembaran baju kurung bagian bawah terbentang, dan lipatlah lebih dulu lembaran atasnya (sebelum dikenakan pada mayyit, dan letakkan baju kurung ini di atas kedua helai kain kafannya ).lebar baju kurung tersebut 90 cm.&lt;br /&gt;b. Cara mempersiapkan kain sarung.&lt;br /&gt;Ukuran kain sarung adalah : lebar 90 cm dan panjang 150 cm. Kemudian kain sarung tersebut dibentangkan diatas bagian atas baju kurungnya.&lt;br /&gt;c. Cara mempersiapkan kerudung.&lt;br /&gt;Ukuran kerudungnya adalah 90 cm x90 cm. Kemudian kerudung tersebut dibentangkan diatas bagian atas baju kurung.&lt;br /&gt;d. Cara mempersiapkan kain penutup aurat.&lt;br /&gt;1. Sediakan kain dengan panjang 90 cm dan lebar 25 cm.&lt;br /&gt;2. Potonglah dari atas dan dari bawah seperti popok.&lt;br /&gt;3. Kemudian letakkanlah diatas kain sarungnya tepat dibawah tempat duduknya, letakkan juga potongan kapas diatasnya.&lt;br /&gt;4. Lalu bubuhilah wewangian dan kapur barus diatas kain penutup aurat dan kain sarung serta baju kurungnya.&lt;br /&gt;e. Cara melipat kain kafan.&lt;br /&gt;Sama seperti membungkus mayat laki-laki.&lt;br /&gt;f. Cara mengikat tali.&lt;br /&gt;Sama sepert membungkus mayat laki-laki.&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;1. Cara mengkafani anak laki-laki yang berusia dibawah tujuh tahun adalah membalutnya dengan sepotong baju yang dapat menutup seluruh tubuhnya atau membalutnya dengan tiga helai kain.&lt;br /&gt;2. Cara mengkafani anak perempuan yang berusia dibawah tujuh tahun adalah dengan membalutnya dengan sepotong baju kurung dan dua helai kain.&lt;br /&gt;D. MENYOLATKAN JENAZAH.&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu bersabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam : Barangsiapa yang menghadiri penyelenggaraan jenazah hingga ikut menyalatkannya, maka ia memperoleh pahala satu qiroth. Adapun yang menghadirinya sampai jenazah tersebut dikebumikan, maka ia memperoleh pahala dua qirath. Ditanyakan kepada beliau apakah dua qirath itu?. Beliau menjawab Seperti dua gunung besar. (H.R. Bukhori Muslim).&lt;br /&gt;1. Tata cara menyolatkan jenazah.&lt;br /&gt;a) Kepala jenazah berada disebelah kanan imam dengan menghadap kiblat.&lt;br /&gt;b) Jika jenazah laki-laki imam berdiri sejajar dengan kepala jenazah, jika perempuan imam berdiri sejajar dengan pusar jenazah.&lt;br /&gt;c) Kalau jenazah lebih dari satu dan berlainan jenis kelamin, maka posisinya sebagai berikut :&lt;br /&gt;Barisan pertama dari imam adalah jenazah laki-laki, kemudian anak laki-laki kemudian jenazah wanita kemudian anak perempuan.&lt;br /&gt;2. Sholat jenazah dilakukan dengan empat takbir, dan dianjurkan mengangkat tangan disetiap takbir.&lt;br /&gt;a) Takbir pertama baca taawudz dan surat Al Fatihah.&lt;br /&gt;b) Takbir kedua baca sholawat seperti yang dibaca dalam tasyahud.&lt;br /&gt;“Ya Alloh, Ampunilah kami baik yang hidup maupun yang mati, yang hadir maupun yang tidak hadir, yang kecil maupun yang besar, yang laki-laki maupun yang perempuan, Engkau Maha Tahu tempat kami kembali dan tempat istirahat kami. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Alloh, Barang siapa yang Engkau hidupkan diantara kami, maka hidupkanlah diatas islam, dan barangsiapa yang Engkau wafatkan kami, maka wafatkanlah kami dalam keadaan diatas iman.&lt;br /&gt;c) Takbir keempat membaca doa :&lt;br /&gt;“ Ya Alloh, janganlah Engkau tahan pahala bagi kami, dan jangan Engkau timpakan musibah sepeninggalnya atas kami. Anugrahkanlah Ampunan Mu bagi kami dan baginya.&lt;br /&gt;d) Kemudian salam kekanan dan kekiri. Kalau jenazah wanita maka gantilah kata “ Hu “ menjadi “ Ha “&lt;br /&gt;E. MENGUBURKAN JENAZAH.&lt;br /&gt;1. Tata cara menggali kubur.&lt;br /&gt;a). Untuk orang besar adalah panjang 200 cm, kedalaman 130 cm, lebar 75 cm, kedalaman lahat 55 cm, lebar lahat 50 cm, yang menjorok ke dalam dan keluar 25 cm.&lt;br /&gt;b). Besar kecil ukuran kuburan tergantung jenazahnya (disesuaikan).&lt;br /&gt;2. Tata cara menguburkannya.&lt;br /&gt;Hendaklah dua-tiga orang turun keliang kubur, dan hendaklah orang yang kuat, lalu dua lagi diatas tepat di sisi kubur sebelah kiblat untuk membantu menurunkan jenazah. Ketika menurunkan hendaklah berdoa “ Bismillahi wa ‘ala millati rasulullah “ “ Dengan nama Alloh dan menurut sunnah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. “&lt;br /&gt;Jenazah dibaringkan diatas tubuhnya sebelah kanan dalam posisi miring, dengan dihadapkan kearah kiblat, kenudian letakkan bantalan dari tanah atau potongan batu bata dibawah kepalanya, setelah itu buka tali pengikatnya dan singkaplah kain kafan yang menutupi wajahnya, kemudian lahat ditutup dengan batu atau cor-coran atau sejenisnya dan usahakan kalau bisa jangan yang mudah terbakar seperti kayu atau sejenisnya, lalu diturunkan kembali galian tanah kuburan. Boleh diberi sedikit gundukan, tapi tidak boleh lebih dari satu jengkal, lalu berilah tanda dari batubata pada arah kepala dan kaki, selanjutnya taburkan batu kerikil dan perciki dengan air supaya tanah menjadi lengket dan padat.&lt;br /&gt;F. PENUTUP.&lt;br /&gt;Demikianlah yang dapat kita nukilkan dan ringkaskan kalau ada kesalahan dalam penulisan atau penerangan, kami mohon maaf. Saran dan kritik para pembaca kami butuhkan, karena kami juga manusia biasa yang tak pernah luput dari salah, dosa dan lupa. Allahu A`lam Bishawwab&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112035776430830247?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112035776430830247/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112035776430830247' title='1 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035776430830247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035776430830247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/risalah-jenazah.html' title='RISALAH JENAZAH'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112035715841680649</id><published>2005-07-03T09:18:00.000+07:00</published><updated>2005-07-03T09:19:18.416+07:00</updated><title type='text'>Riya Lebih Tersembunyi Daripada Rambatan Semut</title><content type='html'>Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy (Ibnu Qudamah)&lt;br /&gt;Pengantar:Duhai betapa beruntung pembaca e-mail ini dan betapa rugi penulisnya. Antum mendapatkan air jernih darinya sementara penulisnya mendapat air keruh. Tapi inilah perdagangan yang saya tawarkan. Bila hati pembaca lebih bersih maka itulah yang diharapkan, dengan tanpa terkotorinya hati penulis tentunya. Bila yang terjadi adalah sebaliknya maka Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah tempat meminta pertolongan, dan segala kebaikan yang ada berasal dari Allah Yang Maha Tunggal semata.Al-'alamah Ibnu Qudamah memberikan uraian tentang Riya', Hakekat, Pembagian dan Celaannya, termasuk keterangan riya' yang menggugurkan amal dan yang tidak, obat dan cara mengobati riya' dan sebagainya. Uraiannya yang berdasar keterangan dari qur'an dan sunnah cukup jelas, dapat membuat takut orang yang terlalu beharap hingga meremehkan dan memberikan harapan kepada orang yang terlalu takut. Berikut ini saya kutipkan beberapa paragraf dari nasehat beliau yang bisa di jadikan perhatian agar kita bisa hati-hati, karena ini masalah hati. (ALS)&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa kata riya' itu berasal dari kata ru'yah (melihat), sedangkan sum'ah (reputasi) berasal dari kata sami'a (mendengar). Orang yang riya' menginginkan agar orang-orang bisa melihat apa yang dilakukannya.&lt;br /&gt;Riya' itu ada yang tampak dan ada pula yang tersembunyi. Riya' yang tampak ialah yang dibangkitkan amal dan yang dibawanya. Yang sedikit tersembunyi dari itu adalah riya' yang tidak dibangkitkan amal, tetapi amal yang sebenarnya ditujukan bagi Allah menjadi ringan, seperti orang yang biasa tahajud setiap malam dan merasa berat melakukannya, namun kemudian dia menjadi ringan mengerjakannya tatkala ada tamu di rumahnya. Yang lebih tersembunyi lagi ialah yang tidak berpengaruh terhadap amal dan tidak membuat pelaksanaannya mudah, tetapi sekalipun begitu riya' itu tetap ada di dalam hati. Hal ini tidak bisa diketahui secara pasti kecuali lewat tanda-tanda.&lt;br /&gt;Tanda yang paling jelas adalah, dia merasa senang jika ada orang yang melihat ketaatannya. Berapa banyak orang yang ikhlas mengerjakan amal secara ikhlas dan tidak bermaksud riya' dan bahkan membencinya. Dengan begitu amalnya menjadi sempurna. Tapi jika ada orang-orang yang melihat dia merasa senang dan bahkan mendorong semangatnya, maka kesenangan ini dinamakan riya' yang tersembunyi. Andaikan orang-orang tidak melihatnya, maka dia tidak merasa senang. Dari sini bisa diketahui bahwa riya' itu tersembunyi di dalam hati, seperti api yang tersembunyi di dalam batu. Jika orang-orang melihatnya, maka bisa menimbulkan kesenangannya. Kesenangan ini tidak membawanya kepada hal-hal yang dimakruhkan, tapi ia bergerak dengan gerakan yang sangat halus, lalu membangkitkannya untuk menampakkan amalnya, secara tidak langsung maupun secara langsung.&lt;br /&gt;Kesenangan atau riya' ini sangat tersembunyi, hampir tidak mendorongnya untuk mengatakannya, tapi cukup dengan sifat-sifat tertentu, seperti muka pucat, badan kurus, suara parau, bibir kuyu, bekas lelehan air mata dan kurang tidur, yang menunjukkan bahwa dia banyak shalat malam.&lt;br /&gt;Yang lebih tersembunyi lagi ialah menyembunyikan sesuatu tanpa menginginkan untuk diketahui orang lain, tetapi jika bertemu dengan orang-orang, maka dia merasa suka merekalah yang lebih dahulu mengucapkan salam, menerima kedatangannya dengan muka berseri dan rasa hormat, langsung memenuhi segala kebutuhannya, menyuruhnya duduk dan memberinya tempat. Jika mereka tidak berbuat seperti itu, maka ada yang terasa mengganjal di dalam hati.&lt;br /&gt;Orang-orang yang ikhlas senantiasa merasa takut terhadap riya' yang tersembunyi, yaitu yang berusaha mengecoh orang-orang dengan amalnya yang shalih, menjaga apa yang disembunyikannya dengan cara yang lebih ketat daripada orang-orang yang menyembunyikan perbuatan kejinya. Semua itu mereka lakukan karena mengharap agar diberi pahala oleh Allah pada Hari Kiamat.&lt;br /&gt;Noda-noda riya' yang tersembunyi banyak sekali ragamnya, hampir tidak terhitung jumlahnya. Selagi seseorang menyadari darinya yang terbagi antara memperlihatkan ibadahnya kepada orang-orang dan antara tidak memperlihatkannya, maka di sini sudah ada benih-benih riya'. Tapi tidak setiap noda itu menggugurkan pahala dan merusak amal. Masalah ini harus dirinci lagi secara detail.&lt;br /&gt;Telah disebutkan dalam riwayat Muslim, dari hadits Abu Dzarr Radliyallahu Anhu, dia berkata, "Ada orang yang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang orang yang mengerjakan suatu amal dari kebaikan dan orang-orang memujinya?" Beliau menjawab, "Itu merupakan kabar gembira bagi orang Mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia."Namun jika dia ta'ajub agar orang-orang tahu kebaikannya dan memuliakannya, berarti ini adalah riya'.&lt;br /&gt;Dipetik dari: Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy , "Muhtashor Minhajul Qoshidin, Edisi Indonesia: Minhajul Qashidhin Jalan Orang-orang yang Mendapat Petunjuk", penerjemah: Kathur Suhardi, Pustaka al-Kautsar, Jakarta Timur, 1997, hal. 271-286.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112035715841680649?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112035715841680649/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112035715841680649' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035715841680649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035715841680649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/riya-lebih-tersembunyi-daripada.html' title='Riya Lebih Tersembunyi Daripada Rambatan Semut'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112035700312173084</id><published>2005-07-03T09:09:00.000+07:00</published><updated>2005-07-03T09:16:43.123+07:00</updated><title type='text'>WASIAT AL-MUJAHID ABU HAFSIN AL-MISHRY</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;Wasiat Abu Hafs (komander pengganti As Syahid (Insya Allah) komander Foreign Mujahidin di chechnya; ibn Al Khattab)&lt;br /&gt;“Aku kirimkan wasiatku ini kepadamu dan ku kenalkan diriku; aku saudaramu seakidah... Abu Hafs Al mishriy atau Asadullah Tunisi, atau Abul Harits al makkiy atau Abul Miqdad al mishriy, atau Zubair Al Khalijiy atau Hasan Al libiy. Semua itu adalah aku.&lt;br /&gt;Aku anak yang sholeh, aku adalah saudara arab bagi saudari dari negeri Farsi, aku adalah ayah bagi anak anak yatim di Bosnia, dan wali yang sah bagi setiap Muslim dan Muslimah, Aku kirimkan berita dan syair ini dari bumi jihad dalam wasiat dan urusanku ini; Para pelayan ka'bah telah lari, dan penjaga penjaga akidah jadi pengkhianat kini agamaku jadi bahan mainan bagi si kafir dan penguasa, ... entah bagaimana aku akan menggugah hatimu yang mati dan menggugah kantukmu dan mengingatkan kelalaianmu. Kamu adalah pelayan para penjajah, dan kamu adalah penjaga yang berkhianat.&lt;br /&gt;Kini Allah pakaikan baju kehinaan padamu hingga nanti kamu kembali kepada Jihad dan mengembalikan amanah kepada yang berhak; amanah kekuasaan dan khilafah, dan segala jenis amanah Jadilah seperti orang yang kamu namai sebagai fundamentalis...Terroris... Jika tuan Amerika mengeluarkan perintah, kau sibuk harus melaksanakan jika ia menunjuk, kau anggap itu keputusan ... hasbunallahu wa ni'mal wakiil ...&lt;br /&gt;Bagi kami....kami berharap dengan nama Allah; Janganlah kalian perkosa hak hak kami untuk hidup aman bersama kalian seperti ketika kami mati Janganlah kami di kejar kejar, dan harta kami di rampas Anggaplah kami seperti debu yang tak berharga bagi kehidupan bahkan seperti kemungkaran yang harus di hancurkan.... Ingatlah kami ... bahwa kami berjaga malam demi nyenyaknya tidur malam mu dan kami berlapar demi kenyangmu, dan kami berdahaga demi kesegarannmu dan kami bungkus anak anak kami dengan kafan, supaya kamu bisa memelihara anak anakmu dalam kehidupan yang baik kami jandakan istri istri kami walau kami masih hidup, supaya kamu bisa nikmat tinggal bersama istri istrimu kami tinggal dalam ketakutan, supaya kamu bisa tinggal dengan tenang Ingatlah kami ... ceritakan semua ini sebagai dongeng malam bagi anak anakmu katakan kepada mereka bahwa ada orang orang yang mengenal kita tetapi kita tidak mengenal mereka kita cintai mereka, dan mereka mencintai kita.&lt;br /&gt;Mereka lakukan itu bukan untuk mencari nama dan kemasyhuran tetapi untuk membela alhaq dalam sejarah dan membuktikan keberanian para Syuhada dalam menghadapi kesombongan si kafir.&lt;br /&gt;Jika kau baca wasiatku ini, bermakna mungkin aku sekarang sedang menggeliat kepanasan di neraka yang membara, atau di surga yang nikmat ... Hati hatilah dengan Riya', ikhlas dan jujurlah dalam beramal. Sesungguhnya seorang Syahid ada di dua tempat; di neraka jahannam, atau hidup nikmat dalam Surga Peliharalah anak anakmu dalam jihad; sesungguhnya ia adalah pintu kemenangan dan kunci kemuliaan&lt;br /&gt;Aku wasiatkan agar kamu memelihara anak anakmu seperti apa yang ku harapkan pada anak anakku. Katakan kepada mereka bahwa pamanmu telah memanggilmu untuk hidup bersamanya Ya allah teguhkanlah aku di atas apa yang aku tuliskan ini hingga aku menemuimu, Ya Ar Hama r Rahimin wa subhanakallahumma asyhadu alla ilaha illa anta. astaghfiruka wa atuubu ilaik wa shalallahu ala muhammadin wa aalihi wa ala ashabihi waman tabi'ahu ila yaumiddin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112035700312173084?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112035700312173084/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112035700312173084' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035700312173084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035700312173084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/wasiat-al-mujahid-abu-hafsin-al-mishry.html' title='WASIAT AL-MUJAHID ABU HAFSIN AL-MISHRY'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112035634146040567</id><published>2005-07-03T09:04:00.000+07:00</published><updated>2005-07-03T09:05:41.473+07:00</updated><title type='text'>Siapakah Ahlu Sunnah ?</title><content type='html'>Penulis: Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi&lt;br /&gt;Manhaj, 08 - Juni - 2003, 18:25:14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Ahlus Sunnah tentu tidak asing bagi kaum muslimin. Bahkan mereka semua mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Tapi siapakah Ahlus Sunnah itu? Dan siapa pula kelompok yang disebut Rasulullah sebagai orang-orang asing? Telah menjadi ciri perjuangan iblis dan tentara-tentaranya yaitu terus berupaya mengelabui manusia. Yang batil bisa menjadi hak dan sebaliknya, yang hak bisa menjadi batil. Sehingga ahli kebenaran bisa menjadi pelaku maksiat yang harus dimusuhi dan diisolir. Dan sebaliknya, pelaku kemaksiatan bisa menjadi pemilik kebenaran yang harus dibela. Syi’ar pemecah belah ini merupakan ciri khas mereka dan mengganggu perjalanan manusia menuju Allah merupakan tujuan tertinggi mereka. Tidak ada satupun pintu kecuali akan dilalui iblis dan tentaranya. Dan tidak ada satupun amalan kecuali akan dirusakkannya, minimalnya mengurangi nilai amalan tersebut di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Iblis mengatakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala: “Karena Engkau telah menyesatkanku maka aku akan benar-benar menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus dan aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan dan belakang, dan samping kiri dan samping kanan.”, (QS. Al A’raf : 17 ) Dalam upayanya mengelabui mangsanya, Iblis akan mengatakan bahwa ahli kebenaran itu adalah orang yang harus dijauhi dan dimusuhi, dan kebenaran itu menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan, dan dia mengatakan: “Sehingga Engkau ya Allah menemukan kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS. Al A’raf: 17) Demikian halnya yang terjadi pada istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Istilah ini lebih melekat pada gambaran orang-orang yang banyak beribadah dan orang-orang yang berpemahaman sufi. Tak cuma itu, semua kelompok yang ada di tengah kaum muslimin juga mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Walhasil, nama Ahlus Sunnah menjadi rebutan orang. Mengapa demikian? Apakah keistimewaan Ahlus Sunnah sehingga harus diperebutkan? Dan siapakah mereka sesungguhnya? Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus merujuk kepada keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam dan ulama salaf dalam menentukan siapakah mereka yang sebenarnya dan apa ciri-ciri khas mereka. Jangan sampai kita yang digambarkan dalam sebuah sya’ir: Semua mengaku telah meraih tangan Laila Dan Laila tidak mengakui yang demikian itu Bahwa tidak ada maknanya kalau hanya sebatas pengakuan, sementara dirinya jauh dari kenyataan. Secara fitrah dan akal dapat kita bayangkan, sesuatu yang diperebutkan tentu memiliki keistimewaan dan nilai tersendiri. Dan sesuatu yang diakuinya, tentu memiliki makna jika mereka berlambang dengannya. Mereka mengakui bahwa Ahlus Sunnah adalah pemilik kebenaran. Buktinya, setelah mereka memakai nama tersebut, mereka tidak akan ridha untuk dikatakan sebagai ahli bid’ah dan memiliki jalan yang salah. Bahkan mengatakan bahwa dirinya merupakan pemilik kebenaran tunggal sehingga yang lain adalah salah. Mereka tidak sadar, kalau pengakuannya tersebut merupakan langkah untuk membongkar kedoknya sendiri dan memperlihatkan kebatilan jalan mereka. Yang akan mengetahui hal yang demikian itu adalah yang melek dari mereka. As Sunnah Berbicara tentang As Sunnah secara bahasa dan istilah sangat penting sekali. Di samping untuk mengetahui hakikatnya, juga untuk mengeluarkan mereka-mereka yang mengakui sebagai Ahlus Sunnah. Mendefinisikan As Sunnah ditinjau dari beberapa sisi yaitu sisi bahasa, syari’at dan generasi yang pertama, ahlul hadits, ulama ushul, dan ahli fiqih. As Sunnah menurut bahasa As Sunnah menurut bahasa adalah As Sirah (perjalanan), baik yang buruk ataupun yang baik. Khalid bin Zuhair Al Hudzali berkata: Jangan kamu sekali-kali gelisah karena jalan yang kamu tempuh Keridhaan itu ada pada jalan yang dia tempuh sendiri. As Sunnah menurut Syari’at Dan Generasi Yang Pertama Apabila terdapat kata sunnah dalam hadits Rasulullah atau dalam ucapan para sahabat dan tabi’in, maka yang dimaksud adalah makna yang mencakup dan umum. Mencakup hukum-hukum baik yang berkaitan langsung dengan keyakinan atau dengan amal, apakah hukumnya wajib, sunnah atau boleh. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari 10/341 berkata: “Telah tetap bahwa kata sunnah apabila terdapat dalam hadits Rasulullah, maka yang dimaksud bukan sunnah sebagai lawan wajib (Apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila di tinggalkan tidak akan berdosa, pent.).” Ibnu ‘Ajlan dalam kitab Dalilul Falihin 1/415 ketika beliau mensyarah hadits ‘Fa’alaikum Bisunnati’, berkata: “Artinya jalanku dan langkahku yang aku berjalan di atasnya dari apa-apa yang aku telah rincikan kepada kalian dari hukum-hukum i’tiqad (keyakinan), dan amalan-amalan baik yang wajib, sunnah, dan sebagainya.” Imam Shan’ani berkata dalam kitab Subulus Salam 1/187, ketika beliau mensyarah hadits Abu Sa’id Al-Khudri, “di dalam hadits tersebut disebutkan kata ‘Ashobta As Sunnah’, yaitu jalan yang sesuai dengan syari’at.” Demikianlah kalau kita ingin meneliti nash-nash yang menyebutkan kata “As Sunnah”, maka akan jelas apa yang dimaukan dengan kata tersebut yaitu: “Jalan yang terpuji dan langkah yang diridhai yang telah dibawa oleh Rasulullah. Dari sini jelaslah kekeliruan orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu yang menafsirkan kata sunnah dengan istilah ulama fiqih sehingga mereka terjebak dalam kesalahan yang fatal. As Sunnah Menurut Ahli Hadits As sunnah menurut jumhur ahli hadits adalah sama dengan hadits yaitu: “Apa-apa yang diriwayatkan dari Rasulullah baik berbentuk ucapan, perbuatan, ketetapan, dan sifat baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak). As Sunnah Menurut Ahli Ushul Fiqih Menurut Ahli Ushul Fiqih, As Sunnah adalah dasar dari dasar-dasar hukum syaria’at dan juga dalil-dalilnya. Al Amidy dalam kitab Al Ihkam 1/169 mengatakan: “Apa-apa yang datang dari Rasulullah dari dalil-dalil syari’at yang bukan dibaca dan bukan pula mu’jizat atau masuk dalam katagori mu’jizat”. As Sunnah Di Sisi Ulama Fiqih As Sunnah di sisi mereka adalah apa-apa yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Di sini bisa dilihat, mereka yang mengaku sebagai ahlus sunnah -dengan menyandarkan kepada ahli fikih-, tidak memiliki dalil yang jelas sedikitpun dan tidak memiliki rujukan, hanya sebatas simbol yang sudah usang. Jika mereka memakai istilah syariat dan generasi pertama, mereka benar-benar telah sangat jauh. Jika mereka memakai istilah ahli fiqih niscaya mereka akan bertentangan dengan banyak permasalahan. Jika mereka memakai istilah ulama ushul merekapun tidak akan menemukan jawabannya. Jika mereka memakai istilah ulama hadits sungguh mereka tidak memilki peluang untuk mempergunakan istilah mereka. Tinggal istilah bahasa yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dalam melangkah, terlebih menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya. Siapakah Ahlus Sunnah Ahlu Sunnah memiliki ciri-ciri yang sangat jelas di mana ciri-ciri itulah yang menunjukkan hakikat mereka. 1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda: “ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad) 2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah: “Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59) “Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al Ahzab: 36) 3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1) 4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehigga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka: “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma) 5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka tidak fanatisme kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya bisa diambil dan ditolak kecuali ucapan beliau.” 6. Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya. 7. Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin. 8. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah. 9. Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu. Syaikh Rabi’ dalam kitab beliau Makanatu Ahli Al Hadits hal. 3-4 berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mendahulukan keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlaq, politik, maupun, persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh semangat dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat dan takwil jahilin. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang yang mencerca.” Ciri Khas Mereka 1. Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah bersabda: “Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad) Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”. Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.” Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah hal 16-17 mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan terus menerus sekelompok kecil dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.” 2. Mereka adalah orang yang berada di akhir jaman dalam keadaan asing yang telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rusaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dengan membawa agama mereka dari fitnah. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam. Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Al Auza’i mengatakan tentang sabda Rasulullah: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing.” Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji sunnah dan mensifatinya dengan asing dan mensifati pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104) Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam prosentase yang sedikit. Allah berfiman: “Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” Dari pembahasan yang singkat ini, jelas bagi kita siapakah yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah dan siapa-siapa yang bukan Ahlus Sunnah yang hanya penamaan semata. Benarlah ucapan seorang penyair mengatakan : Semua orang mengaku telah menggapai si Laila Akan tetapi si Laila tidak mengakuinya Walhasil Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus shalih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112035634146040567?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112035634146040567/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112035634146040567' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035634146040567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035634146040567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/siapakah-ahlu-sunnah.html' title='Siapakah Ahlu Sunnah ?'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112035507398448238</id><published>2005-07-03T08:32:00.000+07:00</published><updated>2005-07-03T08:44:33.993+07:00</updated><title type='text'>MENGAPA HARUS SALAF ?</title><content type='html'>Oleh: Syaikh Salim Al Hilali&lt;br /&gt;Upaya penyaringan terhadap segala hal yang bukan berasal dari ajaran Islam, baik dalam hal Aqidah, Ahkam (hukum) maupun Akhlaq, selayaknya terus dilakukan, agar Islam kembali bersih berseri, murni dalam naungan risalah sebagaimana risalah yang telah diturunkan kepada Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam dan diajarkan pada Sahabatnya, yang diteruskan oleh pengikutnya hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;Upaya penyaringan terhadap segala hal yang bukan berasal dari ajaran Islam, baik dalam hal Aqidah, Ahkam (hukum) maupun Akhlaq, selayaknya terus dilakukan, agar Islam kembali bersih berseri, murni dalam naungan risalah sebagaimana risalah yang telah diturunkan kepada Muhammad Shalallahu 'alaihi wa Sallam dan diajarkan pada Sahabatnya, yang diteruskan oleh pengikutnya hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;Maka untuk tujuan tersebut, maka perlu digencarkan pendidikan atas generasi muslim dengan Islam yang murni dengan Tarbiyah Imaniyyah (pendidikan keimanan), sehingga membekas di lubuk hati para kader Islam. Maka disinilah peran Dakwah Salafiyyah, yang berpegang dengan pemahaman Rasulullah beserta Sahabatnya, yang terus berupaya menegakkan tonggak Islam di atas tonggak yang mengokohkan Islam di masa lalu.&lt;br /&gt;Menjadi suatu keharusan mutlak bagi setiap Muslim, yang menginginkan kesuksesan dan merindukan kehidupan yang mulia, serta kemenangan di dunia dan di akhirat, bahwa dalam memahami Al Qur'an dan As Sunnah yang shahih harus dengan pemahaman Muslimin yang terbaik (Salaful Ummah) yaitu para Sahabat Rasulullah dan Tabi'in (murid Sahabat), serta siapapun yang mengikuti jalan mereka dengan baik hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;Dipilihnya metode ini, karena tidak dapat dibandingkan (dengan siapaun, selain dengan Rasulullah) kelurusan, kebenarannya, dalam fikrah, pemahaman dan manhaj yang lebih benar dan lebih lurus dibanding pemahaman dan manhaj Salafus Shalih (jalannya para Salaf yakni Sahabat Rasulullah, Tabi'in dan Pengikutnya, yang Shalih hingga hari kiamat).&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak akan pernah bisa baik kehidupan umat yang akhir ini kecuali dengan apa yang telah menjadikan baik generasi awal. Apabila kita teliti dengan seksama dalil-dalil dari Al Qur'an maupun As Sunnah serta ijma' dan qiyas maka bisa disimpulkan dari dalil-dalil tersebut tentang wajibnya memahami Al Qur'an dan As Sunnah dalam bimbingan manhaj Salafus Sholih, karena itu merupakan pemahaman yang disepakati kebenarannya sepanjang abad perjalanan dakwah ini.&lt;br /&gt;Maka itu tidak dibenarkan bagi siapa saja, setinggi apapun kedudukannya, memahami Islam ini selain pemahaman Salafus Sholih (pemahamannya dapat dilihat di tafsir Al Quran karya para Sahabat, penjelasan hadits dalam kitab-kitab Hadist dan tulisan-tulisan para Sahabat &amp; pengikutnya). Dan siapapun juga yang membenci pemahaman Salaf lalu menggantinya dengan bid'ah-bid'ah orang belakangan (orang-orang sesudah generasi Salaf ) yang diracuni dengan berbagai pemahaman yang membahayakan dan yang tidak selamat dari pemahaman asing, akan mengakibatkan tercerai-berainya kamu muslimin. Sesungguhnya Salafus Shalih Radiyallahu anhum telah nyata kebaikan mereka baik dalam nash maupun istinbat, Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 100. "Dan generasi yang terdahulu dan pertama-tama (masuk Islam) diantara kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridha kepada mereka (Muhajirin &amp;amp; Anshar = Sahabat/Salafus Sholih) dan mereka ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. Dengan dalil ayat ini (QS At Taubah 100) dapat diambil pemahaman bahwa Allah Sang Pencipta telah memuji terhadap mereka yang mengikuti kepada sebaik-baik manusia. Telah diketahui bahwa apabila sebaik-baik manusia itu mengatakan suatu perkataan, kemudian ada seseorang yang mengikuti mereka, maka dia wajib untuk mendapatkan pujian dan berhak untuk mendapatkan keridhaan.&lt;br /&gt;Kalau seandainnya sikap ittiba' mereka tidak membedakan dengan selain mereka (yang tidak ittiba') maka dia tidaklah berhak mendapatkan pujian dan keridhaan. Siapakah sebaik-baik manusia itu? Mereka adalah para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an surat Al Bayyinah : 7 "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih merekalah sebaik-baik manusia". Allah berfirman dalam surat Ali Imran : 110 : "Kalian adalah umat terbaik yang telah ditampilkan untuk manusia, kalian telah beramar makruf dan bernahi munkar dan beriman kepada Allah". Dari sini kita mendapatkan petunjuk bahwa Allah telah memuji dan menyatakan keutamaan mereka (Sahabat) atas segala umat, dan apabila ingin dipuji ALLAH juga, maka ummat ini harus istiqamah dalam segala hal mengikuti Salafus Sholih. Disamping itu Salafus Sholih sesungguhnya memang tidak pernah menyimpang dari cahaya (petunjuk Ilmu Al Quran dan Sunnah) yang terang benderang (Al Haq) ini. Maka jika ada yang berkata :"Ini (gelar sebaik-baik umat, pen.) bersifat umum dalam umat ini, tidak hanya terbatas pada generasi Sahabat saja,"saya katakan bahwa mereka (para sahabat) adalah obyek pembicaraan yang pertama, dan orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak masuk dalam pembicaraan ayat diatas, kecuali kalau ada penjelasan dengan qiyas atau dalil lain sebagaimana dalam dalil pertama. Secara umum dan ini yang benar, Sahabat adalah yang pertama kali masuk dalam obyek pembicaraan karena merekalah yang pertama kali mengambil ilmu dan amal langsung dari Rasullullah Shalallahu 'alaihi wa salam tanpa perantara, dan merekalah yang mendapat kabar gembira dengan wahyu ini. Oleh karena itu, merekalah yang paling pertama masuk dalam pembicaraan ayat ini dibanding yang lain disebabkan sifat-sifat yang telah diberikan kecuali kepada mereka (para Sahabat). Pun kecocokan sifat dengan pensifatan Allah adalah merupakan bukti bahwa mereka lebih berhak mendapatkan pujian dari pada yang lain. Sabda Rasullullah Shalallahu 'alaihi wa salam : "Sebaik-baik manusia adalah generasiku (generasi Rasulullah &amp;amp; Shahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (Tabi'in) kemudian orang-orang sesudah mereka (Tabi'ut Tabi'in.). Sesudah itu akan datang kaum yang kesaksian mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya." (HR. Bukhari IV/189, Muslim VII/184-185, Ahmad I/424 dll).&lt;br /&gt;Apakah kebaikan yang ditetapkan kepada para Sahabat yang dimaksudkan adalah dalam hal bentuk mereka? Atau jasad mereka, harta mereka, tempat tinggal mereka, atau ?? Tidak diragukan lagi bagi orang yang memiliki akal yang sempurna, memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan benar, bahwa bukan itu semua yang dimaksudkan disini, sama sekali bukan. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam tidaklah berbicara dengan hawa nafsunya. Apa saja yang berasal darinya adalah Ar-Rusyd (Al Haq) dan Al Huda (petunjuk). Para sahabat semuanya adil (jujur). Mereka tidak berbicara kecuali dengan jujur dan tidak beramal kecuali dengan haq. Demikian para sahabat. Mengikuti mereka akan memberi keselamatan dari kegelapan syahwat (kebrutalan hawa nafsu) dan subhat (bahaya pengaburan), dan siapapun yang berpaling dari pemahaman para sahabat maka dia berada dalam kesesatan dimana kegelapan demi kegelapan semakin melilitnya sehingga kalau dia mengulurkan tangannya hampir tidak akan terlihat. Dengan pemahaman sahabat, kita membentengi Al Qur'an dan As Sunnah dari berbagai bid'ah setan dari jenis manusia ataupun jin. Mereka hanya menginginkan timbulnya fitnah dan menghendaki takwilnya untuk merusak apa yang dimaksudkan Allah dan Rasul-Nya. Maka pemahaman sahabat radhiallahu anhum adalah benteng dari segala keburukan dan benteng dari sebab-sebab yang menimbulkannya. Kalau pemahaman para sahabat tidak bisa dijadikan hujjah maka mustahil pemahaman generasi setelah para sahabat menjaga pemahaman para sahabat dan menjadi benteng baginya. Apabila pengkhususan dan pembatasan ini ditolak yaitu wajibnya memahami Al Qur'an dan as Sunnah yang shahih dengan pemahamannya ' maka akan semakin jauhlah seorang muslim dari "kebenaran yang mutlak," dan (yang lebih buruk lagi) berbagai firqah dan partai akan menjadi terhalang untuk kembali ke jalan yang benar. Sesungguhnya Al Qur'an dan As Sunnah adalah merupakan penangkal berbagai pemahaman yang menyimpang seperti : Mu'tazilah, Murji'ah, Jahmiyyah, Syi'ah, Tasawwuf/Sufi, Khawarij, Bathiniyyah, dan selain mereka, maka tidak boleh tidak harus ada pemisahan. Wallahu a'lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112035507398448238?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112035507398448238/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112035507398448238' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035507398448238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035507398448238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/mengapa-harus-salaf.html' title='MENGAPA HARUS SALAF ?'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112035429852517824</id><published>2005-07-03T08:28:00.000+07:00</published><updated>2005-07-03T08:31:38.526+07:00</updated><title type='text'>Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan...</title><content type='html'>Syaikh Ali Hasan al-Atsari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka - kalau begitu - keamanan yang hakiki itu adalah aman dari hal-hal yang menakutkan, aman dari siksa, dan kesengsaraan, serta hidayah kepada jalan yang lurus...&lt;br /&gt;“Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi Al Atsari&lt;br /&gt;Banyak manusia pada saat ini, mereka hidup dalam gambaran kecemasan, dan ketakutan …kengerian…dan kehati-hatian….dan mereka tidak mengetahui sebab yang pasti dari ini semua, sesungguhnya hanyalah hal itu (timbul) dari perasaan didalam yang menggoda mereka, baik itu dijalan, dirumah dan benteng mereka, atau dalam kehidupan mereka, dan saat kepergian dan kedatangan mereka (dari bepegian). Dan kalaulah mereka memandang dengan pandangan yang tinggi dan cermat…tentulah mereka akan mengetahui bahwa sebab utama jauhnya mereka dari keamanan…dan tenggelamnya mereka dalam kebalikannya adalah : jauhnya mereka dari jalan menetapi hukum-hukum Allah.&lt;br /&gt;Allah berfirman : “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (al-An’am : 82)&lt;br /&gt;Maka keamanan…dan petunjuk…adalah dua hal yang berdekatan…tidak akan berpisah…jika lenyap salah satu dari keduanya maka lenyaplah yang lain…bahkan jika salah satu dari keduanya tipis maka tipislah yang lain.Maka keamanan yang hakiki …bukanlah (didapat) dengan banyaknya pasukan dan tentara…dan bukanlah (didapat) dengan banyaknya penjaga dan senjata…sesungguhnya keamanan hakiki hanyalah timbul dari jiwa mutmainnah (jiwa yang tenang), jiwa yang meridhai Allah sebagai pencipta, meridhai Islam sebagai agama, dan meridhai Muhammad sebagaii Nabi dan Rasul.&lt;br /&gt;Maka - kalau begitu - keamanan yang hakiki itu adalah aman dari hal-hal yang menakutkan, aman dari siksa, dan kesengsaraan, serta hidayah kepada jalan yang lurus.Maka jika mereka tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman secara mutlak, tidak (mencampurkan keimanan mereka) dengan kesyirikan dan maksiat, maka mereka memperoleh keamanan dan hidayah yang sempurna.&lt;br /&gt;Dan jika mereka tidak mencampur keimanan mereka dengan kesyirikan saja, akan tetapi mereka melakukan perbuatan yang buruk, maka mereka memperoleh pokok hidayah, dan pokok keamanan, walaupun tidak mendapakan kesempurnaan keamanan dan hidayah.Dan pengertian ayat yang mulia itu (al-An’am : 82) bahwasanya mereka yang tidak memperoleh dua perkara ini (keiman an, dan tidak mencampurkan iman mereka dengan kezaliman), maka mereka tidak memperoleh hidayah dan keamanan, justru yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kebinasaan.&lt;br /&gt;Dan ayat yang agung ini (al-An’am : 82) menjelaskan kepada kita pemahaman yang nyata pada firman Allah :“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu” (Ali Imran : 151)&lt;br /&gt;Ini (terjadi) didunia, walaupun mereka (orang-orang kafir) mempunyai benteng yang sangat tinggi lagi kokoh serta terjaga, dan mempunyai persenjatan, tentara, penjagaan dan kekuasaan…Adapun kelak diakhirat :“Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim” (Ali Imran : 151)&lt;br /&gt;Dan janji yang benar datangnya dari Allah yang Haq kepada orang-orang yang beriltizam (berpegang teguh) untuk mendapat keamanan yang Haq :&lt;br /&gt;“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku” (an-Nur : 55)&lt;br /&gt;“Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?" (al-An’am : 81)&lt;br /&gt;Orang yang mendapatkan hidayah dan keyakinan…ataukah orang yang berbuat kerusakan dan pelindung-pelindungnya orang musrik !? ataukah pengikut-pengikut mereka dari kalangan orang-orang yang berbuat kerusakan dan semisal orang-orang munafik !?&lt;br /&gt;Diterjemahkan dari majalah al ashalah edisi 3 hal 7-8&lt;br /&gt;Maraji':Majalah al-Ashalah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112035429852517824?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112035429852517824/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112035429852517824' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035429852517824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035429852517824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/mereka-itulah-orang-orang-yang.html' title='Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan...'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112035397261116284</id><published>2005-07-03T08:25:00.000+07:00</published><updated>2005-07-03T08:26:12.616+07:00</updated><title type='text'>Jilbab Wanita Muslimah</title><content type='html'>Oleh: Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany&lt;br /&gt;Penelitian kami terhadap ayat-ayat Al-Quran, As-Sunnah dan atsar-atsar Salaf dalam masalah yang penting ini, memberikan jawaban kepada kami bahwa jika seorang wanita keluar dari rumahnya, maka ia wajib menutup seluruh anggota badannya dan tidak menampakkan sedikitpun perhiasannya, kecuali wajah dan dua telapak tangannya, maka ia harus menggunakan pakaian (jilbab) yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Meliputi Seluruh Badan Selain Yang Dikecualikan&lt;br /&gt;Syarat ini terdapat dalam firman Allah dalam surat An-Nuur : 31 berbunyi : "Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka (mertua) atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara mereka (kakak dan adiknya) atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka (=keponakan) atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."&lt;br /&gt;Juga firman Allah dalam surat Al-Ahzab : 59 berbunyi : "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin : "Hendaklah mereka mengulurkann jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."&lt;br /&gt;Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya : "Janganlah kaum wanita menampakkan sedikitpun dari perhiasan mereka kepada pria-pria ajnabi, kecuali yang tidak mungkin disembunyikan."&lt;br /&gt;Ibnu Masud berkata : Misalnya selendang dan kain lainnya. "Maksudnya adalah kain kudung yang biasa dikenakan oleh wanita Arab di atas pakaiannya serat bagian bawah pakiannya yang tampak, maka itu bukan dosa baginya, karena tidak mungkin disembunyikan."&lt;br /&gt;Al-Qurthubi berkata : Pengecualian itu adalah pada wajah dan telapak tangan. Yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah bahwa Asma binti Abu Bakr menemui Rasulullah sedangkan ia memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah berpaling darinya dan berkata kepadanya : "Wahai Asma ! Sesungguhnya jika seorang wanita itu telah mencapai masa haid, tidak baik jika ada bagian tubuhnya yang terlihat, kecuali ini." Kemudian beliau menunjuk wajah dan telapak tangannya. Allah Pemberi Taufik dan tidak ada Rabb selain-Nya."&lt;br /&gt;2. Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan&lt;br /&gt;Ini berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 31 berbunyi : "Dan janganlah kaum wanita itu menampakkan perhiasan mereka."&lt;br /&gt;Secara umum kandungan ayat ini juga mencakup pakaian biasa jika dihiasi dengan sesuatu, yang menyebabkan kaum laki-laki melirikkan pandangan kepadanya. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 33 : "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti oang-orang jahiliyah."&lt;br /&gt;Juga berdasarkan sabda Nabi : "Ada tida golongan yang tidak akan ditanya yaitu, seorang laki-laki yang meninggalkan jamaah dan mendurhakai imamnya serta meninggal dalam keadaan durhaka, seorang budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri (dari tuannya) lalu ia mati, serta seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya, padahal suaminya telah mencukupi keperluan duniawinya, namun setelah itu ia bertabarruj. Ketiganya itu tidak akan ditanya." (Dikeluarkan Al-Hakim 1/119 dan disepakati Adz-Dzahabi; Ahmad VI/19; Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad; At-Thabrani dalam Al-Kabir; Al-Baihaqi dalam As-Syuaib).&lt;br /&gt;Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang wajib ditutup karena dapat membangkitkan syahwat laki-laki. (Fathul Bayan VII/19).&lt;br /&gt;3. Kainnya Harus Tebal (Tidak Tipis)&lt;br /&gt;Sebab yang namanya menutup itu tidak akan terwujud kecuali harus tebal. Jika tipis, maka hanya akan semakin memancing fitnah (godaan) dan berarti menampakkan perhiasan. Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda : "Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakain namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk."&lt;br /&gt;Di dalam hadits lain terdapat tambahan : "Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan mencium baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian." (At-Thabrani dalam Al-Mujam As-Shaghir hal. 232; Hadits lain tersebut dikeluarkan oleh Muslim dari riwayat Abu Hurairah. Lihat Al-HAdits As-Shahihah no. 1326).&lt;br /&gt;Ibnu Abdil Barr berkata : Yang dimaksud oleh Nabi adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang. (dikutip oleh As-Suyuthi dalam Tanwirul Hawalik III/103).&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahawsannya Umar bin Al-Khattab pernah memakai baju Qubthiyah (jenis pakaian dari Mesir yang tipis dan berwarna putih) kemudian Umar berkata : Jangan kamu pakaikan baju ini untuk istri-istrimu !. Seseorang kemudian bertanya : Wahai Amirul Muminin, Telah saya pakaikan itu kepada istriku dan telah aku lihat di rumah dari arah depan maupun belakang, namun aku tidk melihatnya sebagai pakaian yang tipis ! Maka Umar menjawab : Sekalipun tidak tipis, namun ia mensifati (menggambarkan lekuk tubuh). (Riwayat Al-Baihaqi II/234-235; Muslim binAl-Bitthin dari Ani Shalih dari Umar).&lt;br /&gt;Atsar di atas menunjukkan bahwa pakaian yang tipis atau yang mensifati dan menggambarkan lekuk-lekuk tubuh adalah dilarang. Yang tipis (transparan) itu lebih parah daripada yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal). Oleh karena itu Aisyah pernah berkata : "Yang namanya khimar adalah yang dapat menyembunyikan kulit dan rambut."&lt;br /&gt;4. Harus Longgar (Tidak Ketat) Sehingga Tidak Dapat Menggambarkan Sesuatu Dari Tubuhnya&lt;br /&gt;Usamah bin Zaid pernah berkata : Rasulullah pernah memberiku baju Quthbiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku : "Mengapa kamu tidak mengenakan baju Quthbiyah ?" Aku menjawab : Aku pakaiakan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda : "Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Quthbiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya." (Ad-Dhiya Al-Maqdisi dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441; Ahmad dan Al-Baihaqi dengan sanad Hasan).&lt;br /&gt;Aisyah pernah berkata : Seorang wanita dalam shalat harus mengenakan tiga pakaian : Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya. (Ibnu Sad VIII/71).&lt;br /&gt;Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar : Jika seorang wanita menunaikan shalat, maka ia harus mengenakan seluruh pakainnya : Baju, khimar dan milhafah (mantel). (Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf II:26/1).&lt;br /&gt;Ini semua juga menguatkan pendapat yang kami pegangi mengenai wajibnya menyatukan antara khimar dan jilbab bagi kaum wanita jika keluar rumah.&lt;br /&gt;5. Tidak Diberi Wewangian Atau Parfum&lt;br /&gt;Dari Abu Musa Al-Asyari bahwasannya ia berkata : Rasulullah bersabda : "Siapapun wanita yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina." (An-Nasai II/283; Abu Daud II/192; At-Tirmidzi IV/17; Ahmad IV/100, Ibnu Khuzaimah III/91; Ibnu Hibban 1474; Al-Hakim II/396 dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).&lt;br /&gt;Dari Zainab Ats-Tsaqafiyah bahwasannya Nabi bersabda : "Jika salah seorang diantara kalian (kaum wanita) keluar menuju masjid, maka jangan sekali-kali mendekatinya dengan (memakai) wewangian." (Muslim dan Abu Awanah dalam kedua kitab Shahih-nya; Ash-Shabus Sunan dn lainnya).&lt;br /&gt;Dari AbuHurairah bahwa ia berkata : Rasulullah bersabda : "Siapapun wanita yang memakai bakhur (wewangian yang berasal dari pengasapan), maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat Isya yang akhir." (ibid)&lt;br /&gt;Dari Musa bin Yasar dari Abu Hurairah : Bahwa seorang wanita berpapasan dengannya dan bau wewangian menerpanya. Maka Abu Hurairah berkata : Wahai hamba Allah ! Apakah kamu hendak ke masjid ? Ia menjawab : Ya. Abu Hurairah kemudian berkata : Pulanglah saja, lalu mandilah ! karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda : "Jika seorang wanita keluar menuju masjid sedangkan bau wewangian menghembus maka Allah tidak menerima shalatnya, sehingga ia pulang lagi menuju rumahnya lalu mandi." (Al-Baihaqi III/133; Al-Mundziri III/94).&lt;br /&gt;Alasan pelarangannya sudah jelas, yaitu bahwa hal itu akan membangkitkan nafsu birahi. Ibnu Daqiq Al-Id berkata : Hadits tersebut menunjukkan haramnya memakai wewangian bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, karena hal itu akan dapat membangkitkan nafsu birahi kaum laki-laki (Al-Munawi dalam Fidhul Qadhir dalam mensyarahkan hadits dari Abu Hurairah).&lt;br /&gt;Saya (Al-Albany) katakan : Jika hal itu saja diharamkan bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, lalu apa hukumnya bagi yang hendak menuju pasar, atau tempat keramaian lainnya ? Tidak diragukan lagi bahwa hal itu jauh lebih haram dan lebih besar dosanya. Al-Haitsami dalam kitab AZ-Zawajir II/37 menyebutkan bahwa keluarnya seorang wanita dari rumahnya dengan memakai wewangian dn berhias adalah termasuk perbuatan kabair (dosa besar) meskipun suaminya mengizinkan.&lt;br /&gt;6. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki&lt;br /&gt;Karena ada beberapa hadits shahih yang melaknat wanita yang menyrupakan diri dengan kaum pria, baik dalam hal pakaian maupun lainnya.&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria (Abu Daud II/182; Ibnu Majah I/588; Ahmad II/325; Al-Hakim IV/19 disepakati oleh Adz-Dzahabi).&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Amru yang berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda : "Tidak termasuk golongan kami para wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria dan kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita." (Ahmad II/199-200; Abu Nuaim dalam Al-Hilyah III/321)&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas yang berkata : Nabi melaknat kaum pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelaki-lakian. Beliau bersabda : "Keluarkan mereka dari rumah kalian. Nabi pun mengeluarkan si fulan dan Umar juga mengeluarkan si fulan." Dalam lafadz lain : "Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria." (Al-Bukhari X/273-274; Abu Daud II/182,305; Ad-Darimy II/280-281; Ahmad no. 1982,2066,2123,2263,3391,3060,3151 dan 4358; At-Tirmidzi IV/16-17; Ibnu Majah V/189; At-Thayalisi no. 2679).&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Umar yang berkata : Rasulullah bersabda : "Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat; Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang bertingkah kelaki-lakian dan menyerupakan diri dengan laki-laki dan dayyuts (orang yang tidak memiliki rasa cemburu)." (An-Nasai !/357; Al-Hakim I/72 dan IV/146-147 disepakati Adz-Dzahabi; Al-Baihaqi X/226 dan Ahmad II/182).&lt;br /&gt;Dalam haits-hadits ini terkandung petunjuk yang jelas mengenai diharamkannya tindakan wanita menyerupai kaum pria, begitu pula sebaiknya.&lt;br /&gt;Ini bersifat umum, meliputi masalah pakaian dan lainnya, kecuali hadits yang pertama yang hanya menyebutkan hukum dalam masalah pakaian saja.&lt;br /&gt;7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir&lt;br /&gt;Syariat Islam telah menetapkan bahwa kaum muslimin (laki-laki maupun perempuan) tidak boleh bertasyabuh (menyerupai) kepada orang-orang kafir, baik dalam ibadah, ikut merayakan hari raya, dan berpakain khas mereka. Dalilnya : Firman Allah surat Al-Hadid : 16, berbunyi : "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik."&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Al-Iqtidha hal. 43 : Firman Allah "Janganlah mereka seperti..." merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka, di samping merupakan larangan khusus dari tindakan menyerupai mereka dalam hal membatunya hati akibat kemaksiatan. Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini (IV/310) berkata : Karena itu Allah melarang orang-orang beriman menyerupai mereka dalam perkara-perkara pokok maupun cabang.&lt;br /&gt;Allah berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) : "Raaina" tetapi katakanlah "Unzhurna" dan dengarlah. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih."&lt;br /&gt;Ibnu Katsir I/148 berkata : Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mnyerupai ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orang-orang kafir. Sebab, orang-orang Yahudi suka menggunakan plesetan kata dengan tujuan mengejek. Jika mereka ingin mengatakan "Denagrlah kami" mereka mengatakan "Raaina" sebagai plesetan kata "ruunah" (artinya ketotolan) sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 46.&lt;br /&gt;Allah telah memberi tahukan (dalm surat Al-Mujadalah : 22) bahwa tidak ada seorang mumin yang mencintai orang-orang kafir. Barangsiapa yang mencintai orang-orang kafir, maka ia bukan orang mumin, sedangkan tindakan menyerupakan diri secara lahiriah merupakan hal yang dicurigai sebagai wujud kecintaan, oleh karena itu diharamkan&lt;br /&gt;8. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas (Pakaian Kebesaran)&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits Ibnu Umar yang berkata : Rasulullah bersabda : "Barangsiapa mengenakan pakaian (libas) syuhrah di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka." (Abu Daud II/172; Ibnu Majah II/278-279).&lt;br /&gt;Libas Syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakain tersebut mahal, yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah, yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya (Asy-Syaukani dalam Nailul Authar II/94). Ibnul Atsir berkata : "Syuhrah artinya terlihatnya sesuatu. Maksud dari Libas Syuhrah adalah pakaiannya terkenal di kalangan orang-orang yang mengangkat pandangannya mereka kepadanya. Ia berbangga terhadap orang lain dengan sikap angkuh dan sombong."&lt;br /&gt;Kesimpulannya adalah : Hendaklah menutup seluruh badannya, kecuali wajah dan dua telapak dengan perincian sebagaimana yang telah dikemukakan, jilbab bukan merupakan perhiasan, tidak tipis, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak disemprot parfum, tidak menyerupai pakaian kaum pria atau pakaian wanita-wanita kafir dan bukan merupakan pakaian untuk mencari popularitas.&lt;br /&gt;Dikutip dari Kitab Jilbab Al-Marah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah (Syaikh Al-Albany)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112035397261116284?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112035397261116284/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112035397261116284' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035397261116284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035397261116284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/jilbab-wanita-muslimah.html' title='Jilbab Wanita Muslimah'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112035388856563202</id><published>2005-07-03T08:23:00.001+07:00</published><updated>2005-07-03T08:24:48.566+07:00</updated><title type='text'>Ta'aruf Gagal Terus??</title><content type='html'>Fenomena yang sering terjadi dikalangan muslim dan muslimah yang sedang mempersiapkan diri ke gerbang pernikahan biasanya akan melalui “fase ta’aruf”. Suatu usaha atau ikhtiar untuk mengetahui hakikat calon pasangan kita. Bagaimana sifat dan karakternya, keluarganya, gaya hidupnya, dan seabreg-abreg “rahasia si dia” yang ingin kita ketahui dengan detail dalam ta’aruf adalah di bolehkan dalam islam. Agar mantap sebelum terjadi pinangan/lamaran. Sayangnya, sering terjadi dari pihak wanita kurang jeli dalam memanfaatkan moment ini, banyak diantara mereka yang melihat beberapa nilai plus dari calonnya langsung mengatakan “iya”, terburu-buru menjatuhkan pilihan. Dengan alasan bahwa lamaran bisa di batalkan atau dengan kata lain mudah dibatalkan maka ketika ditengah perjalanan sering kita temui “korban-korban” berjatuhan, baik dari pihak wanita maupun laki-lakinya. Banyak di pihak lelaki kecewa atau juga mungkin dari pihak laki-laki yang menarik pinangannya sehingga pihak wanita juga kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagal dalam ta’aruf ? jangan terlalu bersedih dan kecewa. Tapi juga ingat dan sadari berapa banyak pilihan yang kita inginkan dari calon pasangan kita. Ingatlah,..bahwa sosok yang kita harapkan menjadi pendamping hidup kita tidak akan bisa sempurna total!!  bagi pihak wanita biasaya figure yang diharapkan adalah seperti Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan bagi pihak lelaki sudah sering penulis dengar menginginkan sosok yang cerdas seperti Aisyah  atau mungkin yang berhati mulia seperti Khadijah. Terlalu tinggi memasang target?? Iya,..karena itulah banyak yang mengharapkan calon pasangannya mampu begini dan begitu harus bisa ini dan itu dan sebagainya. Sehingga sebenarnya kegagalan dalam melewati fase ta’aruf adalah karena tingginya target yang di harapkan dari calon pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dengan jujur apa yang ada dalam diri kita, mengaca dan menggali kembali kemampuan, kelebihan dan kekurangannya adalah sangat perlu di perhatikan bagi muslim dan muslimah yang berniat akan menikah. Sehingga apabila memang hatinya “khalisan lillah li wajhillah” benar-benar ingin menikah karena Allah, ikhlas karena Allah semata, karena mengharapkan wajah-Nya semata maka dia tidak akan memasang target atau impian yang terlalu tinggi dan muluk. Karena sesungguhnya Allah sendiri telah menjamin hal itu bagi hamba-hamba-Nya yang baik yang shalih akan mendapatkan pasangan yang shalihah juga sebagaimana firman-Nya: “Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula” (An-Nuur: 26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfikir positif dan selalu berhusnudzan (berbaik sangka/ positive thinking- pen) kepada Allah harus selalu ada dalam pikiran kita ketika menghadapi kegagalan dalam ta’aruf.Boleh jadi ketika kita sangat menginginkan calon pasangan kita itu ternyata ia adalah bukan yang terbaik di sisi Allah Azza wa jalla, dan kemungkinan lain Allah akan menggantikannya dengan calon lain yang lebih baik. Cobalah renungkan pula firman-Nya berikut ini : “ …boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahuinya” (Al-Baqarah :216)&lt;br /&gt;Tetaplah berdoa dan berusaha  sesuai dengan kemampuan kita dan janganlah terlalu memasang target yang terlalu tinggi sebagaimana penulis ungkapkan diatas agar kita tidak selalu “gagal” dalam ta’aruf .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saudariku muslimah yang masih “gagal” dalam ta’aruf perbanyaklah doa kepada-Nya. Mintalah yang terbaik bagi kehidupanmu di dunia dan akhirat nanti. Janganlah karena omongan kanan-kiri,  karena usiamu yang terus bertambah membuat engkau tak sabar. Ingatlah bahwa pernikahan bukanlah hanya untuk satu hari atau dua hari dan berapa banyak tanggung jawab yang akan engkau emban setelah engkau menikah tentu akan membuatmu berfikir dengan akalmu bukan dengan perasaanmu. Jangan menyerah,..wahai saudariku !! Usaha ta’aruf lagi sampai Allah pertemukan engkau dengan calon pasanganmu. Sesungguhnya IA tidak akan menyia-nyiakan amal usahamu dan juga doamu.Wallahu ‘alam bish-shawwab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112035388856563202?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112035388856563202/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112035388856563202' title='1 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035388856563202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035388856563202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/taaruf-gagal-terus.html' title='Ta&apos;aruf Gagal Terus??'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112035381127550250</id><published>2005-07-03T08:23:00.000+07:00</published><updated>2005-07-03T08:23:31.283+07:00</updated><title type='text'>Ya,ukhti...Janganlah Engkau Ceritakan Sifat Temanmu Kepada Suamimu</title><content type='html'>Jangan sekali-kali engkau melakukannya!!.Bila engkau lupa maka mohonlah ampun kepada-Nya.Tahukah engkau saudariku, secara tidak langsung engkau telah menjerumuskan suamimu kepada zina hati.karena itulah islam sangat keras melarangnya. Yang sangat disayangkan banyak tidak disadari oleh saudari-saudari kita yang telah bersuami melupakan hal ini atau mungkin banyak diantara mereka yang tidak tahu tentang larangan ini.Mungkin sebenarnya engkau tidak berniat demikian,engkau hanya ingin mengabarkan apa saja yang telah engkau dapati bersama temanmu itu sebagai bahan obrolan ketika sedang bercengkerama bersama suamimu, tapi engkau lupa bahwa suamimu adalah manusia biasa yang memiliki hati dan syahwat.Sehingga hati akan mudah tergoda jadilah ia menghayalkan seakan-akan melihat temanmu itu.&lt;br /&gt;Bila engkau membaca kisah tentang Aisyah dan keutamaannya maka akan engkau dapati bahwa beliau memang benar-benar sosok yang sangat cerdas dan pandai.Memiliki ketajaman akal yang luar biasa, akan engkau temui betapa takutnya ia terhadap hal ini.Sehingga ketika para shohabiyat mengunjunginya untuk bertanya atau menimba ilmu dari beliau maka sebelum mereka pulang, Aisyah radyillahu anha selalu menyisipkan nasehat ketelinga mereka agar jangan sekali-kali menceritakan tentang dirinya kepada suami-suami mereka (suami para shohabiyat). Karena beliau sangat takut dirinya akan terjatuh dalam fitnah.Semoga bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua.&lt;br /&gt;Ya ukhti,.....yang terkadang kita sendiri jatuh ke dalam fitnah ini, setan begitu mudah menggelitik hati kita sehingga kita tidak merasa risi ketika teman kita bercerita kepada kita bahwa suaminya berkomentar bagus tentang diri kita.Bahkan terkadang telinga kita merasa senang mendengarnya..Astagfirullahi begitu jauhnya perbedaan kita dengan para wanita di zaman dahulu (generasi salafiyah).&lt;br /&gt;Ya, bila memang engkau penasaran dan ingin mengetahui lebih dalam tentang hal ini maka sungguh telah datang hadits yang mulia dari sebaik-baik manusia diatas muka bumi ini, junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam telah bersabda:&lt;br /&gt;"Tidak diperbolehkan seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu menceritakannya kepada suaminya seakan-akan suaminya itu melihatnya"(Hadits Riwayat Bukhari, lihat Kitabun Nikah)&lt;br /&gt;Kini engkau telah tahu larangannya semua mencakup teman dekatmu seperti sahabatmu, atau teman kuliahmu atau teman-teman pergaulanmu yang lainnya.Imam Ibnul Jauzi juga pernah berkata tentang hal ini:&lt;br /&gt;"Wanita dilarang melakukan itu karena seorang laki-laki mendengar sifat seorang wanita maka keinginannya akan tergerak, hatinyapun akan bergolak, dan jiwanya juga akan senantiasa merindukan wanita yang disifatinya itu " (30 Larangan Wanita, hal:81-82)&lt;br /&gt; Jadi kita telah tahu bahwa islam melarang hal ini karena akan menimbulkan dampak yang tidak baik pada suami kita.Misalnya akan membuat hatinya tidak tenang dan gelisah.Pikirannya akan sibuk membanding-bandingkan antara istrinya dan wanita lain.Sehingga dapat mengguncangkan dirinya akibat khayalannya dalam melakukan perbandingan tersebut.Karena itu, janganlah engkau menyalahkan suamimu bila kelak nanti ia mengeluh mengapa engkau tak sepandai fulanah, atau tak secantik fulanah atau tak serapi fulanah dan keluhan-keluhan lainnya.Jadi salahkanlah dirimu sendiri ya ukhti,...engkau yang mulai membakar api maka engkau pula yang akan menerima asapnya.Kecuali suami yang dirahmati Allah maka ia akan menasehati istrinya agar jangan melakukan yang demikian.&lt;br /&gt; Sungguh engkau sangat mengharapkan rumah tangga yang sakinah (tenang) mawaddah (penuh cinta kasih) warrahmah (penuh rahmat) didalamnya.Karena itu camkanlah hal ini.Mungkin kisah nyata yang penulis lihat sendiri bisa menjadi ibrah bersama, bahwa memang apa yang Rasulullah sabdakan semua itu adalah untuk kebaikan dan kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.Teman penulis yang kini telah menjanda (semoga Allah memberi ganti yang lebih baik) mungkin engkau akan bertanya apa sebabnya.Sesal memang selalu saja tiba di belakang hari.Betapa terkejutnya ia ketika ia mendapatkan talak dari suaminya dan sang suaminya kini menikahi sahabatnya.Sahabat dekatnya yang rajin mengunjunginnya yang sangat ia percaya kini menjadi pendamping bekas suaminya.Tak terbayangkan betapa kecewa hatinya.Tentu engkau telah tahu sebabnya kini.Sehingga engkau akan lebih waspada dan hati-hati.Semoga Allah selalu menjaga kita dari hal-hal yang dimurkai-Nya dan menjadikan kita sebaik-baik wanita diatas muka bumi ini yaitu wanita shalihah yang menjadi dambaan para suami kita.&lt;br /&gt;Wahai para suami,....sungguh kami tidaklah jauh berbeda denganmu sangat membutuhkan nasehat dan bimbinganmu karena itu bila engkau menemui hal ini maka berilah kami teguran secepatnya agar kami tidak ikut menjerumuskanmu dalam syahwat yang bergelora.Sesungguhnya nasehat itu sangatlah bermanfaat bagi kami, karena kelalaian dan kealpaan tidaklah pernah hilang dan lepas dari kami, para istri ....dan semoga Allah memberi pahala atas apa yang engkau lakukan kepada kami.amiin.Wallahu 'alam bisshawwab.&lt;br /&gt;sumber bacaan:&lt;br /&gt;1.30 Larangan Wanita,Amr bin Abdul Mun'im,Pustaka Azzam&lt;br /&gt;2.Jati Diri Wanita Muslimah,Dr.Muhammad Ali Al-Hasyimi,Pustaka Al-Kautsar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112035381127550250?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112035381127550250/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112035381127550250' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035381127550250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112035381127550250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/yaukhtijanganlah-engkau-ceritakan.html' title='Ya,ukhti...Janganlah Engkau Ceritakan Sifat Temanmu Kepada Suamimu'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112032058654543670</id><published>2005-07-02T23:09:00.000+07:00</published><updated>2005-07-02T23:09:46.550+07:00</updated><title type='text'>Kembalilah kepada ahli ilmu</title><content type='html'>asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad&lt;br /&gt;Diantara kesalahpahaman dalam agama adalah apa yang dilakukan oleh khawarij yang memberontak kepada kholifah Ali Bin Abi Thalib hingga beliau terbunuh...&lt;br /&gt;Kembalilah kepada ahli ilmu !!!&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabi kita Muhammad, para sahabat dan pengikut beliau sampai hari kiamat nanti. Amma ba’du : Sesungguhnya syaitan memiliki dua jalan untuk menggelincirkan kaum muslimin dan menyesatkan mereka, jalan itu adalah :&lt;br /&gt;Jika mereka itu pengumbar syahwat dan melalaikan ketaatan kepada Allah, maka dihiasi untuk mereka kemaksiatan dan syahwat sehingga terjerumus didalamnya. Nabi bersabda :&lt;br /&gt;Surga dihiasi dengan hal-hal yang tidak disukai dan neraka itu dihiasi dengan syahwat (Hadits riwayat Bukhari No 6487 dan Muslim No 2822)&lt;br /&gt;Jika seorang itu ahli ibadah maka syaitan akan menjerumuskan mereka ke dalam lubang ekstrim (berlebih-lebihan) dalam agama, untuk merusaknya dari dalam. Allah berfirman :&lt;br /&gt;Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. (an-Nisa : 171)&lt;br /&gt;Nabi bersabda :&lt;br /&gt;“Janganlah kalian melampaui batas dalam beragama karena sesungguhnya kehancuran orang terdahulu disebabkan oleh sikap berlebih-lebihan dalam beragama.” (Hadits riwayat Nasai dan selainnya, lihat silsilah hadits shahihah karangan Syaikh al-Albani No 1283)&lt;br /&gt;Diantara makar syaitan terhadap orang yang ekstrim ini adalah dihiasinya hawa nafsu dan kesalahpahaman dalam agama. Mereka dijauhkan dari ahli ilmu agar mereka buta terhadap kebenaran, sehingga mereka tetap dalam kesesatan. Allah berfirman :&lt;br /&gt;Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imran : 7)&lt;br /&gt;Didalam shahih Bukhari 4547 dan Muslim 2665, dari Aisyah (semoga Allah meridhainya) bahwasanya Nabi membaca ayat tadi seraya bersabda :&lt;br /&gt;Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihaat/samar-samar maka mereka itulah yang dimaksud Allah. Oleh karena itu berhati-hatilah terhadap mereka.”&lt;br /&gt;Nabi bersabda :&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang Allah menginginkan kebaikan baginya, niscaya Allah akan menjadikannya faham tentang agama .” (Hadits riwayat Bukhari 71 dan Muslim 1037)&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa tanda kebaikan seorang itu ada dalam pemahamannya terhadap agama dan sebaliknya, jika Allah tidak menginginkan kebaikan kepadanya maka dia tidak faham terhadap agama, bahkan dia salah dalam memahami agama.&lt;br /&gt;Diantara kesalahpahaman dalam agama adalah apa yang dilakukan oleh khawarij yang memberontak kepada kholifah Ali Bin Abi Thalib hingga beliau terbunuh. Mereka memahami nash-nash syariat dengan pemahaman yang salah dan menyelisihi pemahaman sahabat Nabi .&lt;br /&gt;Oleh karena itu ketika Abdullah bin Abbas berdialog dengan mereka serta menjelaskan kepada mereka pemahaman yang benar, sebagian besar dari mereka kembali ke jalan yang benar. Adapun kisah dialog beliau ini ada dalam “Mustadrak Hakim” jilid 2 halaman 150-152, dengan isnad yang shahih :&lt;br /&gt;Beliau berkata kepada khowarij : “Aku adalah utusan sahabat Nabi dari kalangan Muhajirin dan Anshor kepada kalian untuk menyampaikan pendapat mereka, karena kepada merekalah al-Qur’an diturunkan. Mereka lebih mengetahui akan wahyu ilahi daripada kalian semua. Dan tidak ada seorangpun dari sahabat Nabi yang bersama kalian.”&lt;br /&gt;Lalu diantara orang khawarij itu berkata : “Jangan kalian mendebat orang Quraisy ini, karena Allah berfirman :&lt;br /&gt;“Merekalah orang-orang yang pandai berdebat.” (Az-Zukhruf : 58)&lt;br /&gt;Abdullah bin Abbas berkata : “Aku tidak pernah melihat orang yang paling rajin dalam beribadah selain mereka (khowarij), wajah-wajah mereka kusut karena banyak shalat malam, seolah-olah tangan dan kaki mereka menyanjung mereka.” Sebagian mereka (kaum khawarij) berkata : “Sungguh kita akan mengajaknya (Ibnu Abbas) untuk berdialog.”&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata : “Ceritakanlah kepadaku apa yang kalian benci dari anak paman Rasululah (Ali bin Abi Thalib) serta kaum Muhajirin dan Anshar!”Mereka berkata : “Ada tiga hal.”&lt;br /&gt;Aku (Ibnu Abbas) berkata : “Apa itu ?”&lt;br /&gt;Mereka menjawab : “Pertama, Ali bin Abi Thalib memutuskan hukum diantara manusia dalam agama Allah, padahal Allah berfirman : ?“Sesungguhnya hukum itu hanya milik Allah.” (Yusuf : 67)&lt;br /&gt;Mereka melanjutkan perkataannya : "Manusia tidak berhak untuk menghukumi."Maka aku berkata : “Ini yang pertama.”&lt;br /&gt;Mereka berkata : “Kedua, Ali bin Abi Thalib memerangi Aisyah (istri Nabi), tapi dia tidak mau menawan dan tidak mengambil ghonimah/rampasan perang. Padahal jika yang diperangi itu orang kafir maka boleh menawan dan mengambil ghanimah. Dan jika yang diperangi itu orang mukmin maka ini tidak diperbolehkan.”Saya berkata : “Ini yang kedua, lalu mana yang ketiga?”&lt;br /&gt;Mereka mengatakan : “Ali bin Abi Thalib menghapus gelarnya sebagai amirul mukminin/ pemimpin kaum mukminin, maka dia itu amirul kafirin/pemimpin kaum kafir.” Saya berkata : “Apakah masih ada yang lain?” Mereka mengatakan : “Cukup itu saja.”&lt;br /&gt;Maka aku pun berkata kepada mereka : “Bagaimana pendapat kalian jika aku membacakan al-Qur’an kepada kalian dan sunnah Rasulullah yang membantah perkataan kalian, apakah kalian ridho?”Mereka berkata : “Ya, kami ridho.”&lt;br /&gt;Aku berkata : “Adapun ucapan kalian bahwa Ali bin Abi Thalib memutuskan hukum diantara manusia dalam agama Allah, maka aku akan membacakan kepada kalian (ayat yang membantah pendapat kalian) tentang perintah untuk berhukum kepada manusia sebesar 1/4 dirham dalam masalah kelinci dan selainnya dari hewan buruan, Allah berfirman :&lt;br /&gt;?“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu.” (al-Maidah : 95)&lt;br /&gt;Kemudian Ibnu Abbas melanjutkan perkataannya : “Aku bersumpah dengan nama Allah, apakah hukum yang diputuskan manusia dalam masalah kelinci dan selainnya dari binatang buruan lebih utama daripada hukum yang diputuskan mereka dalam masalah pertumpahan darah dan perdamaian antara kaum muslimin?! Dan hendaknya kalian mengetahui, jika Allah berkehendak, tentulah Dia akan memutuskan hukum sendiri dan tidak menguasakannya kepada manusia. Begitu juga dalam masalah suami istri, Allah berfirman :&lt;br /&gt;Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (an-Nisa : 35)&lt;br /&gt;Allah menjadikan berhukum kepada manusia sebagai sunnah yang terjaga, apakah kalian menerimanya?”Mereka mengatakan : “Ya”&lt;br /&gt;Aku berkata lagi : “Adapun perkataan kalian bahwa Ali bin Thalib memerangi tapi tidak menawan dan tidak mengambil ghanimah, (maka jawabannya) apakah kalian ingin menawan ibu kalian sendiri Aisyah radhiyallahuanha? Kemudian kalian menghalalkan (darah dan kehormatannya) seperti orang lain? Jika kalian menginginkan itu maka kalian telah kafir, karena dia adalah ibu kalian. Dan jika kalian mengatakan dia bukan ibu kita, kalian juga kafir, karena Allah berfirman :&lt;br /&gt;Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. (al-Ahzab : 6)&lt;br /&gt;Setelah penjelasan ini kalian mengetahui, bahwa kalian berada diantara dua kesesatan, mana saja yang kalian pilih, kalian tetap berada dalam kesesatan.”Maka sebagian mereka melihat kepada sebagian lainnya (karena kebingungan).Aku berkata : “Apakah kalian menerima hal ini?”Mereka mengatakan : “Ya”&lt;br /&gt;Aku berkata : “Adapun perkataan kalian bahwa Ali bin Abi Thalib menghapus gelarnya sebagai Amirul Mukminin, maka aku akan menyebutkan orang yang kalian ridhoi, yaitu Nabi yang mana pada perjanjian Hudaibiyyah beliau menulis surat kepada Suhail bin Amru dan Abu Sufyan bin Harb, Rasulullah berkata kepada Amirul mukminin : “Tulislah wahai Ali, ini perdamaian dari Muhammad Rasulullah, maka orang-orang musyrikin itu membantah : “Tidak, demi Allah ini adalah istilah yang dibikin Muhammad bin Abdillah, seandainya kami mengetahui kamu Rasulullah tidaklah kami memerangimu.” Rasululullah berkata : “Ya Allah. Sungguh Engkau mengetahui bahwa aku adalah utusan-Mu. Wahai Ali tulislah : ini adalah perdamaian dari Muhammad bin Abdillah !”&lt;br /&gt;Demi Allah sesungguhnya Rasulullah lebih mulia daripada Ali bin Abi Thalib, tidaklah beliau keluar dari kenabian ketika menghapus gelar “Rasulullah ?" Abdullah bin Abbas bekata : “Maka bertobatlah sebanyak dua ribu orang dari kalangan mereka dan sisanya di bunuh di atas kesesatan.&lt;br /&gt;Dalam kisah ini ada dua ribu orang dari golongan khawarij yang kembali kepada kebenaran karena penjelasan dan keterangan dari Abdullah bin Abbas. Disini ada pelajaran yang sangat berharga sekali yaitu kembali kepada ahli ilmu membuahkan keselamatan dari segala kejelekan dan fitnah. Allah berfirman :&lt;br /&gt;“Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl : 43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji':Dinukil dari tulisan asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam kitab "Bi ayyi aqlin wa dinin yakunu tafjiru jihadan"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112032058654543670?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112032058654543670/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112032058654543670' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112032058654543670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112032058654543670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/kembalilah-kepada-ahli-ilmu.html' title='Kembalilah kepada ahli ilmu'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112032054887896383</id><published>2005-07-02T22:48:00.000+07:00</published><updated>2005-07-02T23:09:08.906+07:00</updated><title type='text'>Menyingkap Hakekat Dai Kondang</title><content type='html'>Contoh yang paling menonjol (dalam hal ini) adalah orang Khawarij yang membunuh Ali bin Abi Thalib yaitu Abdurrahman bin Muljam al-Murodi. Orang ini telah mendapatkan pujian dari sahabat Rasulullah. Saya akan membacakan kepada anda ucapan imam Adz-Dzahabi tentang Abdurrahman bin Muljam dan juga ucapan Ibnu Hajar . Imam Adz-Dzahabi berkata dalam kitabnya al-Mizan : (Lihat “Mizanul I’tidal” oleh Imam Adz-Dzahabi Juz 4 hal 320 cet. Darul Kutub Ilmiyyah. (pent) Dia adalah seorang ahli ibadah, taat kepada Allah, akan tetapi akhir hayatnya ditutup dengan kejelekan. Dialah yang membunuh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib guna mendekatkan diri kepada Allah menurut prasangkaanya, maka orang ini pun dipotong kedua tangan dan kakinya serta lisannya, dan dicungkil kedua matanya lalu dibakar -semoga Allah menganugerahkan kepada kita keselamatan dan kebaikan-.&lt;br /&gt;Mengungkap hakekat dan jati diri dai-dai kondang : Awad al-Qorni, A'id al-Qorni, Salman al-Audah, Safar Hawali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan memohon ampunan serta bertobat kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan-kejelekan diri dan perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada seorangpun yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du :&lt;br /&gt;Tema pengajian hari ini adalah menyingkap keplin-planan dai-dai kondang sekaligus meluruskan persepsi (sebagian orang). Disini saya akan membawakan serta menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan sikap dan jati diri dai-dai tersebut pada tahun ini dan sebelumnya. Demi Allah, hal ini bukan bertujuan untuk memuaskan hawa nafsu terhadap mereka, tidak. Akan tetapi tujuan dan maksud kita memaparkan keplin-planan mereka agar kita mengerti hakekat mereka sebenarnya, lalu kita menunjukkan sikap (terhadap mereka ini) sehingga terlepas tanggung jawab kita dihadapan Allah . Sebelum saya mulai menyebutkan sikap-sikap dan ucapan mereka yang bertolak belakang, saya akan menjelaskan 4 hal penting, yaitu :&lt;br /&gt;1. Kebanyakan orang menyangka bahwa setiap perbuatan / perkataan yang dapat memudharatkan serta mengganggu orang-orang kafir itu di syari’atkan dan diperintahkan dalam syari’at Islam secara mutlak. Padahal persepsi dan pendapat diatas ini salah, karena boleh jadi sesuatu itu memudharatkan orang-orang kafir akan tetapi kadang hal tersebut dilarang untuk kita melakukannya dan kadang juga kita diwajibkan melakukannya. Semua itu harus berlandaskan kepada dalil-dalil syariat (al-Qur’an dan Sunnah serta pemahaman salafus shalih) dan harus ditimbang kembali maslahat dan mafsadahnya bagi kaum muslimin. Contohnya kisah hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah, telah kita ketahui bersama bahwa Nabi dan para sahabatnya berhijrah dari Makkah ke Madinah, mereka tinggalkan kota Makkah untuk ditempati orang-orang kafir, hal ini membuat orang-orang kafir tersebut bergembira karena mereka bisa dengan leluasa hidup/tinggal dibumi Makkah tersebut. Hal seperti ini juga bisa kita gambarkan pada zaman ini, kita dapatkan/saksikan kaum muslimin dalam keadaan lemah disebagian negara atau kita dapatkan mereka dalam keadaan kokoh tapi datang orang-orang kafir lalu mereka menguasai negara (kaum Muslimin) dan menjajah mereka. Dalam keadaan seperti ini seorang Muslim tidak dapat menampakkan agamanya, oleh karena itu wajib baginya secara syariat untuk berhijrah dari negerinya menuju ketempat/negeri yang aman yang dia bisa menampakkan agamanya. Hal ini sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah serta Ijma’.Adapun dari al-Qur’an, firman Alalh :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini? “mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas dinegeri (Makkah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu?”. orang-orang itu tempatnya neraka jahanam, dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali” (An-Nisa’ : 97)&lt;br /&gt;Adapun dari sunnah, apa yang diriwayatkan oleh Nasa’i dan selainnya dari hadits Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Nabi bersabda :&lt;br /&gt;“Allah tidak menerima amalan orang musyrik setelah dia masuk Islam hingga dia mau berhijrah ketempat kaum muslimin”&lt;br /&gt;Adapun ijma’ ahli ilmu maka telah dibawakan oleh imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan al-’Aini dalam “Umdatul Qori” bahwasanya bagi seorang muslim jika dia lemah dalam menampakkan agamanya disuatu negeri (maka dia wajib) untuk berhijrah dari negerinya tersebut menuju ke negeri yang ia dapat menampakkan agamanya.Coba perhatikan (wahai saudaraku) sesungguhnya hijrahnya seorang muslim terkadang ada maslahatnya bagi orang-orang kafir, walaupun demikian hal ini diwajibkan kepada kaum muslimin secara ijma’.&lt;br /&gt;Diantaranya lagi yang menunjukkan kesalahan kaidah / persepsi diatas adalah riwayat yang termaktub dalam shahih Bukhari dari hadits Misfar bin Makhromah dan shahih Muslim dari hadits Anas dan selainnya bahwa Nabi menulis perjanjian dan perdamaian dengan orang-orang kafir Quraisy, diantara poin perjanjian tersebut adalah :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang datang kepada Nabi dalam keadaan muslim dari kalangan orang-orang kafir maka wajib untuk dikembalikan kepada mereka dan sebaliknya jika ada yang datang kepada mereka (orang-orang kafir) dari golongan muslim maka diterima (dan tidak dikembalikan)”.&lt;br /&gt;Siapa saja yang membaca perjanjian ini maka (secara sepintas pent.) dia akan mengatakan bahwa ini adalah suatu kecurangan atau kelemahan. Oleh karena itu kebanyakan para sahabat (pada waktu itu) tidak bisa menerima perjanjian tersebut, akan tetapi Nabi bersikukuh terhadap perjanjian diatas meskipun pada dhahirnya menguntungkan orang-orang kafir.&lt;br /&gt;Pahamilah dengan baik -wahai saudaraku muslim- bahwa sesuatu (perbuatan) yang memudharatkan orang-orang kafir tidak selamanya diperintahkan secara syari’at akan tetapi harus dilihat dalil-dalil syari’at ini. Sebagian orang ketika terjadi peledakan (WTC) pada 11 September terutama para pemuda yang semangatnya berkobar - kobar mereka mengatakan : “Ini suatu perbuatan baik dan terpuji”. Jika mereka ditanya mengapa? Mereka menjawab : “Karena hal tersebut (peledakan WTC) memudharatkan orang kafir dan kita dengan peledakan ini bisa mengusik ketenangan Bush atau yang lainnya dari kalangan orang-orang kafir”. Ini sebenarnya suatu kesalahan besar, benar kita bisa mengganggu mereka tapi kita juga telah menyelisihi agama Nabi Muhammad dan kita juga menyebabkan kerusakan dan mudharat yang lebih besar lagi bagi kaum muslimin serta menyebabkan ditumpahkannya darah kaum muslimin. (Seperti yang kita saksikan di Afghanistan, Irak dll. Mereka dengan leluasa dijajah dan ditumpahkan darah mereka, serta dirampas tanah dan dirobek-robek harkat dan martabat mereka. Lihat “Fatawa al-Aimmah fin Nawazil al-Mudlahimmah” oleh Syaikh Muhammad bin Husein bin Sa’id Ali Sufron al-Qohthoni. (pent)&lt;br /&gt;2. Pujian ulama terhadap seseorang serta pemberian rekomendasi kepadanya tidak secara mutlak menunjukkan bahwa orang tersebut terpuji atau baik. Terlebih lagi setelah berlalunya waktu (dia berubah seperti yang kita temui dalam realita kehidupan ini -pent.) Atau juga jika orang tersebut memiliki kebaikan-kebaikan tidaklah mencegah (orang alim -pent.) untuk membicarakan (kesalahan atau kesesatannya) dan sekaligus memperingatkan (umat) darinya, walaupun (ada orang yang beralasan) dia telah mendapat tazkiyah atau rekomendasi dari para ulama atau dengan alasan : dia kan juga memiliki kebaikan-kebaikan atau jasa. Contoh yang paling menonjol (dalam hal ini) adalah orang Khawarij yang membunuh Ali bin Abi Thalib yaitu Abdurrahman bin Muljam al-Murodi. Orang ini telah mendapatkan pujian dari sahabat Rasulullah. Saya akan membacakan kepada anda ucapan imam Adz-Dzahabi tentang Abdurrahman bin Muljam dan juga ucapan Ibnu Hajar .Imam Adz-Dzahabi berkata dalam kitabnya al-Mizan : (Lihat “Mizanul I’tidal” oleh Imam Adz-Dzahabi Juz 4 hal 320 cet. Darul Kutub Ilmiyyah. (pent)&lt;br /&gt;Dia adalah seorang ahli ibadah, taat kepada Allah, akan tetapi akhir hayatnya ditutup dengan kejelekan. Dialah yang membunuh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib guna mendekatkan diri kepada Allah menurut prasangkaanya, maka orang ini pun dipotong kedua tangan dan kakinya serta lisannya, dan dicungkil kedua matanya lalu dibakar -semoga Allah menganugerahkan kepada kita keselamatan dan kebaikan-. Lihatlah, orang ini memiliki kebaikan akan tetapi ketika ia melakukan kejahatan (seperti diatas) maka tidak bisa dimaafkan dengan alasan : (dia kan punya kebaikan !!!)&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata : (Lihat “Lisanul Mizan” oleh Ibnu Hajar Al-Asqolaani 4/312-313 cet. Darul Ihyaturats Islami - Beirut. (pent))&lt;br /&gt;(-diceritakan- Bahwasannya Amru bin Ash meminta kepada Abdurrahman bin Muljam untuk selalu dekat dengannya karena dia termasuk ahli dalam al-Quran serta Fiqih dan dia termasuk pemberani diantara kaumnya di Mesir. Dia juga pernah belajar kepada Mu’adz bin Jabal dan dia termasuk ahli ibadah). Walaupun begitu banyak nya kebaikan orang ini tapi (semua itu) tidak bisa menutupi kesalahan serta kejahatannya yang besar ketika membunuh Ali. Kemudian Ibnu Hajar berkata setelah itu : (-diceritakan pula- bahwa Amru bin ‘Ash mengirim Subaigh bin ‘Asl kepada Umar untuk menanyakan kepada beliau tentang al-Quran dan -diceritakan- bahwa Umar memerintahkan Amru bin Ash untuk menjadikan rumah Abdurrahman bin Muljam dekat dengan masjid supaya dapat mengajari manusia al-Quran dan fiqih dan memerintahkan untuk memperluas rumahnya, hingga rumahnya berada disamping Ibnu Udaisy. Dialah pembunuh Ali bin Abi Thalib yang dulunya dia adalah pengikut setia beliau).Oleh karena itu perhatikanlah -wahai saudara-saudaraku- jika ada orang membicarakan (kesesatan -pent.) seseorang, serta memperingatkan (manusia) darinya lalu datang orang ketiga sambil berkata : kenapa anda mempersoalkan orang itu padahal dia punya kebaikan-kebaikan dan dia telah diberi rekomendasi oleh para ulama. (Maka ketahuilah -wahai saudaraku- pent.) bahwa rekomendasi ataupun kebaikan yang ia miliki bukanlah jaminan ataupun pencegah dari membicarakan (kesesatannya -pent.) setelah berlalunya waktu. Sesungguhnya ukuran semua ini adalah kenyataan dan fakta yang ada, jika dia dalam keadaan jelek (sesat) maka berhak untuk dibicarakan sesuai dengan ketentuan syari’at yang sudah dikenal oleh para ulama.&lt;br /&gt;3. Mayoritas bukan dalil kebenaran. Sering kita mendengar sebagian orang berkata bahwa orang itu diatas kebenaran dengan alasan atau dalih banyaknya manusia yang mencintai atau senang atau mengaguminya atau dia punya banyak pengikut. Persepsi seperti ini adalah salah. Imam Muhammad bin Abdul Wahab menyebutkan bahwa diantara perangai orang-orang jahiliyah dulu adalah berbangga dengan kwantitas atau mayoritas. Sedangkan Allah tidak memuji mayoritas didalam al-Quran begitu juga dengan Rasul-Nya. Allah berfirman :&lt;br /&gt;“Dan jika kamu mengikuti kebanyakkan manusia dimuka bumi, mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya” (al-An’am :116).&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman :&lt;br /&gt;“Diantara mereka ada yang mendapat petunjuk dan kebanyakkan mereka itu fasik” (Al-Hadid : 26)&lt;br /&gt;Oleh karena itu mayoritas bukanlah dalil kebenaran bahkan Nabi mensifatkan bahwa pengikut kebenaran itu minoritas sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Ibnu Umar t dan hadits Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda :&lt;br /&gt;“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti awal mulanya”&lt;br /&gt;Didalam hadits Muslim ada tambahan “Beruntunglah orang-orang yang asing”. Mereka (pengikut kebenaran) adalah kelompok minoritas tapi merekalah yang dipuji Nabi Muhammad dan didoakan dengan kedudukan yang baik.&lt;br /&gt;4. (Tuduhan-tuduhan) global untuk menjauhkan manusia dari kebenaran adalah jalan atau metode ahli bid’ah. Dahulu maupun sekarang mereka selalu menjauhkan manusia dari dakwah ahli sunnah (misalnya -pent.) dalam pembahasan asma wa sifat (nama dan sifat Allah) ahli bid’ah menuduh ahli sunnah bahwa mereka adalah musyabbihah (menyerupakan nama dan sifat Allah dengan makhluk-Nya -pent.) Dan mereka itu mujassimah (=musyabbihah). Mereka menjauhkan manusia dari dakwah yang benar ini, dakwah ahlus sunnah wal jama’ah salafiyyin (terutama dalam pembahasan) asma dan sifat Allah. Anda lihat salah seorang dari mereka mendatangi manusia dan pemula dari penuntut ilmu seraya berkata : “Sesungguhnya mereka ahlus sunnah menyangka bahwa Allah memiliki kedua tangan yang menyerupai tangan makhluk-Nya.” Tapi apabila orang tersebut mau meneliti kembali maka ia akan mendapati bahwa ahli sunnah salafiyyin menetapkan kedua tangan bagi Allah sebagaimana firman-Nya&lt;br /&gt;“Bahkan kedua tangan Allah itu terbentang” (al-Maidah : 64)&lt;br /&gt;Akan tetapi ahlus sunnah menetapkan kedua tangan Allah itu sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya tanpa ditakwil, ditolak, ditakyif (dibayangkan asma dan sifat Allah tersebut -pent) serta tanpa ditamtsil (diserupakan dengan makhluk-Nya -pent.) Mereka tetapkan kedua tangan bagi Allah tanpa tasybih (=tamtsil) dan tajsim. Sesungguhnya ahli bid’ahlah yang menuduhkan hal tersebut (kepada ahlus sunnah -pent.) untuk menjauhkan manusia dari mereka. Ini adalah metode ahli bid’ah sejak dahulu maupun sekarang, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan manusia dari dakwah salafiyah, dakwah kebenaran dan dakwah para ulama. Mereka menuduh ahlus sunnah dengan mengatakan bahwa mereka (ahlus sunnah) suka mencela para da’i dan para ulama serta memecah belah persatuan dan lain-lain. Tapi coba tanyakan kepada mereka siapa yang anda maksud dengan ulama itu? Apakah ahlus sunnah mencela Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh al-Albani rahimahumullah, Syaikh Fauzan dan Ibnu Syaikh hafidhahumullah ?!!! Tidak, jika anda mau mengoreksi anda akan dapati bahwa ahlus sunnah hanya membicarakan (mencela) gembong-gembong kesesatan semisal Sayyid Qutub al-Misri, kenapa? karena Sayyid Qutub telah dikenal dengan celaannya terhadap para sahabat Nabi, membuat provokasi ditengah masyarakat, dia juga mengkafirkan masyarakat kaum muslimin dan dikenal dengan seruan kepada pemikiran Khawarij dan peledakan serta perusakan dimuka bumi. (Sebagian orang mungkin tidak bisa menerima kenyataan yang pahit dan getir ini, tapi cobalah kita mau berfikir obyektif, bukalah mata dan hati untuk menerima kebenaran ini. Lihatlah koreksi dan bantahan ulama terhadap Sayyid Qutub -semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua- bacalah buku : “Mathooin Sayyid Qutub fi Ash-Habi Rasulillah ”, “Adwa’ Islamiyah ala Aqidah Sayyid Qutub”, “al-Awaashim mimma fi qutubi Sayyid Qutub minal Qowaasim” oleh : Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali. Lihat juga kitab “Barooatu ulama ummah min tazkiyati ahli bid’ah wal madzammah” oleh Syaikh ‘Ishom bin Abdillah As-Sinani serta lihat pula bantahan ulama yang sejaman dengan Sayyid seperti Syaikh Mahmud Muhammad Syakir dalam majalah “Al-Muslimun” cet. II edisi 1-4 Tahun I (1372H/1952) atau lihat kitab Sayyid Qutub yang menyeru kepada pemikiran-pemikiran sesat diatas dalam kitabnya “Limaadza A’damuuni” Hal. 49-55. (pent)&lt;br /&gt;Ahlus sunnah salafiyyun memang mempersoalkan sebagian da’i-da’i kondang itu, semisal Salman Al-Audah, Awadh al-Qorni. Kenapa ? karena mereka telah mengatakan demikian dan demikian (dari kesesatan dan penyimpangan -pent.) seperti yang akan kita bacakan kepada anda -insya Allah-. Oleh karena itu kita harus lebih meneliti bersama mereka dalam dua hal :&lt;br /&gt;Siapa yang dipersoalkan oleh ahlus sunnah, coba sebutkan kepada kami ? Jika mereka telah menyebutkan nama-namanya, tanyakan apa sebabnya ? Dan bila telah dijelaskan dengan sebenar-benarnya dan hal ini mewajibkan untuk mencelanya maka wajib bagi anda untuk menerimanya, tapi jika hal tersebut tidak benar atau tidak mengharuskan untuk mencelanya maka tidak boleh untuk mencelanya. Jadi, tanyakan dulu sebab celaan atau tahdzir itu, apakah benar atau tidak (sesuai fakta atau tidak)? Adapun kalau ada orang yang mendengar celaan terhadap da’i-da’i itu lalu langsung mengingkarinya dengan alasan mereka telah mencela ulama (dengan kata-kata yang global) maka hal seperti ini tidak bisa diterima.&lt;br /&gt;Dihadapan anda ada sebuah ucapan dari seorang yang tertipu (dengan para da’i-da’i diatas) dan dia pun menipu umat. Dia adalah Muhammad bin Abdillah al-Abdul Karim. Orang ini menulis beberapa makalah dikoran “Muhayidh” diantaranya pada edisi 68 disitu dia menulis sebuah makalah yang jelek sekali. Apa yang dia tulis ? Dia berkata : “Sesungguhnya mereka salafiyun -yang dia beri julukan jahmiyah dan munafiq- bekerjasama dengan orang-orang liberal, sungguh benar firman Allah tentang mereka :&lt;br /&gt;“Orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan sebagian mereka adalah wali atau penolong sebagian yang lain, mereka menyuruh kepada kemungkaran dan melarang dari yang baik” (at-Taubah : 67)&lt;br /&gt;Ucapannya ini ada diedisi yang saya sebutkan tadi, bahkan pada edisi sebelumnya yaitu edisi 61 tertanggal 18-6-1424H dia mengatakan suatu ucapan yang lebih parah lagi, apa yang ia katakan ? Coba dengarkan ! Dia berkata : “Ahlus sunnah salafiyun telah sampai pada tingkatan ekstrim yang parah, mereka menjadikan taat kepada makhluk diatas ketaatan kepada Khaaliq Pencipta, -kemudian dia berkata- tidak ada yang lebih menunjukkan akan hal ini dari pada ucapan mereka (ahlus sunnah) dalam membolehkan taat kepada pemimpin walaupun dalam kemaksiatan”.&lt;br /&gt;Demi Allah, saya menantang orang ini untuk menunjukkan siapa diantara salafiyyin yang dikenal dengan keilmuannya mengatakan : “Dengar dan taati pemimpin atau penguasa meskipun dalam memaksiati Allah !!!”. Demi Allah sesungguhnya aku telah menelpon orang ini dan aku bertanya kepadanya : “Apakah kau bisa menyebutkan kepadaku satu orang saja (dari kalangan salafiyyin) yang mengatakan : ‘Dengar dan taati penguasa meskipun dalam memaksiati Allah?’” Ketika aku mendesaknya dia berkata : “Ya ada” Aku bertanya : “siapa? dan kapan dia berkata? dan apa katanya?” Dia menjawab : “Dia mengatakan 3X ditelevisi.” Aku bertanya lagi : “Demi Allah aku bertanya kepadamu, apakah orang tersebut mengatakan : ‘Dengar dan taati penguasa walaupun dalam maksiat!?’” Dia menjawab : “Orang itu tidak mengatakan hal tersebut dengan jelas tapi bisa dipahami seperti (pertanyaanmu) tadi.”&lt;br /&gt;-Laa ilaha illallahu- Bagaimana mereka memahaminya? Apakah dari Rabbul ‘Ibad Allah ? Tidakkah mereka mengetahui bahwa diriwayatkan dalam shahih Bukhari dari hadits Samurah : “Bahwa seorang yang berdusta dan menuduh (tanpa haq-pent) akan ditarik mulutnya dengan keras hingga ke belakang.” Apa yang bisa dia lakukan ketika menghadap Rabb semesta alam? Orang ini sangat tertipu (dengan mereka dai-dai kondang itu-pent) dan sekaligus dia termasuk menipu umat. Lihatlah, orang ini hanya membawakan satu ucapan global guna menjauhkan manusia dari dakwah kebenaran. Saya telah mengatakan : “Janganlah anda menerima ucapan apapun dari seseorang kecuali setelah diteliti (dimana diucapkan) dan kapan? Dan bagaimana ucapan itu, apakah dirubah atau ditambahi? Jika anda mengambil hal ini dan meninggalkan (ucapan/tuduhan) yang bersifat global maka akan jelas bagi anda kebenaran dari kebatilan.”&lt;br /&gt;Setelah kita memahami ke 4 hal penting diatas, saya akan memulai untuk masuk ke pokok pembicaraan yaitu membongkar jati diri dai-dai kondang diatas. Dan saya tekankan sekali lagi bahwa demi Allah tujuan kita dalam membahas hal ini bukan untuk memuaskan hawa nafsu dan selera kita. Sekali lagi bukan itu tujuan dan maksud kita. Akan tetapi maksud sebenarnya adalah menasehati umat agar mereka mengerti mana yang benar lalu diikuti dan mana yang salah untuk dijauhi. Saya tidak akan mengada-ada sedikitpun, tapi saya akan menjelaskan perkataan mereka dan referensinya sehingga anda sekalian berada diatas bukti yang nyata.&lt;br /&gt;1. Orang pertama : Awadh Al-Qorni, seorang dai kondang yang masyhur, dia mengarang sebuah kitab yang berjudul “Al-Hadaatsah” (Sebuah aliran filsafat yang muncul di Eropa, tidak mengakui agama dan referensinya, tidak mau diatur oleh hukum syariat, mereka hidup layaknya binatang ternak, lihat “Al-Mausu’atul Muyassaroh fil Adyaan wal Madzaahib wal Ahzaab al-Mu’aashiroh” 2/867 (pent))&lt;br /&gt;didalam kitab ini dia berbicara tentang orang-orang al-Hadaatsah, bahkan dia terkenal dengan kritikan serta bantahannya terhadap orang-orang sekuler dan Hadaatsah dan selain keduanya.Dia termasuk pelopor dalam bidang ini bahkan disifati sebagai orang yang paling tahu dan mengerti tentang mereka. Awadh al-Qorni ini yang telah disebutkan (dengan keahliannya itu -pent.) tiba-tiba memunculkan majalah yang bernama “Al-Jusur” dan telah terbit beberapa edisi. Edisi pertama -dan dia sebagai penasehat umum terhadap majalah ini- memuat dialog dengan Turki Hamad, ( ia adalah seorang yang terkenal dengan pemikiran-pemikiran sekulerisme (pent))&lt;br /&gt;Siapakah dia ? Turki Hamad adalah salah seorang yang dahulunya mereka kafirkan dan disifati dengan nifak, mereka membantahnya / mencelanya habis-habisan dan tidak terima kalau ada orang yang membelanya. Tapi setelah hari demi hari berlalu mereka tiba-tiba memunculkan majalah yang memuat dialog dengan Turki Hamad. Alangkah baiknya bila Turki Hamad ketika berdialog itu berbicara dengan pembicaraan yang baik yang tidak ada penyimpangannya. Tapi sangat disayangkan, pembicaraannya banyak menyimpang (dari manhaj yang benar manhaj ahlus sunnah -pent.) dan yang diajak bicara tidak mengomentarinya sedikitpun. Diantara yang ia katakan dalam dialog itu adalah: (Apakah anda tahu apa permasalahan kita sekarang? 99% kita bersepakat hanya 1 % kita berselisih dan kita belum memiliki suatu hal yang bisa menyatukan kita semua). Perhatikanlah -ucapan ini-, perselisihan kita (salafiyun) dengan Turki Hamad, Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh (seperti yang disebutkan sendiri oleh Turki Hamad), dengan Qutbiyyin (pengkultus Sayyid Qutub), dan dengan Sururiyyin (pengikut Muhammad Surur Zainal Abidin) hanya 1% saja -katanya-, adapun sisanya 99% kita dan mereka sama-sama bersepakat. Bagaimana ini bisa terjadi ? Bagaimana kita bisa bersekongkol dengan orang-orang yang menyetujui kesyirikan dalam tauhid uluhiyah, seperti yang bisa anda dapati dalam kitab “Tablighi Nishobun” milik Jama’ah Tabligh. Dan bagaimana kita bisa bersatu dengan pemimpin jama’ah yang sering menyenandungkan bait didalam acara Maulid yang berbunyi :&lt;br /&gt;“Inilah nabi dan seorang kekasih telah hadir bersama. Dialah (Nabi) yang mengampuni masa lalu (dari dosa dan noda)”&lt;br /&gt;Bagaimana kita bisa bergabung dengan orang-orang yang bekerjasama dengan Rafidhah dan mengagungkan mereka dan hal ini dimuat dikoran-koran sedang mereka tidak memungkirinya sedikitpun, seperti yang akan saya sampaikan dari ucapan Salman al-Audah. Bagaimana mungkin kita bisa bersatu dengan orang-orang yang menyeru untuk mendirikan sekolah khusus bagi Rafidhah yang mereka bisa dengan leluasa belajar kitab-kitab mereka disana seperti yang diutarakan oleh Safar Hawali yang akan saya bawakan ucapannya nanti. Setelah pemaparan diatas tadi bagaimana bisa dikatakan bahwa perselisihan kita (dengan mereka) hanya 1% saja ??!! Seandainya memang demikian keadaannya, kita lihat bagaimana dengan Awadh al-Qorni (yang mungkin dia tidak peduli dengan Ikhwan Muslimin dan Jama’ah Tabligh), tapi bagaimana perselisihannya dengan Turki Hamad dahulu serta orang-orang liberal dan selainnya. Apa hanya 1% saja ?&lt;br /&gt;Jika ya, maka mengapa dahulu terjadi perang dingin (antara keduanya-pent)?! Dan kenapa (celaan-celaan terhadap Turki Hamad-pent) disebar luaskan?! Dan kenapa generasi muda dahulu diprofokator untuk memusuhinya kalau memang hanya 1% saja perselisihannya? Ini dialog pertama yang diadakan oleh (Awad Al-Qorni) dengan Turki Hamad. Adapun yang kedua, maka sesunggunya Awadh Al-Qorni yang dahulunya (mencela habis-habisan Turki Hamad) sekarang mengadakan dialog dengan Turki Hamad. Dan dia mulai mencela kitab ulama-ulama kita dan yang paling utama adalah Imam Muhammad bin abdul Wahab . Dia mencela kitab-kitab para ulama dan menyatakan bahwa kitab-kitab tersebut membawa pemikiran takfir (mengkafirkan orang muslim) seperti yang dimuat dalam koran “Al-Wathon- edisi 1193, disebutkan dalam dialog bersama (Turki Hamad) bahwa kitab-kitab karangan para Imam Dakwah terutama kitab “Durol Saniyah” adalah kitab takfir dan mendidik manusia diatas takfir.Dan inilah konteks ucapannya : “Siapa saja yang mengoreksi peninggalan (ulama-ulama) kita dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah dalam perkara ini hingga 100 atau 150 tahun yang lalu dia akan menyaksikan dizaman ini suatu sikap extrimisme dalam menyikapi orang-orang yang menyelisihi, seolah-olah mereka itu kafir, hal ini termaktub dalam kitab-kitab mereka. Dan siapa saja yang membaca “Ad-dural Saniyah” dia akan melihat dengan jelas hal ini, dan (sikap extrim ini) ada dalam kitab masyaikh tersebut -saya tidak tahu siapa yang dia maksud dengan masyaikh- kita sebenarnya tidak sanggup untuk bersikap obyektif dan memegang kebenaran dengan kuat serta mengkritik diri sendiri sebelum orang lain mengkritik kita dan mengkritik kesalahan pemikiran kita. Kita sebutkan hal ini untuk membela pemikiran atau metode kita, dulu kita katakan bahwa adanya extrimisme ini karena sebab yang datang dari luar. Ini adalah ucapan yang salah, yang benar bahwa sebab yang datang dari luar itu hanyalah salah satunya dan bukan yang utama.” Orang ini bermaksud ingin mengarahkan celaan kepada kitab-kitab para Imam dakwah, terutama Imam Muhammad bin Abdul Wahhab -katanya- yang banyak berpengaruh dalam masalah takfir dan peledakan serta yang lainnya. Orang ini juga ingin mengungkapkan bahwa sebab utama semua ini bukan dari luar, yaitu dari buku-buku Sayyid Qutub dan semisalnya akan tetapi ini salah satu sebabnya saja. Adapun sebab utamanya adalah kitab-kitab para Imam dakwah. Seandainya orang ini mau jujur dan obyektif maka sungguh dia akan menyebutkan kitab-kitab Sayyid Qutub yang jelas-jelas mengkafirkan masyarakat, dan para pemimpin (kaum muslimin), yang jelas-jelas menyerukan kepada pengrusakan dan peledakan. Dan orang ini tidak akan menuduh kitab-kitab yang bersih lagi suci dari hal-hal tersebut. Inilah ‘Awadh Al-Qorni dan pendahulunya Dawud bin Jirjisy serta Balsyim, mereka adalah orang-orang sesat yang menyelisihi dakwah Imam Muhammad bin Abdul Wahhab. Merekalah orang-orang yang menuduh dakwah beliau dengan takfir. Mereka muncul silih berganti dari zaman ke zaman tapi mereka tidak sanggup untuk mendatangkan sedikitpun dari bukti-bukti yang nyata atau otentik yang menetapkan bahwa Imam Muhammad bin abdul Wahhab, dakwah beliau dan murid-murid beliau menyeru kepada takfir. Saya telah membacakan kepada kalian pada waktu membantah Muhsin ‘Awaji ucapan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab yang (jelas-jelas) beliau tidak mengkafirkan masyarakat (kaum muslimin-pent), bahkan beliau menyatakan bahwa mayoritas kaum muslimin bukanlah orang-orang kuffar. Dan sesungguhnya tidaklah kafir kecuali yang telah tegak kepadanya hujjah dan dia terus melakukan kesyirikan, maka orang yang semacam inilah yang beliau kafirkan. Beliau juga tidak mengkafirkan orang-orang yang menyembah berhala yang berada diatas kuburan Abdul Qadir Jaelani atapun Badawi karena kebodohan dan karena tidak adanya seorangpun yang mengajari serta memperingatkannya. Beliau hanya mengkafirkan orang yang telah sampai kepadanya kebenaran tapi dia terus dalam kesyirikan. Perhatikan Awadh Al-Qorni sekarang, tiba-tiba dia memuji Turki Hamad dan mengorbitkannya setelah dia mencelanya, kemudian berbalik menyerang dan menuduh karangan-karangan para Imam dakwah khususnya Imam Muhammad bin Abdul Wahhab . Dia mengatakan bahwa kitab-kitab mereka itu menyeru kepada takfir, terjadinya peledakan-peledakan akhir-akhir ini adalah akibat buku-buku tersebut. -Semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua keselamatan-. Bukankah ini semua menunjukkan akan keplin-planan mereka?! Bukankah ini semua menjelaskan kepada kita bahwa mereka itu selalu berubah warna? Dan tidak memiliki metode atau jalan yang lurus dan jelas?! Ini orang pertama.&lt;br /&gt;2. Adapun yang kedua dia adalah ‘Aidh Al-Qorni. Tahukah anda siapa Aidh Al-Qorni? Dia banyak memiliki khutbah-khutbah yang menyatakan akan kesesatan Ghozi Al-Qushaibi (Ia adalah seorang sastrawan saudi yang memiliki pemikiran-pemikiran sekuler. Dia sekarang menjadi duta besar Arab Saudi di London, pent) bahkan mungkin sudah sampai kepada tingkat pengkafirannya. Dahulu dai-dai itu menyebutnya (Ghozi) sebagai orang sekuler, tapi setelah berlalu hari demi hari, tahun demi tahun tiba-tiba muncul majalah “Al-Fawashil”, yang pada edisi 128 memuat dialog bersama Aidh Al-Qorni. Dia ditanya : Bagaimana ikatan anda dengan Ghozi Al-Qushaibi. Apa perincian khilaf tersebut? Lihatlah jawaban Aidh Al-AlQorni : Hubungan (kami berdua-pent) sangat erat dan kuat, kita saling bekerjasama diatas kebaikan dan takwa serta persaudaraan. Dan kita selalu menunggu dari DR. Ghazi masukan-masukannya, adapun yang lalu biarlah berlalu.&lt;br /&gt;-Laa ilaha illallahu- Ghozi Al-Qushaibi yang dulu pernah dikatakannya sesat bahkan mungkin sudah dikafirkan diatas mimbar-mimbar dan dididik para pemuda untuk memusuhi dan membencinya, sampai-sampai tidak anda dapati seorang pemuda pun yang disebutkan kepadanya nama Ghozi Al-Qushaibi melainkan dia akan meminta keselamatan kepada Allah dan dia akan mengatakan Ghozi itu sesat dan mengutuknya. Dan seandainya ada seseorang yang membela (Ghozi) disuatu majlis tentang tuduhan-tuduhan kepadanya seperti pengkafirannya maka para pemuda itupun akan membantahnya secara serentak. Tapi selang beberapa waktu Aidh Al-Qorni menyatakan bahwa hubungannya dengan Ghozi sangat baik dan erat, seperti yang telah saya sebutkan.&lt;br /&gt;Disamping itu ada masalah lagi yaitu yang berkaitan dengan wanita mengemudi mobil. Ini adalah hal yang paling dibenci para pemuda bahkan masalah yang berkaitan dengan wanita ini sangat diutamakan oleh mereka dalam tarbiyah dibandingkan dengan masalah syirik dan bid’ah. Tidak mengemudinya wanita itu merupakan hal yang disyariatkan dan para ulama kita telah mengharamkan wanita untuk mengemudi mobil karena akan banyak menimbulkan kerusakan. Sekarang bukan tempatnya untuk menjelaskan hal ini, tapi yang ingin saya jelaskan bahwa Aidh Al-Qorni setelah berlalu beberapa tahun mengutarakan suatu perkara dikoran “Madinah” tertanggal 16 Dzulqo’dah 1424 H dia berkata : “Sesungguhnya masalah wanita mengemudi mobil bukanlah termasuk masalah prinsip karena tidak disebutkan pengharamannya dalam surat at-Taubah maupun al-Anfal”. Demi Allah, seandainya yang berbicara ini bukan Aidh Al-Qorni maka akan divonis oleh para pemuda bahwa dia ini orang sekuler, Hadaatsi, munafik, orang busuk yang mau merongrong Islam dan kaum muslimin. Tapi mengapa hal ini tidak divonis juga kepada (Aidh Al-Qorni). Aidh Al-Qorni mengulangi kembali pembicaraannya ini dalam koran “Al-Hayah” dia berkata : (Aku bertobat kepada Allah, aku tidak pernah mengatakan bahwa wanita boleh mengemudi mobil) benar, memang engkau tidak mengatakan hal itu boleh, tapi engkau hanya mengatakan ini bukan masalah prinsip yang tidak disebutkan dalam surat at-Taubah maupun al-Anfal, tapi apa maksud perkataanmu ini? Minimal ucapan ini membuka peluang dan mempermudah jalan bagi para provokator untuk terus menebarkan slogan-slogan mereka dalam membolehkan wanita mengemudi mobil. Dizaman ini banyak sekali didapati makar-makar musuh, slogan-slogan, provokasi-provokasi untuk membolehkan wanita mengemudi mobil dan mengeluarkan para wanita (dari rumah-rumah mereka untuk bersolek dan bekerja-pent). Tapi sangat disayangkan, engkau (wahai Aidh al-Qorni) tiba-tiba datang dan mengucapkan hal ini !!! Apa yang mendorongmu untuk mengatakan seperti ini? Apa maslahatnya? Minimal engkau telah memberikan support bagi para provokator-provokator itu untuk menyeru kepada pembolehan wanita mengemudi mobil dan untuk mereka terus melancarkan permintaan ini. Memang engkau tidak mengatakan hal ini boleh, akan tetapi engkau mempermudah jalan bagi yang ingin menjadikan para wanita mengemudi mobil.&lt;br /&gt;3. Adapun orang ketiga adalah Safar Hawali, pembahasan tentang orang ini panjang dan alhamdulillah saya telah mengeluarkan dua kaset tentangnya. Tapi dikesempatan ini saya ingin menjelaskan secara singkat hal-hal yang berkaitan dengan keplin-planannya. Perhatikanlah, sesungguhnya Safar Hawali seperti yang lainnya dari dai-dai kondang yang telah disebut diatas. Dahulu membakar jiwa-jiwa para pemuda untuk memusuhi orang-orang kafir dan berlepas diri dari mereka. Ini adalah benar dan merupakan ajaran agama. Akan tetapi karena melampaui batas dalam bersemangat, mereka tidak memperinci dalam masalah ini yang mengakibatkan para pemuda terjerumus kedalam kesalahan dan penyimpangan. Hari berganti hari, tiba-tiba muncul Safar Hawali dengan tulisannya yang panjang yang ditujukan kepada Bush (Presiden Amerika-pent) dan tulisan ini termaktub dalam situs internetnya, disini saya hanya menyampaikan intinya saja yaitu : (saya nasehatkan kepada anda -wahai Bush- dan saya ingatkan anda kepada Allah agar segera berhenti dari memerangi dan mendholimi (kaum muslimin-pent) dan agar engkau berhati-hati dalam mengambil keputusan). Ucapannya ini baik, tidak ada masalah tapi apa yang dia ucapkan setelah ini? (jika engkau telah melaksanakannya-pent maka engkau akan dapati kita bersamamu tanpa syarat)&lt;br /&gt;-Laa ilaha illallahu- Bagaimana dia bisa bersama Bush Nasrani yang masyhur dengan permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslimin jika hanya dia berhenti dari sebagian kedholimannya tanpa syarat? Dimana syari’at Muhammad yang memerintahkan kita untuk membenci mereka baik mereka itu memerangi kita atau tidak. Kita memusuhi dan membencinya dalam berbagai permasalahan demi syari’at Muhammad . Demi Allah, wahai saudara-saudaraku seandainya yang berbicara seperti diatas (ucapan Safar tadi-pent) salah seorang dari pemimpin atau penguasa maka sungguh engkau akan dapati para pemuda itu akan menyebar luaskan ucapan seperti ini (dengan diiringi ejekan-ejekan-pent) dan mereka akan berkata ini suatu bentuk kelemahan dalam agama dan kadang bisa mengeluarkan dari agama (murtad) dll -kita mohon kepada Allah keselamatan-.Kemudian diantara keplin-planannya juga bahwa DR. Safar Hawali ini dalam kitabnya “Dzohiratul Irja’” berbicara tentang suatu metode yang dinamakan metode atau pemikiran kontemporer. Dia berbicara tentang pemikiran ini dalam footnote kitabnya “Dzohiratul Irja’“ 1/85. Ketika dia membicarakan para pengikut metode ini dia berkata: (Ini adalah pemikiran zindiq terbaru yang disebarkan oleh sekelompok penulis yang bersembunyi dibalik tirai pembaharuan dan pembukaan pintu ijtihad bagi semua orang dan seterusnya). Dia juga menyebutkan bahwa orang-orang tersebut terpengaruh dengan Rofidhoh dan Mu’tazilah, diantara nama-nama yang dia maksud adalah Fahmi Huwaidi, (Dia seorang wartawan dari Mesir yang memiliki pemikiran-pemikiran liberal dan sekulerisme-pent.) dan Muhammad Amaaroh. (Dahulu seorang atheis kemudian kembali kepada agama tapi memiliki pemikiran-pemikiran Mu’tazilah (atau rasionalisme) dan dia terjun dalam pemikiran liberal-pent.)&lt;br /&gt;Tapi setelah berlalu beberapa tahun saja tiba-tiba Safar Hawali mendirikan “Gerakan Internasional untuk menghadapi Lawan” dia ketua umumnya, diantara anggotanya adalah Fahmi Huwaidi dan Muhammad Amaaroh. Kemarin (orang-orang tersebut) dikatakan sebagai dai-dai perusak, dai-dai zindik, orang-orang yang membela Rofidhoh dan orientalis serta khawarij tapi sekarang dia menjadikannya sebagai anggota dalam pergerakan tersebut. Bukankah ini termasuk keplin-planan dan mempermainkan para pemuda Islam?&lt;br /&gt;Perkara ketiga (diantara keplin-planan Safar-pent) bahwa orang ini dahulu terkenal dengan permusuhannya terhadap Rofidhoh dan dahulu mendidik para pemuda untuk memusuhi mereka dan menanamkan dihati-hati para pemuda kebencian terhadap Rofidhah. Ini adalah benar dan merupakan tuntutan agama karena memang Rofidhoh adalah musuh Allah dan Rasul-Nya. Tapi sekarang Safar berubah (buktinya-pent) pada 28 Sya’ban 1424 H disuatu dialog seperti yang dinukil oleh Koran “Madinah” dia berkata : (Aku berpendapat tidak mengapa Rofidhah mendirikan sekolah tersendiri bagi mereka yang disana mereka bisa belajar aliran mereka dan ini yang ada di Al-Husainiyaat dan semisalnya. Akan tetapi masalahnya mereka Syiah Rofidhah ini menginginkan agar kita merubah aqidah yang kita yakini untuk menyenangkan mereka). Dalam ucapan Safar Hawali ini ada dua hal yang sangat berbahaya:&lt;br /&gt;a. Dia setuju dengan didirikannya sekolah khusus bagi Rafidhoh atau Syi’ah yang mereka bisa belajar aliran atau ajaran mereka dengan leluasa disana. Apa yang mereka pelajari? (Mereka belajar) kesyirikan, belajar berdo’a kepada Ali, Hasan, dan Husen (berdo’a) kepada selain Allah. Disana mereka belajar mencela para sahabat Rasulullah, belajar melontarkan tuduhan kepada Ibu kita Ummu Abdillah ‘Aisyah bahwa beliau telah berzina !!! Bagaimana orang ini bisa setuju dengan sekolah syirik yang tidak diajarkan didalamnya buku-buku tauhid yang mendidik mereka untuk mentauhidkan Allah dan menghormati para sahabat Muhammad? Ini adalah perkara yang berbahaya. Demi Allah seandainya saya tidak membaca sendiri ucapannya ini dikoran dan tidak diingkarinya sampai detik ini baik disitusnya maupun yang lain maka tidaklah saya bisa membenarkan berita yang dahsyat ini.&lt;br /&gt;b. Safar Hawali mengatakan bahwa masalahnya Syi’ah itu adalah karena mereka menginginkan kita merubah aqidah yang kita yakini. Ini bukanlah masalahnya mereka, tapi inti masalahnya mereka adalah kesyirikan. Dari perkatan Safar tadi, apakah jika Syi’ah Rafidhoh membiarkan kita dan tidak mempermasalahkan aqidah kita apakah selesai masalah kita dengan mereka? Demi Allah, tidak. Sesungguhnya masalahnya mereka itu yang utama adalah mereka menyekutukan Allah dan mereka mencela para sahabat Rasulullah bahkan mengkafirkan mereka kecuali sedikit yang selamat dari celaan Syi’ah. Mereka juga menuduh ibunda kita Ummul Mukminin Aisyah dengan zina. Dan mereka juga ghuluw atau ekstrim dalam mengkultuskan para Imam-Imam mereka sampai-sampai mengangkat mereka ke derajat Tuhan. Semoga Allah memberi kita keselamatan.&lt;br /&gt;4. Adapun orang keempat (dari dai-dai kondang-pent) adalah Salman Al-Audah, orang ini setelah dialog nasional atau pada pertengahan dialog tersebut menjalin ikatan (baik-pent) dengan seorang Syi’ah Rofidhoh Al-Haalik Hasan as-Sattar yang pernah mengucapkan suatu ucapan (busuk-pent): (Semoga Allah mengganjar Syi’ah kami dengan ganjaran yang baik atas pembunuhan terhadap Ustman). Orang Rofidhoh yang busuk ini dijalin ikatan persaudaraan oleh Salman Al-Audah dan diajak bersama-sama menaiki mobil khususnya serta disambut dengan ucapan yang baik dan ramah tamah. Laa ilaha illallahu, apakah layak orang Rofidhoh semisal Hasan as-Sattar dibaiki seperti itu? Kemudian kejadian diatas digunakan kesempatan oleh Rofidhoh yang lain yaitu Muhammad Ridho Nasrullah Al-Kadzdzab untuk di sebarkan (sikap lembut Salman diatas-pent) dikoran “Riyadh”, pada hari rabu tanggal 18 Rabi’ul Akhir 1424 H dengan mengatakan (Syaikh Hasan As-Sattar salah seorang ulama besar Qathif menceritakan kepadaku tentang pertemuan persaudaraan yang diadakan dikantor Malik Abdul Aziz yang selesai hari ini. Beliau sangat berbahagia khususnya dengan keramah tamahan dan sambutan hangat Syaikh Salman al-Audah serta permintaan beliau untuk diadakan rapat panjang guna ta’aruf (perkenalan) dan tukar pikiran. Tidak cukup hanya disitu saja bahkan Syaikh Salman menyambut dengan hangat, tidak seperti biasanya. (Syaikh Salman) juga tidak berbicara seperti dalam dia membantah as-Sattar ...)&lt;br /&gt;Mereka mengatakan : Syaikh Salman dan Hasan as-Sattar saling tukar pendapat dan saling bertoleransi dan mengikat tali persaudaraan. Demi Allah, ini suatu ucapan yang berbahaya, ketika hal ini dimuat dalam Koran “Riyadh” aku mengira bahwa Salman Al-Audah akan mengingkari dan membantahnya, akan tetapi sangat disayangkan dia diam seribu bahasa dan membisu. Ketika dia ditanya disitus Islaminya tentang masalah ini dia mengikrarkannya dan tidak mengingkarinya sedikit pun seraya mengutarakan alasannya dengan berkata : (demi dakwah) dll.&lt;br /&gt;Dengan alasannya (demi dakwah) dia dan yang semisalnya ingin memalingkan umat dari kenyataan dan hakikat sebenarnya. Setiap perbuatan (buruk mereka -pent) mereka tutupi dengan dalih (demi maslahat dakwah) dan lain sebagainya dari ucapan mereka yang rusak. Hingga pada waktu (Salman) menjalin hubugan baik dengan Hasan as-Sattar ar-Rofidhi dia beralasan dengan maslahat dakwah.&lt;br /&gt;Bukankah termasuk maslahat dakwah jika kau (wahai Salman -pent) berlepas diri / baro’ dari orang-orang Rofidhoh ?!! Alangkah baiknya jika engkau ketika melihat Muhammad Ridho Nashrullah menggunakan kesempatan dalam kesempitan kau ingkari dan kau jelaskan kepada umat kebusukan Rafidho sehingga para pemuda Ahli Sunnah tidak tertipu dengan mereka.Bukankah Ahlus Sunnah memiliki hak untuk memperhatikan maslahat dakwah ? Tapi memang inilah permainan (kalian) dan sikap tidak tegas seperti perndahulu-pendahulu kalian dari kelompok Ikhwanul Muslimin.&lt;br /&gt;Dipenghujung (ceramah ini-pent) ada yang aneh lagi yang berkaitan dengan Safar Hawali. Pada dialog yang dimuat oleh Koran “Al-Madinah” dia ditanya: (Sebagian orang mengatakan bahwa dai-dai kondang sekarang telah berubah pemikiran-pemikiran dan sikap mereka, (bagaimana menurut anda-pent?) apa jawaban Safar Hawali? Dia mengatakan: (menurutku penanya ini mengigau). (Lihatlah-pent) (Safar Hawali) ingin berdalih bahwa tidak ada perubahan dan orang yang mengira telah terjadi perubahan (pada diri-diri dai tersebut) dia itu hanya mengigau saja. Safar berkata: (menurutku penanya tersebut hanya mengigau saja karena seseorang terkadang terlintas dalam benaknya akan suatu hal kemudian setelah dia mengetahui hakekatnya berbeda, dia mengira bahwa telah terjadi perubahan. Sesungguhnya hal ini terjadi karena gambaran yang salah mulai awalnya, demikian juga dengan mereka yang menuduh para dai kondang telah berubah, mereka tidak tahu pemikiran para dai tersebut. Ketika mereka mulai mendekat, mereka kira dai-dai tersebut telah berubah padahal bukan seperti itu kenyataannya). Siapakah yang bisa membenarkan ucapannya ini? Apakah kita masih punya akal? Kemarin dia musuh orang-orang kafir, sekarang dia menyeru untuk dekat dengan Bush dan akan menjalin ikatan dengannya. Kemarin Salman mentahqiq kitab Al-Qosaawi As-Sunni yang membantah Rofidhoh dan menelanjanginya sekarang dia berbalik menjalin ikatan baik dengan Hasan As-Sattar. Kemarin Awadh al-Qorni mengarang sebuah kitab dengan judul “al-Hadaatsah” dan memusuhi orang-orang sekuler kemudian (berubah) dan memuat dialog dengan Turki Hamad (seorang sekuler -pent). Kemarin Aidh al-Qorni banyak berkhutbah untuk memperingatkan umat dari Ghozi al-Qushaibi bahkan menvonisnya sesat dan mungkin sampai mengkafirkannya, tapi sekarang dia menjalin hubungan baik dan persaudaraan dengannya. Dengan bukti seperti ini, engkau (wahai Safar) masih berkilah bahwa tidak ada yang berubah?!!!! Sampai serendah ini kalian berbuat dan mempermainkan para pemuda Islam seperti kalian bermain boneka yang tidak berakal !!! apakah kalian sudah seperti orang-orang sufi yang menjadikan para pemuda seperti murid dan Syaikh yang diibaratkan seperti mayit ditangan orang yang memandikannya?! Demi Allah, aneh bin ajaib, masih bisakah orang seperti Safar ini berkilah bahwa tidak ada perubahan?! Semua ini menunjukkan kepada kita dengan sejelas-jelasnya bahwa mereka telah dapat mempermainkan dan menipu para pemuda Islam dan menjadikan mereka pengikut setia tanpa berfikir dan menggunakan akal pikiran sehingga dengan seenaknya mereka para dai-dai itu berbicara tanpa ada sedikitpun kritikan ataupun bantahan dari para pemuda.&lt;br /&gt;Tapi insya Allah mereka para pemuda itu masih punya akal untuk membedakan mana yang benar dan mana yag salah dan mengetahui permainan para dai-dai kondang tersebut. Dan sebelum saya akhiri, saya mengajak mereka semua untuk terus mengoreksi diri mereka sendiri dan melihat dengan mata kepala dan mata hati dan (untuk mereka mengikuti jejak orang-orang yang mulia, pent) siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang berjalan diatas kebenaran dan tidak berubah. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan sunnah Rasulullah serta jejak para salaf. Siapakah mereka? Mereka adalah ulama-ulama besar kita. Apakah anda pernah menyaksikan bahwa Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, al-Albani rahimahumullahu, Ibnu Fauzan atau Alu Syaikh - hafidhahumullahu - berubah dan nampak keplin-planan mereka? Demi Allah, tidak pernah kita melihat ulama kita yang mulia tersebut bersikap plin-plan seperti dai-dai kondang itu. Oleh karena itu wahai para pemuda Islam, koreksilah dan lihatlah kembali diri-diri kalian karena hidup (didunia, pent) sangatlah singkat. Dan kecintaan terhadap seseorang bukan hal yang membolehkan (kita) untuk menutupi kesalahan-kesalahannya. Jika kecintaan (kalian) terhadapnya itu karena Allah, maka apabila terlihat daripadanya penyimpangan terhadap al-Qur’an dan sunnah maka konsekwensi kecintaanmu itu adalah engkau membenci dan memusuhinya, karena awal kecintaanmu terhadapnya karena Allah maka sekarang (setelah menyimpang, pent) kau benci dia karena Allah juga. Sesungguhnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya (wajib) diutamakan diatas segala kecintaan.&lt;br /&gt;Saya mohon kepada Dzat yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia untuk menunjukkan kita semua jalan yang dicintai dan diridhoi-Nya. Dan semoga Allah mengantarkan kita kepada kebaikan dan ketaqwaan serta menunjukkan kepada para da’i-da’i kondang itu jalan yang dicintai dan yang diridhoi-Nya dan menjadikan mereka pemimpin kebaikan dan penyeru sunnah. Tapi jika dalam ilmu Allah mereka tidak demikian, semoga Allah mempercepat kebinasaan mereka dan meyelamatkan kaum muslimin dari kesesatan mereka. Jazakumullahu khairon&lt;br /&gt;Soal Jawab1. Setiap orang pasti punya kesalahan, mengapa anda mengkhususkan/mengarahkan kritikan itu hanya kepada dai-dai kondang tersebut ? Dan seandainya kita membicarakan setiap orang yang salah maka tidak ada satupun yang luput dari kritikan kita ?!Jawab: Apa yang dikatakan diatas benar bahwa tidak ada seorangpun yang luput dari kesalahan kecuali yang dijaga oleh Allah. Tidak ada seorangpun kecuali dia punya kesalahan, akan tetapi sudah sering saya jelaskan seperti pada waktu membantah Muhsin ‘Awaaji dan selainnya bahwa kesalahan orang itu ada 2 macam:&lt;br /&gt;a. Kesalahan yang bisa dimaklumi yaitu yang berkaitan dengan masalah ijtihad dan orang yang salah tersebut tidak dicela dan tidak dikatakan mubtadi’ bahkan kalau dia (berijtihad -pent) dan benar maka dia mendapat dua pahala dan jika salah maka dia mendapat satu pahala saja.&lt;br /&gt;b. Kesalahan yang tidak bisa ditoleransi yaitu apabila orang itu salah maka wajib dijelaskan (kepada umat -pent) dan jika kesalahannya itu terang-terangan maka wajib dibantah dengan terang-terangan juga. Adapun orangnya, apakah dikatakan sesat atau tidak ? maka telah disebutkan oleh Imam Syathibi yang intinya : Jika kesalahan orang tersebut dalam masalah yang (prinsip) maka dia dikatakan sesat. Ibnu Taimiyah juga berkata yang intinya : Jika kesalahan orang tersebut dalam masalah yang sudah masyhur maka boleh dikatakan sesat. Yang penting, masalah orang itu dikatakan sesat atau tidak itu permasalahan lain yang berkaitan dengan mashlahat dan mafsadat dan lain-lain sebagaimana penjelasan ulama. Apabila kesalahan orang tersebut dalam masalah (yang prinsip) dan yang sudah masyhur maka dia bisa dikatakan sesat dan mubtadi’. Jadi tidak benar kalau ada yang mengatakan (setiap orang pasti pernah salah, maka mengapa kritikan itu hanya ditujukan kepada dai-dai kondang tersebut saja ?!) Sesungguhnya ucapan ini hanyalah mencampur adukan antara yang/benar dan yang batil. Kesalahan orang itu tidak sama seperti yang telah dijelaskan. Dan kesalahan dai-dai kondang itu termasuk kesalahan yang tidak bisa ditolelir seperti seruan salah seorang dari mereka (Salman al-’Audah -pent) untuk mendirikan sekolah-sekolah khusus bagi Rofidha dan menjalin hubungan baik dengan mereka serta disebarluaskan hal ini ditengah masyarakat Ahli Sunnah dan tidak diingkari. Kemudian (perlu ditekankan lagi -pent) bahwa tujuanku dalam pembahasan ini bukan untuk mengumpulkan semua kesalahan mereka akan tetapi ini hanya memaparkan keplin-planan mereka hingga jelas masalahnya bagi pemuda islam mana yang haq dan batil dan supaya semuanya sadar dan memahami kenyataan.&lt;br /&gt;2. Apakah yang telah anda sebutkan itu mencakup semua kesalahan mereka ?Jawab :Telah disebutkan dalam jawaban terhadap soal pertama bahwa aku tidak bermaksud untuk memaparkan semua kesalahan mereka. Tapi aku hanya menjelaskan sebagian keplin-planan mereka meski sudah aku bantah khusus Safar Hawali dalam 2 kaset dan insya Allah aku akan bantah Salman al-’Audah, Nashir Umar dll dalam kesempatan lain. Semoga Allah mentakdirkan kebaikan kepada kita semua.&lt;br /&gt;3. Bukankah para dai-dai kondang tersebut mempunyai kebaikan-kebaikan ?! mengapa mereka dibantah sedang mereka itu mempunyai kebaikan-kebaikan?Jawab :Pertanyaan ini sering diulang-ulang dan kita dengar dari sebagian pemuda Islam, mereka berkata : Sesungguhnya si Fulan itu mempunyai banyak kebaikan maka mengapa dia dibantah ? maka (kita jawab) : Tidak seorangpun kecuali dia mempunyai kebaikan-kebaikan bahkan Imam Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa iblis juga memiliki kebaikan-kebaikan. Jadi setiap orang pasti punya kebaikan-kebaikan, Ahli bid’ah yang dibantah oleh para Imam-imam Ahli Sunnah mereka juga punya kebaikan-kebaikan, contoh Hasan bin Sholeh bin Huyai adalah seorang yang terkenal dengan ilmu hadits dan fiqh serta terkenal dengan ibadahnya sampai dikatakan bahwa jika dia berdiri untuk sholat seolah seperti sebatang kayu karena khusu’ dalam beribadah meskipun demikian Imam Sufyan bin Masruq Ats-Tsauri dan Imam Ahmad menyatakan dia itu sesat. Tidak ada seorangpun dari para imam-imam itu yang mengatakan dia kan punya kebaikan-kebaikan, mengapa kok dibantah ?. Jadi untuk membantah syubhat ini kita katakan :&lt;br /&gt;a. Kita hanya mengikuti para salaf / pendahulu kita yang shaleh dan tidak mengada-ada. Para salaf kita telah membantah banyak orang (yang menyimpang -pent) dan tidak mencegah para Imam salaf tersebut kebaikan-kebaikan orang tersebut. Bahkan mereka bantah semuanya sesuai dengan kadarnya. Siapa saja yang kesalahannya sampai kebatas pembid’ahan maka mereka membid’ahkannya dan siapa saja yang kesalahannya sampai ketabdi’ (Pembid’ahan) maka merekapun menggelari orang tersebut mubtadi’(Ahli bid’ah). Tidak ada seorangpun diantara imam-imam itu berdalih (jangan kau bantah dia, dia kan punya banyak kebaikan.) Kami adalah pengikut mereka para imam-imam salaf bukan pengada-ada.&lt;br /&gt;b. Seandainya kita mengambil kaidah mereka yang tersebut diatas maka tidak ada satupun yang boleh dibantah (meskipun orang kafir) karena mereka semua punya kebaikan-kebaikan, karena Allah tidak menciptakan kejelekan yang murni (100%-pent) sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abul Abbas Ibnu Taimiyah dan muridnya Imam Ibnul Qoyyim, “Sesungguhnya Allah tidak menciptakan kejelekan secara murni.” Setiap kejelekan pasti ada kebaikannya, tapi kebaikan yang ada tersebut tidak bisa mencegah kita untuk membantah mereka !!!!&lt;br /&gt;c. Jika engkau telah melihat kepada kebaikan-kebaikan mereka dan membenarkannya maka lihat juga kesalahan-kesalahannya yang jelas dan terang serta kasihilah umat Muhammad yang tertipu dengan kesalahan-kesalahan mereka itu lalu mengikutinya. Wajib bagi seorang muslim untuk berpandangan luas dan melihat sesuatu itu secara keseluruhan dan tidak sebagian kecilnya saja. Seorang yang sehat tapi tangannya itu mengalami penyakit (yang berbahaya) yang harus diamputasi lalu diputuskan untuk diamputasi demi kebaikannya, ini adalah suatu yang baik dan adil yaitu melihat sesuatu dengan pandangan menyeluruh (meski diamputasi tangannya) tapi maslahatnya untuk yang lainnya (biar tidak menjalar -pent). Kalau kita merasa kasihan kepada para dai-dai kondang itu karena banyaknya kebaikan-kebaikan mereka demikian pula kita juga melihat dengan pandangan yang luas serta kasihan kepada umat Muhammad khususnya para pemuda islam yang mengikuti mereka dan tergelincir dalam keplin-planan dai-dai tersebut serta bingung dan goncang. Dan yang sangat disayangkan ada sebagian pemuda yang mengikuti mereka kemana mereka pergi ketimur maupun kebarat (tanpa dipikir dahulu -pent).&lt;br /&gt;Walaupun alhamdulillah mereka ini jumlahnya tidak terlalu banyak. Sesungguhnya aku wasiatkan kepada para pemuda Islam agar mereka melihat dengan akal pikiran mereka serta memikirkan nasibnya kelak di akhirat. Dan agar mereka ingat bahwa kecintaan mereka (dahulu -pent) terhadap dai-dai kondang tersebut karena Allah dan karena dai-dai kondang tersebut menjalankan agama, oleh karena itu jika nampak penyimpangan mereka terhadap agama Muhammad r maka kita benci mereka juga karena Allah.&lt;br /&gt;4. Sesuai dengan perkataan anda yang menyatakan bahwa rekomendasi (para ulama terhadap) dai-dai kondang tersebut sekarang tidak berlaku -pent) apakah berarti rekomendasi para ulama itu tidak bisa dijadikan sandaran/bahan perhitungan ?Jawab :Tidak demikian, Bukanlah maksud ucapanku diatas bahwa rekomendasi ulama tidak diperhitungkan. Bahkan rekomendasi mereka itu adalah sandaran yang bisa dijadikan hujjah. Akan tetapi ucapanku diatas khusus bagi mereka yang dulu diberi rekomendasi oleh para ulama (lalu mereka berubah -pent) dan nampak penyimpangan mereka yang mengharuskan untuk dibantah. Tazkiyah / rekomendasi ulama bukanlah pencegah dari membicarakan/membantah orang yang menyimpang.Semoga Allah memberi taufiq kita semua kepada apa yang Dia cintai dan ridhai. Dan semoga Allah menampakkan kepada kita yang benar itu benar serta mengarahkan kita untuk mengikutinya dan menampakkan yang batil itu batil serta mengarahkan kita untuk menjauhinya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maraji':Transkrip Ceramah / Lihat majalah Adz-Dzakhirah edisi 12 thn II&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112032054887896383?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112032054887896383/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112032054887896383' title='2 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112032054887896383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112032054887896383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/menyingkap-hakekat-dai-kondang.html' title='Menyingkap Hakekat Dai Kondang'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112031909114618206</id><published>2005-07-02T22:43:00.000+07:00</published><updated>2005-07-02T22:44:51.146+07:00</updated><title type='text'>Petunjuk "Alim Rabbani"</title><content type='html'>asy-Syaikh Abdul Aziz Alussyaikh&lt;br /&gt;Wahai mereka yang cinta jihad dan berkeinginan mengangkat benderanya. Sesungguhnya agama Islam tidak mengobarkan untuk menumpahkan darah, bahkan berusaha untuk menahan pertumpahan darah jika didapati jalan menuju hal itu...&lt;br /&gt;Petunjuk "Alim Rabbani"&lt;br /&gt;Ini adalah petunjuk seorang alim Rabbani, ulama kita yang kokoh keilmuannya, asy-Syaikh al-Allaamah Abdul Aziz Alussyaikh –hafidhahullah– dalam permasalahan yang penting dan riskan, beliau berkutbah dalam kutbahnya yang bercahaya di Arafah :&lt;br /&gt;"Wahai mereka yang menjadikan jihad sebagai syiar! Pernahkah suatu hari engkau bertanya pada dirimu sendiri? Apakah menumpahkan darah kaum muslimin termasuk jihad fi sabilillah?&lt;br /&gt;Apakah menghalalkan darah orang kafir yang dijamin keamanannya termasuk jihad fi sabilillah? Apakah menghancurkan harta benda kaum muslimin termasuk jihad fi sabilillah?&lt;br /&gt;Wahai muslim, hendaknya engkau menjadi seorang yang berakal dan waspada!Berhati-hatilah, jangan sampai engkau menjadi seorang yang menggelora semangatnya (tanpa ilmu).&lt;br /&gt;Jadilah seorang muslim yang mengikuti petunjuk!Dan berhati-hatilah, janganlah engkau menjadi seorang pembuat kerusakan dan penumpah darah !&lt;br /&gt;Wahai saudaraku sesama muslim …Sesungguhnya jihad fisabilillah tidaklah disyariatkan untuk menumpahkan darah dan membunuh.&lt;br /&gt;Bukanlah jihad fisabilillah sebagai pelampiasan dan balas dendamJihad fisabilillah adalah ibadah kepada Allah dan salah satu syariat Allah.Jihad fisabililah disyariatkan untuk membela negeri muslimin.Sebagai sarana memelihara agama ini dan berdakwah kepadanya serta mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya.&lt;br /&gt;Wahai mereka yang cinta jihad dan berkeinginan mengangkat benderanya.Sesungguhnya agama Islam tidak mengobarkan untuk menumpahkan darah, bahkan berusaha untuk menahan pertumpahan darah jika didapati jalan menuju hal itu."Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya." (al-Anfal : 61)&lt;br /&gt;Wahai mereka yang cinta jihad dan berkeinginan mengangkat benderanya.Saya bertanya kepadamu (dan jawablah dengan benar), apakah engkau telah berjihad terhadap dirimu sendiri dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya?Apakah engkau telah berjihad terhadap dirimu sendiri dalam mengikuti al-Qur'an dan sunnah?&lt;br /&gt;Apakah engkau telah berjihad terhadap dirimu sendiri dalam menerima al-Qur'an dan sunnah, sekalipun akal dan hawa nafsumu menolaknya?Apakah engkau telah berjihad terhadap dirimu sendiri dalam menerima firman Allah:"Dan janganlah engkau membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya melainkan dengan sebab yang benar". (al-'An'am : 151)&lt;br /&gt;Dan sabda Rasulullah : "Barangsiapa keluar dari ketaatan dan menyelisihi jama'ah lalu mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah, dan barangsiapa berperang dibawah bendera "amiyyah" (tidak berdasarkan petunjuk agama), ia marah karena fanatisme kelompok dan mengajak kepadanya atau menolong lantarannya lalu terbunuh, maka ia mati jahiliyyah, Barangsiapa yang keluar dari umatku, melawan/membunuh orang yang baik maupun yang jahat, tidak mewaspadai orang-orang mu'min dan tidak menunaikan janjinya, maka dia bukan dari golonganku dan aku bukanlah darinya." (Muslim 1848)&lt;br /&gt;Wahai saudaraku sesama muslim,Sesungguhnya pengertian jihad amat luas tidaklah terbatas dalam makna tertentu, bahkan pengertian jihad bermacam-macam, berdakwah kepada Allah, mendamaikan diantara kaum muslimin dan menunaikan kewajiban-kewajiban, semua itu adalah termasuk jihad...….&lt;br /&gt;Maraji':Dinukil dari kaset ceramah asy-Syaikh Abdul Aziz Alussyaikh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112031909114618206?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112031909114618206/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112031909114618206' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031909114618206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031909114618206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/petunjuk-alim-rabbani.html' title='Petunjuk &quot;Alim Rabbani&quot;'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112031892488848746</id><published>2005-07-02T22:41:00.000+07:00</published><updated>2005-07-02T22:42:04.896+07:00</updated><title type='text'>Tafsir Surat al-Hadid 22-23</title><content type='html'>DR. Abdul Adhim Badawi&lt;br /&gt;Mengapa engkau tidak meminta petunjuk Tuhanmu, mengapa engkau tidak bangun dimalam hari (shalat malam) menghadap kepada-Nya sambil berdo'a : "Ya Allah Rabb Jibrail, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang ghaib maupun yang nyata, Engkaulah yang memutuskan perselisihan hamba-hamba-Mu, tunjukilah aku kebenaran dari apa yang mereka perselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus." (Hadits riwayat Muslim)&lt;br /&gt;Tafsir surat al-Hadid : 22-23&lt;br /&gt;Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."&lt;br /&gt;Oleh : Doktor Abdul Adhim Badawi&lt;br /&gt;Allah berfirman : "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi" berupa kekeringan dan kemarau atau bencana lainnya, "dan (tidak pula) pada dirimu sendiri" berupa sakit dan penderitaan dan bencana lainnya, "melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh)" disisi Allah "sebelum Kami menciptakannya."&lt;br /&gt;Allah telah menulis segala apa yang akan terjadi lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan Bumi, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah (dalam hadits beliau). Dan ayat ini adalah salah satu dalil yang dipergunakan Ahlussunnah untuk membantah madzhab Qodariyyah, yang mengatakan : "Tidak ada takdir, dan kejadian itu baru terjadi". Mereka bermaksud dengan ucapan itu : "Bahwasanya Allah tidak mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya". Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan;&lt;br /&gt;“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk : 14)&lt;br /&gt;Beriman terhadap takdir -maknanya adalah beriman terhadap ilmu Allah yang mengetahui segala sesuatu sebelum penciptaannya- dan ini termasuk salah satu dari rukun iman, sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril ketika Jibril bertanya kepada Nabi tentang iman. Lalu Rasulullah menjawab :&lt;br /&gt;"Engkau beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, dan beriman terhadap takdir baik atau buruknya".&lt;br /&gt;Dan Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;"Tidaklah beriman seorang hamba hingga ia beriman terhadap takdir yang baik atau yang buruk, hingga ia mengetahui bahwa apa saja yang menimpanya tidak akan meleset, dan apa saja yang meleset darinya tidak akan menimpanya". (Hadits riwayat Tirmidzi 2231).&lt;br /&gt;Didalam al-Qur'an banyak sekali dijumpai ayat yang menjelaskan tentang takdir, diantaranya firman Allah :&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (al-Qamar : 49)&lt;br /&gt;Beriman terhadap takdir mempunyai empat kandungan pengertian :&lt;br /&gt;Pertama :&lt;br /&gt;Beriman bahwasanya Allah mengetahui segala sesuatu, dan tiada sesuatupun yang di langit maupun di bumi tersembunyi dari-Nya. Allah berfirman :&lt;br /&gt;"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." (At-Thalaq : 12)&lt;br /&gt;Kedua :&lt;br /&gt;Beriman bahwasanya Allah telah menuliskan segala apa yang terjadi dalam kitab-Nya (Lauhul Mahfudz), sebagaimana Allah berfirman :&lt;br /&gt;“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid : 22)&lt;br /&gt;Dan Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;"Awal kali yang diciptakan Allah adalah pena. Allah berfirman : "Tulislah!" pena berkata : "Apa yang akan saya tulis?" Allah berfirman : "Tulislah apa yang akan terjadi hingga hari kiamat!" (Shahih riwayat Abu Daud)&lt;br /&gt;Dan Rasulullah bersabda kepada Ibnu Abbas :&lt;br /&gt;"Ketahuilah bahwa seandainya umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan sesuatu yang telah dituliskan Allah bagimu, dan kalau seandainya mereka berkumpul untuk memberi mudharat bagimu niscaya mereka tidak akan dapat memberi mudharat melainkan apa yang telah dituliskan bagimu. Pena-pena telah diangkat dan telah kering lembaran-lembaran". (Hadits Shahih riwayat Tirmidzi 4/76/2635)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga :&lt;br /&gt;Beriman bahwasanya Allah adalah Rabb (Pencipta,Pemelihara) dan Pemilik segala sesuatu, dan bahwasanya Allah adalah Raja segala Raja, Allah adalah pengatur seluruh alam semesta ini, apa yang dikehendaki Allah akan terlaksana, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terlaksana sekalipun seorang hamba menginginkannya :&lt;br /&gt;"Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia." (Yasin : 82)&lt;br /&gt;Keempat :&lt;br /&gt;Beriman bahwsanya Allah adalah pencipta segala sesuatu, dan tidak ada pencipta selain-Nya, dan sebagian dari ciptaan Allah adalah perbuatan manusia, Allah berfirman :&lt;br /&gt;"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". (ash-shaffaat : 96)&lt;br /&gt;Empat hal inilah yang wajib diimani hingga seorang hamba menjadi seorang yang beriman terhadap takdir, dan wajib untuk menahan diri dari terlalu mendalami masalah takdir, dan saya melihat manusia yang paling bodoh terhadap takdir adalah mereka yang paling banyak berdalam-dalam dalam masalah takdir.&lt;br /&gt;Akan tetapi disana ada syubhat yang dilontarkan oleh orang-orang musyrik baik pada zaman dahulu maupun sekarang, dan barangkali syubhat ini ada pada orang-orang yang beriman. Syubhat ini adalah perkataan : "Jika Allah adalah pencipta kita dan pencipta perbuatan-perbuatan kita, mengapa Dia mengazab hamba yang bermaksiat kepadanya?"&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun". Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta. Katakanlah: "Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya". (al-An'am : 148-149)&lt;br /&gt;Tidak ada pada seorang hamba hujjah/alasan untuk membantah Allah. Ya benar perbuatan kita adalah ciptaan Allah, akan tetapiAllah I mencintai ketaatan-ketaatan yang kita lakukan, dan membenci kemaksiatan-kemaksiatan kita. Allah I memerintahkan kita untuk taat kepada-Nya, dan melarang kita berbuat maksiat kepada-Nya. Maka perintah adalah tanda kecintaan, dan larangan adalah tanda kebencian. Adapun kehendak (irodah) ada dua macam :&lt;br /&gt;&lt; "Irodah Kauniyyah Khalqiyyah" (Ketetapan/taqdir Allah yang tidak pasti dicintai-Nya)&lt; "Irodah Syar'iyyah Diiniyyah" (Ketetapan/taqdir Allah yang pasti dicintai-Nya)&lt;br /&gt;Adapun "Irodah Syar'iyyah Diiniyyah" berhubungan dengan perintah dan larangan, adapun "Irodah kauniyyah khalqiyyah" berhubungan dengan perbuatan seorang hamba. Terkadang (didapati pada diri seorang hamba) ada ketaatan, dan terkadang ada maksiat. Maka jika didapati kemaksiatan tidaklah hal ini menunjukkan tanda kecintaan Allah, karena Allah melarangnya, dan larangan itu tanda dari kebencian bukan tanda kecintaan, apapun yang dilarang Allah adalah sesuatu yang dibenci, walaupun hal ini takdir, dan apa yan diperintahkan Allah adalah sesuatu yang dicintai sekalipun tidak ada takdir. Dan kita dibebani dengan perbuatan yang dicintai Allah, dan meninggalkan perbuatan yang dilarang-Nya.&lt;br /&gt;Allah telah mengirim para rasul-Nya serta menurunkan kitab-kitab-Nya untuk menerangkan kepada manusia apa yang wajib diamalkannya dan apa yang wajib ditinggalkannya, dan dengan hal ini hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya ditegakkan, oleh karena itu Allah berfirman :&lt;br /&gt;"Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (al-Isra : 15)&lt;br /&gt;Maka selagi Allah memberi petunjuk kita kepada dua jalan, dan mengirim para rasul yang memerintahkan kita untuk menempuh jalan yang lurus, yaitu jalan Allah, dan melarang kita untuk menempuh jalan bengkok lainnya, maka telah tegak hujjah Allah atas hamba, maka barangsiapa mentaatinya akan mendapatkan surga, dan barangsiapa berbuat maksiat kepadanya maka akan masuk neraka ;&lt;br /&gt;"Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun". (al-Kahfi : 49)&lt;br /&gt;Subhat yang lain :Kerap kali kita mendengar sebagian orang jika dinasehati atau diingatkan ia berkata :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya." (al-Qashas : 56)&lt;br /&gt;Kalimat ini benar, tapi digunakan untuk kebatilan, karena bukanlah makna : "Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya" bahwa seseorang yang tersesat terus-menerus dalam kesesatan, yang akhirnya Allah memberinya hidayah, sesungguhnya Allah tidak menghendaki manusia dipaksa untuk mengikuti petunjuk, Allah I berfirman :&lt;br /&gt;"Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya." (as-Sajadah : 13)&lt;br /&gt;Allah tidak menghendaki untuk menjadikan manusia seperti malaikat :&lt;br /&gt;"Mereka (para malaikat) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (at-Tahrim : 6)&lt;br /&gt;Akan tetapi Allah :&lt;br /&gt;"Dia menciptakan manusia, Yang telah mengajarkan Al Qur'an." (ar-Rahman : 3-4)&lt;br /&gt;Dan Allah telah memberinya dua jalan, lalu membiarkannya agar memilih yang dikehendakinya :&lt;br /&gt;"Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". (al-Kahfi : 29)&lt;br /&gt;Dan ayat ini turun sebagai pelipur lara Rasulullah, dan untuk menghibur beliau atas kematian pamannya Abu Thalib dalam keadaan kafir, karena pembelaan Abu Thalib terhadap Rasulullah telah masyhur, dan Rasulullah sangat menginginkan agar pamannya masuk Islam, maka disaat-saat mendekati kematiannya, Nabi berkata kepada pamannya :&lt;br /&gt;"Wahai paman, katakanlah : la ilaha illalloh, saya akan memberi syafaat bagimu dengannya disisi Allah.”&lt;br /&gt;Abu Thalib berkeinginan untuk mengucapkannya, akan tetapi teman-temannya yang jahat yaitu Abu Jahl dan teman-temannya, berkata kepadanya : "Apakah engkau ingin meninggalkan agama Abdul Mutthalib ?" Lalu Abu Thalib menjawab : "Tidak, saya tetap dalam agama Abdul Mutthalib." Maka setelah itu Abu Thalib mati dalam keadaan kafir. Nabi pun sedih lantaran hal ini. Lalu beliau berkata : "Wahai paman, demi Allah saya akan memohonkan ampunan untukmu selama aku belum dilarang Allah untuk hal ini." Maka Allah menurunkan firmannya :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yangdikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (al-Qashash : 56)&lt;br /&gt;“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam.” (at-Taubah : 113)&lt;br /&gt;Jika demikian halnya : "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi", dikatakan kepada seorang alim yang sangat berkeinginan keras untuk memberi petunjuk manusia, sedangkan manusia berpaling darinya, tidak menerima dakwahnya, maka dikatakan kepadanya untuk menghiburnya : "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi." Sebagaimana juga dikatakan kepada seorang ayah yang berkeinginan keras untuk memberi petunjuk anaknya yang berbuat maksiat, dan anak itu terus berbuat maksiat, maka dikatakan kepada semisalnya : "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi." Adapun jika ayat ini dijadikan hujjah bagi orang-orang yang sesat dan mereka berkata : "Kalau Allah I menghendaki tentu Dia akan memberi petunjuk kita." Maka ini adalah perkataan yang aneh, karena seseorang jika tertimpa penyakit ia akan segera pergi berobat ke dokter, siang dan malam berusaha mencari rezki, adapun hidayah/petunjuk yang mana ia adalah sesuatu yang paling mahal yang dimiliki oleh manusia ia tidak berusaha untuk mencarinya, tetapi ia hanya duduk menunggu agar datang tanpa usaha dan amal. Kalaulah engkau jujur wahai manusia dalam mencari petunjuk dan mengharapkan padanya, mengapa engkau tidak berusaha untuk mendapatkannya? Mengapa engkau tidak bangun di akhir malam dan berdoa :&lt;br /&gt;"Ya Allah berilah aku petunjuk, ketaqwaan, kehormatan dan kekayaan." (Hadits shahih riwayat Muslim 2721/4/287) danTirmidzi (3555/5/184).&lt;br /&gt;"Ya Allah berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang engkau beri petunjuk." (Shahih riwayat Abu Daud 1412, Tirmidzi dan Nasa'i 3/248).&lt;br /&gt;Tidakkah engkau mengetahui bahwasanya Allah berfirman dalam hadits Qudsi :&lt;br /&gt;"Wahai hambaku, kalian semua dalam keadaan tersesat kecuali mereka yang aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk-Ku niscaya Aku beri petunjuk kalian." (Muslim 770, 1/534)&lt;br /&gt;Mengapa engkau tidak meminta petunjuk Tuhanmu, mengapa engkau tidak bangun dimalam hari (shalat malam) menghadap kepada-Nya sambil berdo'a :&lt;br /&gt;"Ya Allah Rabb Jibrail, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang ghaib maupun yang nyata, Engkaulah yang memutuskan perselisihan hamba-hamba-Mu, tunjukilah aku kebenaran dari apa yang mereka perselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus." (Hadits riwayat Muslim)&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi petunjuk kita kepada jalan yang lurus.Dan firman Allah : "Supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu."&lt;br /&gt;Jika engkau sangat menginginkan sesuatu, engkau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperolehnya lalu luput, maka janganlah engkau terlalu bersedih hati :&lt;br /&gt;"Ketahuilah bahwa apa saja yang luput dari mu tidak akan engkau dapatkan."&lt;br /&gt;Dan bahwa luputnya itu adalah baik bagimu daripada mendapatkannya, maka ridhalah terhadap apa yang dibagikan Allah , dan ketahuilah bahwasanya :&lt;br /&gt;"Tidaklah Allah mentakdirkan kepada hambanya yang beriman suatu takdir melainkan baik baginya."&lt;br /&gt;Dan jika engkau memperoleh sesuatu maka janganlah terlalu bergembira ;&lt;br /&gt;"Dan Allah tidak menyukai setiap orang-orang yang terlalu membanggakan diri." (al-Qashash : 76)&lt;br /&gt;Maksud dari hal ini : "Hendaknya seseorang tidak bersedih hati atas apa yang luput darinya dengan kesedihan yang menggiringnya kedalam keputus-asaan, dan hendaknya jangan terlalu bergembira dengan apa yang diperolehnya yang menyebabkannya lupa karunia Allah dan tidak mensyukurinya. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Qorun :&lt;br /&gt;"(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri’. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (al-Qashash : 76-77)&lt;br /&gt;Maka tidaklah jawaban yang diucapkan Qarun melainkan :&lt;br /&gt;“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’.” (al-Qashash : 78)&lt;br /&gt;Apakah ini karunia Allah atasku ? Ini adalah hasil dari ilmu dan kemahiranku serta kepandaianku dalam mengolah, tidak ada karunia Allah atasku ;&lt;br /&gt;"Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka." (al-Qashash : 78)&lt;br /&gt;Ini adalah kegembiraan yang dilarang, dan kalau tidak demikian maka tidak ada seorangpun diantaran kita melainkan bersedih terhadap apa yang luput, dan bergembira dengan apa yang diperolehnya. Dan firman-Nya :&lt;br /&gt;“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (al-Hadid : 23)&lt;br /&gt;Dan Qarun sombong dan berbangga diri terhadap manusia dengan harta yang bukan dari usahanya, dan bukan dari hasil perbuatan tangannya.&lt;br /&gt;Mereka bakhil dengan karunia Allah yang diberikan kepada mereka, dan tidak menginfakkannya dijalan Allah, dan tidak hanya bakhil saja, bahkan mereka "Menyuruh orang lain berbuat kikir", dan barangsiapa "berpaling" dari Allah dan Rasul-Nya "Maka sesungguhnya Allah adalah Maha Kaya lagi Maha Terpuji", sebagaimana firman Allah :&lt;br /&gt;"Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu." (az-Zumar : 7)&lt;br /&gt;Maraji':Majalah at-Tauhid&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112031892488848746?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112031892488848746/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112031892488848746' title='1 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031892488848746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031892488848746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/tafsir-surat-al-hadid-22-23.html' title='Tafsir Surat al-Hadid 22-23'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112031884055541145</id><published>2005-07-02T22:39:00.000+07:00</published><updated>2005-07-02T22:40:40.556+07:00</updated><title type='text'>Untukmu Wahai Wanita Muslimah</title><content type='html'>Wajib bagi seorang wanita muslimah yang beriman untuk mempunyai kedudukan tinggi dan terangkat dari perhatian yang lebih dari hanya sekedar keindahan tubuh dan pakaiannya, tempat tinggalnya dan tempat pertemuannya.&lt;br /&gt;Seorang wanita muslimah yang beriman akan mencapai kedudukan yang tinggi dan mulia jika memperhatikan aqidahnya yang muncul dari kedalaman hatinya, cinta dan loyalitas kepada Allah Rabbnya, berharap dan takut kepada Allah , inilah aqidah yang mendorongnya untuk berlomba-lomba didalam ketaatan kepada Allah Rabbnya yang menguasai langit dan bumi, dan berlomba-lomba untuk tunduk kepada Allah .&lt;br /&gt;Ketaatan dan ketundukan ini muncul dari ilmu yang kokoh terhadap Al-Quran dan sunnah Rasulullah r, seorang wanita muslimah yang beriman mengetahui dengan yakin bahwasannya ia diciptakan oleh Allah dan akan kembali kepada-Nya, dan Allah telah memili seorang wanita agar menjadi ibu para umat manusia, seorang wanita adalah ibu para manusia yang mereka merasa tenang kepadanya, mereka merasa gembira didunia dan akhirat lantaran suri tauladan seorang wanita yang shalihah dan pendidikannya yang tinggi dan mulia, dan kepemimpinannya yang lembut dan bijaksana, dan dengan pengajarannya yang bersandar kepada kitab Al-Qur'an dan sunnah Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Seorang wanita adalah ibu bagi masyarakat yang bijaksana dirumah suaminya, Rasululla r bersabda :&lt;br /&gt;"Seorang wanita adalah seorang pemimpin dirumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya"&lt;br /&gt;Sebagian penyair mengatakan :&lt;br /&gt;Seorang ibu adalah sekolahan&lt;br /&gt;Jika anda menyiapkannya&lt;br /&gt;Berarti anda menyiapkan generasi yang baik&lt;br /&gt;Seorang ibu adalah taman&lt;br /&gt;Jika seseorang memeliharanya ia akan tumbuh dengan baik&lt;br /&gt;Seorang ibu adalah guru pertama …….&lt;br /&gt;Tidaklah para ulama yang terkemuka, dan para penceramah yang mahir dan fasih melainkan dilahirkan dari perempuan-perempuan yang baik. Maka hendaknya seorang wanita yang shalihah menjadi anak perempuan yang beradab, isteri yang taat dan seorang ibu yang bertakwa. Hingga masyarakat islami tumbuh, berdiri diatas kesucian dan kehormatan dan ketakwaan, dan keimanan. Dan Allahlah yang mengetahui tujuan dan niat dan Dialah yang dimintai ertolongan dan tidak ada kekuatan dan daya melainkan dengan pertolonganNya.&lt;br /&gt;Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;Maraji':Diterjemahkan dari Majalah Al-Asholah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112031884055541145?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112031884055541145/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112031884055541145' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031884055541145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031884055541145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/untukmu-wahai-wanita-muslimah.html' title='Untukmu Wahai Wanita Muslimah'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112031876515744286</id><published>2005-07-02T22:38:00.000+07:00</published><updated>2005-07-02T22:39:25.163+07:00</updated><title type='text'>Metode Salafus Shalih Dalam Menerima Ilmu</title><content type='html'>As-Syaikh Abdul Adhim Badawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah perbedaan antara kita dan sahabat-sahabat Nabi, tabiin dan tabiut tabiin yang mereka hidup pada masa yang mulia. Sungguh pada masa mereka nasehat-nasehat, kutbah-kutbah dan pelajaran-pelajaran sedikit, hingga berkata salah seorang sahabat...&lt;br /&gt;Metode Salafus Shalih Dalam Menerima Ilmu&lt;br /&gt;Dari fenomena yang tampak pada saat ini, kita menyaksikan kutbah-kutbah, nasehat-nasehat, pelajaran-pelajaran banyak sekali, melebihi pada zaman para sahabat Nabi, tabiin (orang-orang yang berguru kepada para sahabat) serta tabiut tabiin (orang-orang yang berguru kepada tabiin). Namun bersamaan itu pula, amal perbuatan sedikit. Sering kali kita mendengarkan perintah Allah dan Rasul-Nya namun, sering juga kita tidak melihat ketaatan, dan sering kali kita mengetahuinya, namun sering kali juga kita tidak mengamalkan.&lt;br /&gt;Inilah perbedaan antara kita dan sahabat-sahabat Nabi, tabiin dan tabiut tabiin yang mereka hidup pada masa yang mulia. Sungguh pada masa mereka nasehat-nasehat, kutbah-kutbah dan pelajaran-pelajaran sedikit, hingga berkata salah seorang sahabat :“Adalah Rasulullah tatkala memberikan nasehat mencari keadaan dimana kita giat, lantaran khawatir kita bosan” muttafaqun alaihi&lt;br /&gt;Di zaman para sahabat dahulu sedikit perkataan tetapi banyak perbuatan, mereka mengetahui bahwa apa yang mereka dengar dari Rasulullah wajib diamalkan, sebagaimana keadaan tentara yang wajib melaksanakan komando atasannya di medan pertempuran, dan kalau tidak dilaksanakan kekalahan serta kehinaanlah yang akan dialami.&lt;br /&gt;Para sahabat Nabi dahulu, menerima wahyu Allah dengan perantaraan Rasulullah dengan sikap mendengar, taat serta cepat mengamalkan. Tidaklah mereka terlambat sedikitpun dalam mengamalkan perintah dan larangan yang mereka dengar, dan juga tidak terlambat mengamalkan ilmu yang mereka pelajari dari Rasulullah .&lt;br /&gt;Inilah contoh yang menerangkan bagaimana keadaan sahabat Nabi tatkala mendapatkan wahyu dari Allah. Para ahli tafsir menyebutkan tentang sebab turunnya ayat dalam surat al-Ahzab ini (dengan berbagai macam sebab), saya akan menukil sebab turunnya ayat itu :&lt;br /&gt;Para ahli tafsir meriwayatkan, bahwa Rasulullah ingin menghancurkan adanya perbedaan-perbedaan tingkatan (kasta) di antara manusia, dan melenyapkan penghalang antara fuqara (orang-orang fakir) dan orang-orang kaya. Dan juga antara orang-orang yang merdeka (yaitu bukan budak dan bukan pula keturunannya), dengan orang-orang yang (mendapatkan nikmat Allah) menjadi orang merdeka sesudah dulunya menjadi budak.&lt;br /&gt;Rasulullah ingin menerangkan kepada manusia bahwa mereka semua seperti gigi yang tersusun, tidak ada keutamaan bagi orang Arab terhadap selain orang Arab, dan tidak ada keutamaan atas orang yang berkulit putih terhadap yang berkulit hitam kecuali ketaqwaanlah (yang membedakan antara mereka). Sebagaimana firman Allah :“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Surat al-Hujurat : 13)&lt;br /&gt;Rasulullah ingin menanamkan dalam hati manusia mabda’ (pondasi) ini. Dan barangkali, dalam keadaan seperti ini, perkataan sedikit faedah dan pengaruhnya, yang demikian itu dikarenakan manusia fithrahnya ingin menonjol dan cinta popularitas. Maka Rasulullah berpendapat untuk menanamkan pondasi ini dalam jiwa-jiwa manusia dalam bentuk amal perbuatan (yang beliau wujudkan) dalam lingkungan keluarga serta kerabat beliau. Hal ini dikarenakan amal perbuatan lebih banyak memberi kesan dan pengaruh yang mendalam dalam hati manusia, dari hanya sekedar berbicara semata.&lt;br /&gt;Maka Rasulullah pergi kepada Zainab binti Jahsiy anak perempuan bibi beliau (kakek Zainab dan kakek Rasulullah sama yaitu Abdul Mutthalib seorang tokoh Quraisy) untuk meminangnya. Beliau ingin mengawinkannya dengan budak beliau Zaid bin Haritsah yang telah diberi nikmat Allah menjadi orang merdeka (lantaran dibebaskan dari budak).&lt;br /&gt;Lalu tatkala beliau menyebutkan bahwa beliau akan menikahkan Zaid bin Haritsah dengan Zainab binti Jahsiy, berkatalah Zainab binti Jahsiy : “Saya tidak mau menikah dengannya”. Kemudian Rasulullah menjawab : “Engkau harus menikah dengannya”. Dijawab oleh Zainab : “Tidak, demi Allah, selamanya saya tidak akan menikahinya”.&lt;br /&gt;Ketika berlangsung dialog antara Zainab dan Rasulullah, Zainab mendebat dan membantah beliau, turunlah wahyu yang memutuskan perkara itu :“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. ( al-Ahzab : 36 )&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah membacakan ayat tersebut kepada Zainab, maka berkatalah Zainab : “Ya Rasulullah ! apakah engkau ridha ia menjadi suamiku ?” Rasulullah menjawab : “Ya”, maka Zainab berkata : “Jika demikian aku tidak akan mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, lalu akupun menikah dengan Zaid”.&lt;br /&gt;Demikianlah, Zainab binti Jahsiy menyetujui perintah Allah dan Rasul-Nya, dan hanyalah keadaannya tidak setuju pada awal kalinya, lantaran Rasulullah hanyalah menawarkan dan bermusyawarah dengannya. Maka tatkala turun wahyu, perkaranya bukan hanya perkara nikah atau meminang, setuju atau tidak setuju, tetapi (setelah turunnya wahyu), perkaranya berubah menjadi ketaatan atau bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Tidak ada jalan lain didepan Zainab binti Jahsiy radhiyallahuanha (semoga Allah meridhainya), melainkan harus mendengar dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kalau tidak taat maka berarti telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, sedangkan Allah berfirman : $Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. ( al-Ahzab: 36)&lt;br /&gt;Demikianlah, sikap para sahabat Nabi dahulu tatkala menerima wahyu dari Allah, adapun kita (berbeda sekali), tiap pagi dan petang telinga kita mendengarkan perintah-perintah serta larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi seolah-olah kita tidak mendengarkannya sedikitpun. Dan Allah telah menerangkan bahwa manusia yang paling celaka adalah manusia yang tidak dapat mengambil manfaat suatu nasehat, Allah berfirman : “Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfa'at, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup”. ( al-A’la : 9-13)&lt;br /&gt;Dan Allah menyebutkan keadaan orang munafik tatkala mereka hadir dalam majelis Rasulullah, mereka hadir dengan hati yang lalai :َ“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?”. (al-Munafiqun : 4)&lt;br /&gt;Lalu tatkala bubar dari majelis, mereka tidak memahami sedikitpun, Allah berfirman :$“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): "Apakah yang dikatakannya tadi?" Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka”. ( Muhammad : 16)&lt;br /&gt;Takutlah terhadap diri-diri kalian ! (wahai hamba Allah), dari keadaan yang terjadi pada orang-orang munafik, berusaha dan bersemangatlah untuk bersikap sebagaimana para sahabat Nabi . Ketahuilah ! sebagaimana Allah telah mencela orang-orang yang berpaling dan lalai , sungguh Allah memuji orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu memahami seperti yang dimaksud oleh Allah, lalu mengamalkannya, Allah berfirman :“Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (az-Zumar : 17-18)&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai hamba Allah yang muslim, bahwa tidak ada lagi pilihan bagi kalian terhadap perintah Allah yang diperintahkan kepadamu ! tidak ada lagi pilihan bagimu ! baik engkau kerjakan ataupun tidak.&lt;br /&gt;Tidak ada lagi pilihan bagimu terhadap larangan Allah yang engkau dilarang darinya ! baik engkau tinggalkan ataupun tidak ! Engkau dan apa yang engkau miliki semuanya adalah milik Allah, engkau hamba Allah, dan Allah adalah tuanmu. Bagi seorang hamba, hendaknya mencamkan dalam dirinya untuk mendengar dan taat kepada perintah tuannya, sekalipun perintah itu nampak berat atas dirinya. Dan kalau tidak taat, tentu akan mendapatkan murka dari majikannya.&lt;br /&gt;Dan Allah telah meniadakan keimanan dari orang-orang yang tidak ridha dengan hukum-Nya dan tidak tunduk kepada Rasul-Nya, Allah berfirman : َ“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. ( an-Nisa : 65)&lt;br /&gt;Dan Allah menghukumi dengan sesat atas orang yang bermaksiat kepada perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya, Allah berfirman :$“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. ( al-Ahzab : 36)&lt;br /&gt;Sesudah itu, hendaklah anda wahai para pembaca yang mulia bersama dengan saya memperhatikan perbandingan ini :&lt;br /&gt;Kita tadi telah mengatakan : Bahwa Rasulullah pergi ke Zainab Binti Jahsiy – radhiyallahuanha - untuk meminangnya bagi Zaid bin Haritsah. Awalnya Zainab menolak, karena pinangan Rasulullah hanyalah bersifat menolong semata, bukan perintah. Maka tatkala turun ayat, berubahlah perkaranya menjadi perintah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Tidak ada keleluasaan bagi Zainab binti Jahsiy sesudah turunnya ayat itu, kecuali (harus) mendengar dan taat. Dan kalaulah perkaranya hanya menolong semata, tentu Zainab binti Jahsiy berhak menolak (jika tidak setuju), karena seorang wanita berhak memilih calon suami, sebagaimana lelaki memilih calon istri, dan inilah yang terjadi pada kisah Barirah :&lt;br /&gt;Dan kisahnya Barirah adalah sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari : “Bahwa 'Aisyah Ummul mu'minin radhiyallahuanha membeli seorang budak bernama Barirah, lalu 'Aisyah memerdekakannya. Barirah ini mempunya suami bernama Mughis (dan ia juga seorang budak). Maka tatkala dimerdekakan Barirah mempunyai hak untuk memilih, apakah ia tetap berdampingan dengan suaminya yang seorang budak, atau bercerai. Maka Rasulullah memberikan pilihan baginya. Ternyata Barirah memilih untuk bercerai dengan suaminya.&lt;br /&gt;Adapun suaminya, sungguh sangat mencintainya dengan kecintaan yang sangat. Hingga tatkala Barirah memilih bercerai dengannya, ia berjalan dibelakang Barirah di kampung-kampung kota Madinah dalam keadaan menangis. Maka tatkala Rasulullah melihat keadaannya itu, beliau berkata kepada paman beliau Abbas : “Tidakkah engkau heran terhadap kecintaan Mughis kepada Barirah ? sedang Barirah tidak menyukai Mughis?”. Lalu Rasulullah berkata kepada Barirah : “Wahai Barirah, mengapa engkau tidak kembali kepada suamimu?” sesungguhnya ia adalah suamimu dan ayah dari anak-anakmu!”. Maka Barirah berkata : “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintah atau hanya menganjurkan saja?”&lt;br /&gt;Allahu Akbar !! perhatikanlah wahai para pembaca pertanyaan Barirah ini !! Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintah? Sehingga aku tidak berhak menyelisihi perintahmu? atau engkau hanya menganjurkan saja sehingga aku boleh berpendapat dengan pikiranku ? Rasulullah bersabda : “Aku hanya menganjurkan saja!” Barirah berkata : “Aku tidak membutuhkan suamiku lagi!!”&lt;br /&gt;Disini kami berkata : “Pertama kali Zainab binti jahsiy menolak untuk menikah dengan Zaid bin Haritsah, karena masalahnya hanyalah anjuran semata, maka tatkala turun wahyu perkaranya berubah menjadi ketaatan atau maksiat.&lt;br /&gt;Zainab binti Jahsiy berkata : “Wahai Rasulullah apakah engkau meridhai aku menikah dengannya?” Rasulullah menjawab : “Ya”. Jika demikian aku tidak akan mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Dan juga terhadap Barirah, tatkala Rasulullah menawarkan agar ia kembali kepada suaminya, ayah dari anak-anaknya yang tidak dapat bersabar untuk berpisah dengannya, Barirah meminta penjelasan : “Apakah engkau menyuruhku wahai Rasulullah?” Sehingga tidak ada keleluasaan bagiku kecuali harus mendengar dan taat? Maka tatkala Rasulullah bersabda : “Aku hanya menganjurkan” berkatalah Barirah : “Aku tidak membutuhkannya lagi”.&lt;br /&gt;Demikianlah adab Para sahabat Nabi terhadab Allah dan Rasul-Nya, serta bagaimana mereka beragama karena Allah dan Rasul-Nya dengan sikap mendengar dan taat, maka Allah menguasakan kepada mereka dunia ini, dan masuklah manusia ditangan mereka kepada agama Allah secara berbondong-bondong. Adapun kita, tatkala tidak ber-adab kepada Allah dan Rasul-Nya dengan kebimbangan dan menimbang-nimbang antara perintah dan larangan-laranganNya (kita kerjakan atau tidak kita kerjakan), maka jadilah keadaan kita ini sebagaimana yang kita saksikan saat ini, maka demi Allah, kepada-Nyalah kalian mohon pertolongan, wahai kaum muslimin ! :$“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”. (az- Zumar : 54)Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (an-Nuur :31)&lt;br /&gt;Maraji':Diterjemahkan dari majalah : at-Tauhid edisi 8 tahun ke 25 syaban 1417 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112031876515744286?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112031876515744286/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112031876515744286' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031876515744286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031876515744286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/metode-salafus-shalih-dalam-menerima.html' title='Metode Salafus Shalih Dalam Menerima Ilmu'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112031859780385126</id><published>2005-07-02T22:35:00.000+07:00</published><updated>2005-07-02T22:36:37.806+07:00</updated><title type='text'>Dan bentuk pertanyaan orang yang belajar adalah bertanya tentang apa yang tidak ia ketahui dan bukannya bertanya tentang apa yang ia ketahui...</title><content type='html'>Dan bentuk pertanyaan orang yang belajar adalah bertanya tentang apa yang tidak ia ketahui dan bukannya bertanya tentang apa yang ia ketahui...&lt;br /&gt;Nasehat Ibnu Hazm&lt;br /&gt;“Jika anda menghadiri majelis ilmu maka janganlah kamu hadir kecuali kehadiranmu itu untuk menambah ilmu dan memperoleh pahala, dan bukannya kehadiranmu itu dengan merasa cukup akan ilmu yang ada padamu, mencari-cari kesalahan (dari pengajar) untuk menjelekkannya. Karena ini adalah perilaku orang-orang yang tercela, yang mana orang-orang tersebut tidak akan mendapatkan kesuksesan dalam ilmu selamanya.Maka jika anda menghadiri majelis ilmu sesuai dengan apa yang telah kami sebutkan, maka tetapilah tiga hal ini dan tidak ada keempatnya :&lt;br /&gt;Pertama :&lt;br /&gt;Bersikap diamlah engkau seperti diamnya orang yang bodoh&lt;br /&gt;Kedua :Engkau bertanya seperti bertanya-nya seorang yang ingin belajar.&lt;br /&gt;Dan bentuk pertanyaan orang yang belajar adalah bertanya tentang apa yang tidak ia ketahui dan bukannya bertanya tentang apa yang ia ketahui. Karena menanyakan apa yang telah kamu ketahui adalah pertanda lemahnya dan kurangnya akal serta menyibukkan gurumu dengan perkataanmu, menghabiskan waktumu dengan sesuatu yang tidak berfaedah. Jika orang yang engkau bertanya kepadanya telah menjawab pertanyaanmu dan telah mencukupi, maka berhentilah dari pembicaraan. Dan jika ia belum mencukupi dalam menjawab pertanyaanmu atau menjawab pertanyaanmu sedang engkau belum faham, maka katakanlah : “Saya belum faham”, dan mintalah tambahan penjelasan darinya. Dan jika ia tidak menambah jawabannya dan diam, atau mengulangi penjelasannya seperti yang pertama kali dan tidak ada tambahan, maka tahanlah dirimu dari bertanya kepadanya, kalau tidak demikian maka engkau akan memperoleh (akibat) yang jelek dan permusuhan, dan tidaklah engkau mendapat apa yang engkau harapkan berupa tambahan penjelasan.&lt;br /&gt;Ketiga :Mungkin engkau seorang yang duduk dalam majelis ilmu dan memaparkan seperti orang alim, dan keadaan yang demikian itu adalah engkau membantah jawabannya dengan jawaban yang jelas, maka jika tidak demikian keadaannya ada padamu, dan tidak ada padamu kecuali pengulangan perkataanmu, atau penentangan yang mana musuhmu tidak melihatnya sebagai penentangan, maka tahanlah dirimu, karena engkau tidak akan memperoleh dalam pengulangan itu tambahan dan tidak juga belajar.&lt;br /&gt;Dan jika datang kepadamu suatu perkataan, atau engkau mengkritik suatu perkataaan dalam suatu kitab, maka hati-hatilah engkau dari menghadapinya dengan sikap marah yang timbul dari sikap berlebih-lebihan, sebelum engkau yakin tentang kebatilannya dengan bukti yang pasti, dan juga janganlah engkau menghadapinya sebagaimana menghadapnya orang yang membenarkan, berbuat baik kepadanya, sebelum engkau mengetahui kebenarannya, sehingga akhirnya berarti kamu berbuat dhalim terhadap dirimu dalam kedua bentuk, atau engkau akan jauh dari mendapatkan kebenaran, akan tetapi hadapilah ia sebagaimana orang yang bersih hati dari permusuhan dengannya, dan condong kepadanya, karena engkau jika melakukan hal ini akan mendapatkan pahala yang banyak, dan pujian yang banyak, dan keutamaan yang merata. Penulis dalam tulisan ini menasihati orang yang menghadiri majelis ilmu agar menfokuskan tujuannya untuk memperoleh pengetahuanh yang baru dan ganjaran pahala dari Allah, bukan mencari kesalahan yang disengaja untuk dibesar-besarkan atau kesalahan yang jarang (terjadi dari orang alim itu) untuk disebarluaskan. Karena sikap yang terakhir disebut ini adalah perangai orang yang tercela yang tidak akan memperoleh keuntungan dalam ilmu.&lt;br /&gt;PenjelasanDalam menghadiri majelis ilmu manusia terbagi menjadi tiga macam :&lt;br /&gt;1. Seorang yang jahil (bodoh) yang hanya mendengar dengan seksama.&lt;br /&gt;2. Seorang penuntut ilmu yang bertanya tentang sesuatu yang belum diketahuinya dan dia merasa cukup dengan jawaban yang memuaskan, jika kurang puas ia meminta tambahan jawaban dengan tidak mengulangi (permintaan jawaban tersebut), karena sikap tersebut dapat menimbulkan permusuhan diantara para penuntut ilmu.&lt;br /&gt;3. Seorang alim yang senantiasa mengulangi dan membandingkan (suatu masalah) dengan dalil dan bukti, jika tidak memiliki dalil maka ia tidak perlu untuk membandingkannya, lalu ia menasihati para pendengar dan pembaca agar bersikap netral, dia tidak membenarkan setiap permasalahan dan tidak pula ditolaknya sebelum ia memeriksanya dengan akal yang sehat, dengan demikian akan terwujud ilmu itu dan akan besar pahala (yang diperoleh)&lt;br /&gt;Maraji':Diterjemahkan dari kitab silsilah ta'lim.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112031859780385126?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112031859780385126/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112031859780385126' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031859780385126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031859780385126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/dan-bentuk-pertanyaan-orang-yang.html' title='Dan bentuk pertanyaan orang yang belajar adalah bertanya tentang apa yang tidak ia ketahui dan bukannya bertanya tentang apa yang ia ketahui...'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112031848168301857</id><published>2005-07-02T22:33:00.000+07:00</published><updated>2005-07-02T22:34:41.686+07:00</updated><title type='text'>Dimana Allah</title><content type='html'>Syaikh Abdul Malik Ramadhani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani bertanya : "Apakah setiap orang yang bersamamu (yang mendukung partaimu) mengetahui bahwa Allah bersemayam di atas Arsy?&lt;br /&gt;Dimana Allah?&lt;br /&gt;Suatu ketika syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani pernah bertemu dengan salah seorang pemimpin partai Islam (dari Aljazair), Ali bin Hajj. Syaikh mengetahui sangat detail tentang kejadian yang terjadi pada mereka, dan telah sampai berita kepada beliau bahwa partai mereka mendapat dukungan jutaan pendukung. Diantara pertanyaan yang dilontarkan syaikh kepadanya yaitu yang saya nukil secara ringkas disini :&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani bertanya : "Apakah setiap orang yang bersamamu (yang mendukung partaimu) mengetahui bahwa Allah bersemayam di atas Arsy?&lt;br /&gt;Setelah terjadi dialog, dimana Ali bin Hajj berupaya untuk lari dari pertanyaan syaikh al-Albani, dan syaikh-pun berupaya untuk menutup jalan keluar dari pertanyaan diatas, dia menjawab pertanyaan beliau dengan mengatakan : "Kami berharap demikian."Syaikh berkata kepadanya : "Tinggalkan jawabanmu yang bersifat politis ini!"Lalu, diapun menjawab dengan tegas bahwasanya mereka tidak mengetahui hal itu. Maka, syaikh berkata : "Cukuplah bagiku jawabanmu ini!"&lt;br /&gt;Prinsip Tasfiyyah (pemurnian) dan Tarbiyyah (mendidik) mengharuskan pertanyaan diatas yang merupakan barometer yang paling tepat. Dengannya akan diketahui hakekat berbagai dakwah/jama'ah-jama'ah pada zaman ini yang menyerukan jihad. Sebab, orang yang tidak mampu memurnikan akidah para pendukung dan pecintanya, tentu ketidak mampuannya akan lebih nampak pada pemurnian (buah dari aqidah tersebut), baik dalam akhlak, perilaku maupun dalam berbagai amal perbuatan mereka. Padahal diantara mereka (pendukungnya) ada orang yang membenci dan memeranginya, maka bagaimana mungkin ia dapat membina mereka sesudah itu? Sedangkan Allah berfirman :&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (ar-Ra'd : 11)&lt;br /&gt;Selanjutnya, jihad itu sendiri tidak akan terwujud kecuali dengan sebuah umat yang hati mereka bersatu. Karena bersatunya hati akan sangat menunjang bagi perolehan kemenangan, sebagaimana firman Allah :&lt;br /&gt;"Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang mu'min, dan yang mempersatukan hati mereka." (al-Anfaal : 62-63)&lt;br /&gt;Sedangkah hati-hati itu, jika tidak disatukan diatas aqidah salafus shalih, niscaya mereka akan selalu berada dalam perselisihan yang tidak akan mungkin dapat disatukan dengan persatuan mereka melalui kotak-kotak pemilihan umum.&lt;br /&gt;Allah berfirman dengan mengarahkan firman-Nya kepada para Sahabat Nabi, semoga ridha Allah atas mereka :&lt;br /&gt;"Maka jika mereka beriman kepada apa yang telah kamu beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk ; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan denganmu." (Al-Baqarah : 137)&lt;br /&gt;Bagaimanapun yang telah diupayakan oleh para "Buih politik" itu, berupa pengumpulan (masa pendukung), namun sesungguhnya permulaan aqidah mereka mengarah kepada suatu sikap "Tamyi" (sikap menerima siapa saja yang mendukung mereka tanpa memperhatikan aqidah yang dianutnya) dan akan berakhir dengan perpecahan dan saling membid'ahkan.&lt;br /&gt;Hal itu disebabkan karena pertemuan/persatuan yang bersifat jasmani tidak akan terwujud, kecuali hanya bersifat sementara bilamana ikatan hati bercerai-berai. Dan saya tidak menjumpai suatu sifat (gambaran) yang lebih tepat dan benar untuk menggambarkan kondisi mereka, daripada apa yang telah difirmankan Allah perihal orang-orang Yahudi :&lt;br /&gt;"Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu mengira mereka itu bersatu, padahal hati-hati mereka terpecah-belah." (al-Hasyr : 14)&lt;br /&gt;Intinya, bahwa Allah telah menjadikan kekuasan yang baik bagi hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya saja. Tanpa menyekutukan-Nya, Allah berfirman :&lt;br /&gt;"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. (an-Nur : 55)&lt;br /&gt;Bagian terdepan ayat ini tidak boleh ditolak dengan memberikan perumpamaan-perumpamaan sejarah untuk membatalkannya, karena seorang muslim adalah orang yang senantiasa berhenti pada nash (ayat al-Qur'an dan hadits Rasulullah), lagi pula Allah telah berfirman :&lt;br /&gt;"Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (an-Nahl : 74)&lt;br /&gt;Adapun pembatasan syaikh al-Albani akan pertanyaannya pada masalah istiwa (bersemayamnya Allah diatas singgasana-Nya) disebabkan karena masalah istiwa merupakan persimpangan jalan yang memisahkan antara ahlussunnah dan para pengikut hawa nafsu. Lagi pula ia merupakan masalah aqidah yang mudah lagi gampang diketahui oleh masyarakat yang hidup bersama Nabi, yang mana mereka telah menaklukkan dunia ini dan memimpin umat-umat yang beraneka ragam. (Aqidah ini telah diketahui oleh mereka). Bahkan oleh seorang wanita penggembala kambing sekalipun.&lt;br /&gt;Ujian itu dilakukan oleh syaikh al-Albani dengan menanyakan masalah ini kepada pemimpin partai politik tersebut, yang beranggapan bahwa partainya telah sempurna agamanya dan berada di atas garis kejahilan (orang-orang yang hidup) di zamannya. Ujian ini merupakan jalan atau cara yang ditempuh oleh para salafus shalih, meskipun dibenci oleh setiap khalaf (orang yang datang sesudah mereka) yang tidak menempuh jalan dan cara mereka.&lt;br /&gt;Imam Muslim dan lainnya telah meriwayatkan dari Muawiyyah bin al-Hakam as-Sulami ia berkata :&lt;br /&gt;"Aku memiliki sekawanan kambing yang berada diantara gunung Uhud dan Jawwaniyah, disana ada seorang budak wanita. Suatu hari aku memeriksa kambing-kambing itu, tiba-tiba aku dapati bahwa seekor serigala telah membawa (memangsa) salah satu diantara kambing-kambing itu, sementara aku seorang manusia biasa, aku menyesalinya, lalu aku menampar wanita itu. Kemudian kudatangi Nabi r dan kuceritakan kejadian tersebut kepadanya, beliaupun membesarkan peristiwa itu atasku, maka kukatakan (kepadanya) : 'Wahai Rasulullah, tidakkah (lebih baik) aku memerdekakannya?' Beliau berkata : 'Panggillah ia!' Lalu aku memanggilnya, maka beliau berkata kepadanya : 'Dimana Allah?' Wanita itu menjawab : 'Diatas'. Beliau bertanya lagi : 'Siapakah aku?' Ia menjawab : 'Engkau adalah utusan Allah!' Beliau berkata : 'Bebaskanlah (merdekakanlah dia)! karena sesungguhnya dia adalah seorang wanita yang beriman'." (Ahmad V/447, Muslim No. 537)&lt;br /&gt;Maka, perhatikanlah dengan seksama masyarakat tersebut (semoga Allah merahmati anda), yang mana Rasulullah berjihad bersama mereka, aqidah mereka sempurna (merata) hingga pada para penggembala kambing, yang mana perjumpaan (pergaulan) mereka dengan Rasulullah hanya sedikit, seperti wanita penggembala kambing ini. Dan cobalah anda perhatikan dengan seksama realita masyarkat Islam di zaman ini memanjat kursi-kursi kekuasaan, -jika anda memperhatikan dengan seksama- pasti akan anda dapatkan perbedaan yang sangat jauh antara jihad (perjuangan) mereka dengan perjuangan masyarakat muslimin yang pertama.&lt;br /&gt;Maka, mampukah kelompok-kelompok jihad itu menyatukan para pengikut (mereka) diatas aqidah “ainallah” (dimana Allah)?&lt;br /&gt;Ataukah pertanyaan ini sudah menjadi sesuatu yang ditertawakan dan jarang dipertanyakan oleh kelompok-kelompok itu di zaman yang telah dipengaruhi kemajuan ini? Ataukah pertanyaan ini telah menjadi sesuatu yang diperolok-olokan oleh para pengasuh jama'ah-jama'ah itu? Ataukah mereka telah memahami pentingnya berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, meskipun mereka menyia-nyiakan Allah ?&lt;br /&gt;Maka, kapankah Allah akan mengizinkan untuk melepaskan, membebaskan dan memerdekakan mereka dari orang-orang yang menghinakan mereka sebagaimana telah dibebaskannya budak wanita itu setelah ia mengenal Allah ?&lt;br /&gt;"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (Yusuf : 21)&lt;br /&gt;Hakikat pertanyaan ini (dimana Allah) adalah upaya untuk menampakkan hakikat/jati diri dakwah-dakwah itu serta memperjelas, sejauh mana keikhlasan niat-niat (mereka). Sebab, dalam perhatian yang dicurahkan pada permasalahan hukum mengandung perhatian terhadap syariat dan dalam perhatian yang dicurahkan kepada masalah istiwa' (bersemayamnya Allah diatas 'Arsy/singgasana-Nya), mengandung perhatian terhadap hak Allah. Namun, diantara kedua perhatian diatas terdapat perbedaan, yaitu bahwasannya pada perhatian yang pertama (terhadap hukum) seorang hamba memperoleh bagian untuk dirinya berupa apa yang sering diucapkan diatas lisan, seperti pengembalian segala sesuatu yang diambil secara zhalim (kepada pemiliknya), pemenuhan segala hak-hak (bagi mereka yang berhak menerimanya) dan kehidupan yang senantiasa tercukupi yang benar-benar telah dijanjikan Allah dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi" (al-A'raaf : 96)&lt;br /&gt;Artinya, bagian (hak) seorang hamba bercampur (berhubungan erat) dengan hak Allah. Adapun perhatian terhadap "Sifat istiwa' Allah diatas singgasana-Nya" merupakan perhatian yang murni terhadap hak Allah semata. Seorang yang mengajak menusia kepada penetapan dan iman kepada sifat ini tidak mendapat bagian untuk kepentingan pribadinya sendiri sedikitpun.&lt;br /&gt;Maka, perhatikanlah secara seksama perbedaan ini, pasti anda akan mengetahui kemuliaan sebuah keikhlasan. Sebab, dengungan seputar permasalahan "Hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah " yang disertai dengan sikap menganggap enteng terhadap permasalahan sifat-sifat Allah yang murni atau mengakhirkannya atau menjadikannya sebagai suatu masalah yang berada pada urutan terakhir, semua itu merupakan bukti terbesar yang menunjukkan bahwa pada urutan tersebut terdapat suatu cacat. Padahal sifat-sifat Allah adalah sesuatu yang paling mulia yang diturunkan-Nya, karena kemuliaan suatu ilmu tergantung pada kemuliaan yang dipelajari dalam ilmu tersebut. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas.&lt;br /&gt;Semua ini semakin memberi penekanan yang kuat kepada kita akan pentingnya merujuk (kembali) kepada dakwah / ajakan para Nabi alaihimussalam yang telah menyatakan kepada umat-umat mereka :&lt;br /&gt;"Beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tak ada ilah (yang sebenarnya) bagimu selain Dia." (al-A'raaf : 59)&lt;br /&gt;Maka, dahulukanlah perhatian terhadap kesyirikan yang terjadi di kuburan-kuburan atas kesyirikan yang terjadi di istana-istana, jika ungkapan ini pantas untuk diucapkan, oleh sebab itulah, maka masalah imamah (kekhalifahan/kepemimpinan) bukan merupakan bagian dari rukun-rukun iman, renungkanlah !!!&lt;br /&gt;Maraji':Diterjemahkan dari kitab Sittu Durror karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112031848168301857?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112031848168301857/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112031848168301857' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031848168301857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031848168301857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/dimana-allah.html' title='Dimana Allah'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-112031834138795285</id><published>2005-07-02T22:02:00.000+07:00</published><updated>2005-07-02T22:32:21.396+07:00</updated><title type='text'>6 Tahun di Rumah Syaikh Albani</title><content type='html'>Abu Abdurrahman Muhammad Al Khatib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini sabtu 2 oktober 1999 ribuan bahkan jutaan orang menangis, mereka menangis karena mendengar sebuah berita duka, yang merupakan musibah besar dengan wafatnya seorang Imam besar.&lt;br /&gt;Berita duka ini sampai kepadaku seusai shalat ashar hari ini dari istri beliau rahimahullah. Dengan serta merta aku menuju rumah sakit tempat beliau dirawat. Disana aku jumpai istri dan putra beliau Abdul Lathif yang menemani beliau selama masa perawatan. Setelah masuk kamar tiba-tiba kusaksikan dihadapanku jasad Syaikh rahimahullah yang telah ditutup dengan selembar kain, dibaringkan diatas sebuah tempat tidur. Air mataku mengalir tidak mampu menahan tangisan atas kepergiannya. Kubuka wajahnya yang bercahaya lalu kucium keningnya. Kami mengangkat jasadnya untuk dimuat disebuah mobil milik salah seorang teman, lalu membawanya ke rumah duka. Ikut bersama kami di mobil jenazah, putra beliau Abdul Lathif. Ia sangat sedih dan banyak mengucurkan air mata. Kami menghibur dan menasihatinya untuk bersabar. Ia hanya memandang kami sedang kedua matanya meneteskan air mata yang banyak. Abdul Lathif menceritakan kondisi ayahnya sehari sebelum wafat, ia berkata : “Hingga kemarin dalam kondisi sakitnya yang semakin parah ayah masih sempat berkata :”Berikan kitab shahih sunan Abi Dawud!!”&lt;br /&gt;Aku katakan : “Subhanallah (Maha suci Allah), semoga Allah swt membalas kebaikanmu ya Syaikh. Sungguh engkau telah hidup sepanjang usiamu, siang dan malam, engkau membela Sunnah Rasul saw hingga akhir hidupmu. Dalam kondisi tidak mampu menegakkan punggungmu, aku melihatmu menyuruh putra atau cucu-cucumu menulis, tanpa mengenal sakit dan tidak pula mengeluhkan kesakitanmu. Semua itu tiada lain kecuali anugerah dan keutamaan dari Allah swt yang diberikan kepadamu, maka Dia-lah yang maha pemberi karunia dan keutamaan”.&lt;br /&gt;Sesampainya kami di rumah Syaikh, di sana kami jumpai beberapa teman yang telah mendahului kami dan mulailah para ikhwah berdatangan dari berbagai pelosok kota Amman , tempat Syaikh berdomisili selama lebih dari delapan belas tahun.&lt;br /&gt;Kami bergegas mempersiapkan jenazah Syaikh rahimahullah, memandikan dan mengafaninya. Begitu selesai menyiapkan, kami mengeluarkan dan meletakkannya di sebuah ruangan besar. Seketika rumah Syaikh rahimahullah telah penuh sesak oleh pelayat yang terdiri dari para pecinta dan murid-muridnya. Syaikh Abu Malik mengisyaratkan kepada kami agar wajah Syaikh tidak ditutup sehingga para pelayat melepaskan kepergiannya.&lt;br /&gt;Mereka pun segera mencium kening Syaikh sebagai tanda perpisahan dengannya . lalu jenazah Syaikh disiapkan untuk dishalatkan. Para ikhwan yang bermusyawarah tentang tempat pemakamannya, aku katakan kepada mereka bahwa Syaikh rahimahullah berulang-ulang menyebutkan kehendaknya di depanku, beliau ingin dikuburkan dipemakaman yang terletak pada sisi jalan yang menuju ke rumahnya agar tetap mendapat ucapan “salam” dari saudara-saudara dan pecintanya. Di antara wasiat beliau sebagaimana yang dikatakan oleh putranya Abdul Lathif, agar jenazahnya dibawa dari rumahnya ketempat pemakaman dengan cara dipikul, setelah para pelayat melepaskan kepergian beliau, kami segera keluar dari rumah untuk menshalatkannya.&lt;br /&gt;Demikian sang Imam dan tokoh ini kembali kepada Rabbnya Tabaraka wata`ala dengan meninggalkan warisan ilmu yang bermanfaat, tergores di sela-sela ratusan karya tulisnya yang kemudian Allah mentakdirkannya diterima di seantero dunia bahkan sebagiannya telah diterjemahkan ke beragam bahasa di dunia ini.&lt;br /&gt;Demikian pula beliau telah meninggalkan sejumlah muridnya yang berjalan diatas manhaj salaf yang dianutnya selama hidup beliau. Semoga dengan pertolongan Allah swt merekapun akan berjalan diatasnya hingga datangnya ajal.&lt;br /&gt;Aku mengenal beliau rahimahullah semenjak 23 tahun yang lalu. Usiaku pada saat itu menginjak empat belas tahun.&lt;br /&gt;Sungguh Allah swt telah menganugerahi aku nikmat dan karunia-Nya sejak aku mengenal manhaj salaf dan mencintainya. Tidak pernah kutinggalkan setiap jalan yang menunjukku kepadanya, kecuali kutempuhnya. Aku berkenalan dengan murid-murid syaikh, duduk dan berteman dengan mereka. Aku mulai membeli kitab-kitab syaikh dan kitab yang pertama kubeli adalah “shifat shalat Nabi saw“. Aku selalu menanti kedatangan Syaikh dari negeri Syam sebagaimana biasa untuk menyampaikan kajian-kajian.&lt;br /&gt;Pada tahun 1980, Syaikh berhijrah dari negeri Siria ke Amman (Yordania). Yang kemudian menjadi tempat domisilinya. Beliau memilih tinggal di perkampungan yang sederhana. Ia pernah ditawari sebidang tanah oleh seorang kaya yang terletak di sekitar kota Amman , namun tetap ditolaknya dan bersikeras untuk tetap tinggal di tengah–tengah kaum muslimin yang berekonomi lemah. Kota Amman pun gembira atas kedatangan Syaikh sebagaimana para pecintanya. Selama enam tahun telah kulalui bersama Syaikh di rumahnya, setiap hari selalu kudapati ilmu sebagaimana aku pun telah belajar darinya tentang akhlaq. Maka apakah yang hendak kuceritakan ?&lt;br /&gt;Syaikh rahimahullah adalah seorang yang penuh kasih sayang dan belas kasihan. Sekali waktu pernah beliau katakan padaku: “Hai Muhammad, engkau tidak memiliki kendaraan (mobil), sementara putra-putrimu perlu beristirahat (bertamasya), maka siapkan hari apa saja yang kamu inginkan, kita akan pergi bersama agar kamu bersenang-senang bersama mereka. Dua hari kemudian, kami siapkan apa yang diperlukan, lalu keluar bersama syaikh dan istrinya ke sebuah tempat tamasya di luar kota Amman . Dan beliau membawa makanan serta beraneka buah-buahan sehingga anak-anakku sangat gembira.&lt;br /&gt;Suatu ketika aku pernah bekerja dan memperbaki pada bagian atap rumah Syaikh. Aku mengangkat dan memindahkan sebuah kayu besar, hingga aku merasa keberatan dan hampir terjatuh dari atap rumah, kalau saja bukan karena karunia Allah swt padaku.&lt;br /&gt;Mendengar peristiwa itu, Syaikh segera memuji Allah swt atas keselamatanku dan langsung menyungkur bersujud kepada Allah swt mensyukuri-Nya, sedang kedua matanya mengucurkan air mata, menangisi kejadian ini. Lalu dikeluarkan dari sakunya sebanyak seratus dinar dan diberikannya kepadaku.&lt;br /&gt;Syaikh رحمه الله adalah seorang yang berperangai wara` yaitu selalu menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat dan syubhat. Pernah suatu ketika beliau menjadi penengah bagi seorang yang ingin bekerja di salah satu perusahaan persero. Selang beberapa hari, orang tersebut mengetuk pintu rumah beliau sambil membawa sejumlah buah zaitun dan menuturkan kepadaku : “Ini adalah hadiah untuk Syaikh“, pada waktu itu Syaikh sedang tidur.&lt;br /&gt;Setelah bangun dari tidurnya kusampaikan amanat orang itu. Dengan serta merta Syaikh bertutur: “Tidak halal bagi kita untuk memakannya, karena telah disabdakan oleh Rasulullah saw” (yang artinya) :&lt;br /&gt;“Barang siapa yang menolong seseorang dengan suatu pertolongan, lalu diberikan kepadanya hadiah dan diterimanya, berarti dia telah mendatangi salah satu pintu riba”.&lt;br /&gt;Maka kami segera membagi-bagikannya kepada para fuqara`.&lt;br /&gt;Kedermawanan Syaikh Al-Albani rahimahullah&lt;br /&gt;Sering kali aku anjurkan Syaikh untuk membangun masjid, atau memberi kepada seorang fakir atau para janda atau seorang peminta-minta, dan tidak pernah beliau menolak. Banyak cerita dalam masalah ini di antaranya : “Pernah datang kepada beliau seorang penderita sakit yang pengobatannya dengan menggunakan suntikan. Ia harus disuntik sebanyak 15 kali dengan biaya setiap suntikan 20 dinar. Syaikh menyuruh aku untuk meneliti kebenaran dakwaannya. Setelah mengetahui kebenarannya, beliau memberi kepadaku biaya yang dibutuhkan lalu kubelikan suntikan tersebut”.&lt;br /&gt;Ketika hendak membangun rumahku aku memerlukan dana, maka kudatangi beberapa rumah dan mengetuk pintu-pintu mereka (untuk meminta pinjaman, pent) namun hasilnya nihil. Aku teringat seorang yang cukup mampu, dia dikenal oleh Syaikh. Maka kukatakan kepada istrinya: “ Tolong sampaikan kepada Syaikh jika beliau berkenan menjadi perantaraku agar orang itu memberiku pinjaman. Keesokan harinya ketika aku sedang duduk dikantorku. Syaikh berkata : “Ya Muhammad! engkau menghendaki agar aku menjadi penengahmu terhadap si fulan agar dia memberimu pinjaman?”. Aku bertukas : “benar”. Lalu kata Syaikh rahimahullah : “Aku lebih utama terhadapmu dari pada orang itu, aku berikan kepadamu seberapa yang kamu perlukan”. Aku pun menangis lalu kukatakan padanya: “Ya Syaikh kami, semoga Allah swt membalas kebaikanmu”. Demi Allah swt tidak pernah terdetik dalam hatiku bahwa apa yang kucari akan kudapati dari Syaikh karena aku tidak pernah melihat apa yang ada padanya. Ketika dana pinjaman itu diberikan padaku beliau berkata: “Yang seribu dinar ini sebagai hadiah untukmu, tidak terhitung sebagai pinjaman. Aku pun menangis untuk kedua kalinya, semoga Allah swt membalasnya rahimahullah.&lt;br /&gt;Kisah yang lain:&lt;br /&gt;Belum lama ini ketika beliau berada di rumah sakit, datang seorang wanita mengadu padanya tentang terjeratnya dalam cengkraman bunga bank. Karena ia mengambil pinjaman dari salah satu bank sebanyak 9000 dinar, dan bunganya telah melipatgandakan hutang tersebut. Ia datang kepada Syaikh, untuk meminta bantuan agar terlepas darinya. Sebagaimana kebiasaannya, Syaikh meminta kepadaku untuk meneliti kasus ini. Setelah diteliti dengan seksama kebenarannya, beliau menyetujui untuk meminjamkannya dana sebesar 7000 dinar. Wanita itu datang bersama putra-putranya. Lalu Syaikh berkata : “Yang seribu dinar sebagai hadiah dan yang selebihnya sebagai pinjaman yang dibutuhkan”. Alangkah girangnya wanita itu dan anak-anaknya. Mereka mendo`akan Syaikh rahimahullah, demikian pula aku ikut mendo`akannya “semoga Allah swt membalas kebaikanmu ya Syaikh”.&lt;br /&gt;Kemudian Syaikh memandang kami seraya berkata:&lt;br /&gt;"Yaa ikwan wallaahi inni atamanna an ashbaha milyuuniiran, hatta ukhrijaaluluufa min amstali hadzihi almar'a min kuyuudi arriba"&lt;br /&gt;“Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, aku berangan-angan menjadi seorang “milyuner” hingga dapat melepaskan ribuan muslim yang senasib dengan wanita ini dari jeratan riba” .&lt;br /&gt;Kelembutan Dan Belas Kasihan Syaikh rahimahullah&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika istriku hampir melahirkan. Sementara Syaikh selalu bertanya tentangnya. Sehari sebelum istriku melahirkan bayinya, tatkala aku akan meninggalkan perpustakaan, beliau berkata kepadaku: ”Silahkan ambil mobil ummul Fadhl [1] karena mungkin kamu memerlukannya di tengah malam. Mobil itu kubawa selama dua hari dan ternyata benar, saat melahirkan tiba ditengah malam. Aku keluar dari rumahku, aku tidak tahu hendak pergi kemana?? setelah berupaya mencari seorang bidan dan tidak kutemukan, terfikir olehku bahwa istri Syaikh rahimahullah memiliki pengalaman dalam hal kelahiran. Aku segera menuju ke rumah beliau, sedang aku dirundung keragu-raguan karena khawatir akan mengganggu dan mengejutkannya di saat-saat seperti ini. Aku mengetuk pintu rumahnya, beliaupun menjawabku, lalu kusampaikan kepadanya permohonan maafku yang sebesar-besarnya dan memberitahukan keperluanku. Beliau menjawabku sambil bercanda : “Mengapa kamu tidak lakukan seperti Syaikhmu? sungguh aku telah membantu sendiri istriku ketika melahirkan”. Lalu beliau melanjukkan dengan mengucapkan: “sebentar !!! aku akan membangunkan Ummu Fadhl, dia akan pergi bersamaku”. Lalu kami pun diberi oleh Allah swt seorang putra bernama Abdullah.&lt;br /&gt;Mobil Syikh Al-Albani&lt;br /&gt;Adapun mobil beliau ibarat sekor unta yang selalu mengantar teman-teman kami. Beliau mengangkut mereka dan membawanya dari suatu tempat ke tempat yang lain. Beliau katakan padaku : “Ya Muhammad, ayahku rahimahullah pernah berkata :&lt;br /&gt;likulli syaiin zakaatun, wazakaatus sayaarati : hamlunnaasi biha&lt;br /&gt;“setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat mobil adalah mengangkut orang”&lt;br /&gt;Mutiara Hikmah Syaikh Al Albani rahimahullah&lt;br /&gt;Itmaamul ma'ruf khairun minal bad i bihi&lt;br /&gt;“Menyempurnakan suatu yang ma`ruf lebih baik dari pada memulainya”.&lt;br /&gt;Ini adalah mutiara hikmah yang kami ambil dari beliau, dan alangkah indahnya hikmah ini.&lt;br /&gt;Syaikh Al-Albani seorang yang selalu memenuhi kebutuhan saudara-saudaranya, sehingga seorang merasa cukup dengan sesuatu dari bantuan beliau. Syaikh merasa senang dan selalu bertekad untuk menyempurnakan bantuannya. Namun orang yang dibantu segera berkata : “Menyempurnakan sesuatu yang ma’ruf lebih baik dari memulainya”.&lt;br /&gt;Banyak ilmu yang kami dapat dari mutiara hikmah ini dalam bermu`amalah dengan saudara-saudara kami.&lt;br /&gt;Inilah hal penting yang dapat kusajikan untuk para pembaca dari sela-sela kehidupanku bersama beliau selam 6 tahun. Bisa jadi musibah kematian Syaikh membuatku lupa akan banyak hal.&lt;br /&gt;Saya yakin bahwasanya banyak peristiwa dan sikap-sikap Syaikh yang wajib kucatat sebagai sebuah catatan bersejarah untuk memenuhi hak-hak Syaikh rahimahullah .&lt;br /&gt;Semoga Allah swt merahmatimu wahai Syaikh kami, dengan rahmat yang luas.&lt;br /&gt;Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali”&lt;br /&gt;[1] Ummul fadhl adalah istri Al-Albani yang keempat.&lt;br /&gt;Maraji':Majalah al-Ashalah 23 hal: 55-58&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-112031834138795285?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/112031834138795285/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=112031834138795285' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031834138795285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/112031834138795285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/07/6-tahun-di-rumah-syaikh-albani.html' title='6 Tahun di Rumah Syaikh Albani'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-111863238332723586</id><published>2005-06-13T10:02:00.001+07:00</published><updated>2005-06-13T10:13:03.330+07:00</updated><title type='text'>Etika Nasehat</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="BACKGROUND-COLOR: #c8e0d8"&gt;1.       Hendaknya ikhlas dalam memberikan nasihat, tidak mengharap apapun dibalik nasihatmu selain keridhaan Allah dan terlepas dari kewajiban. Dan hendaknya nasihatmu bukan untuk riya' atau mendapat perhatian orang atau popularitas atau menjatuhkan orang yang diberi nasihat.&lt;br /&gt;2.       Hendaknya nasihat dengan cara yang baik dan tutur kata yang lembut dan mudah hingga dapat berpengaruh kepada orang yang dinasehati dan mau menerimanya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;Artinya "serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan debatlah ia dengan cara yang baik. (An Nahl:125)&lt;br /&gt;3.       Hendaknya orang yang dinasehati itu disaat sendirian, karena yang demikian itu lebih mudah diterima. Siapa saja yang menasihati saudaranya ditengah-tengah orang banyak maka berarti ia telah telah mencemarkannya, dan barangsiapa yang menasihatinya secara sembunyi maka ia telah menghiasinya.&lt;br /&gt;Imam Syafi'i -Rahimahullah berkata: Berilah aku nasihat secara berduaan, dan jauhakan aku dari nasihatmu di tengah orang banyak; karena nasihat di tengah orang banyak itu mengandung makana celaan yang aku tidak suka mendengarnya.&lt;br /&gt;4.       Hendaknya pemberi nasihat mengerti betul dengan apa yang ia nasihatkan dan hendaknya ia berhati-hati dalam menukil pembicaraan agar tidak dipungkiri, dan hendaklah ia memerintah berdasarkan ilmu; karena yang demikian itu lebih mudah untuk diterima nasihatmu.&lt;br /&gt;5.       Hendaknya orang memberi nasihat memperhatikan kondisi orang yang dinasihatinya. maka hendaknya tidak menasihatinya disaat ia sedang kalut, atau saat ia sedang bersama rekan-rekannya atau kerabatnya. dan hendaklah pemberi nasihat mengetahui perasaan, kedudukan, pekerjaan, dan problem yang dihadapi orang yang dinasihatinya itu.&lt;br /&gt;6.       Hendaknya pemberi nasihat menjadi teladan bagi orang yang akan dinasihati, agar jangan tergolong orang yang bisa menyuruh orang lain berbuat kebaikan sedangkan ia lupa terhadap diri sendiri.&lt;br /&gt;Allah berfirman tentang Nabi Syu'aib 'Alaihi Salam: "....Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. ...(Hud: 88)&lt;br /&gt;7.       Hendaknya pemberi nasihat sabar terhadap kemungkinan yang menimpanya.Luqman berkata kepada anaknya:"Wahai anakku, , dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Luqman : 17)&lt;br /&gt;Luqman menyuruh anaknya untuk bersabar terhadap kemungkinan yang terjadi karena ia memerintah orang lain mengerjakan kebaikan dan mencegah kemungkaran&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-111863238332723586?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/111863238332723586/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=111863238332723586' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/111863238332723586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/111863238332723586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/06/etika-nasehat.html' title='Etika Nasehat'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-111863199819941982</id><published>2005-06-13T10:02:00.000+07:00</published><updated>2005-06-13T10:06:38.206+07:00</updated><title type='text'>Akibat Berbuat Sombong</title><content type='html'>Written by Ummu Raihanah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini merupakan pengalaman pribadi dari seorang ukhti muslimah yang merupakan teman ana di Sydney. Beliau seorang muslimah kebangsaan Australia dalam mempelajari islam jangan ditanya semangatnya.Sampai beliau berusaha untuk tinggal di Saudi bersama dengan suaminya yang kebangsaan Mesir untuk menimba ilmu disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua tahun beliau kembali ke Australia dan berdakwah kepada para muslimah disini.Khususnya yang berbahasa Inggris .Inilah kisah beliau yang ana dengar sendiri dari beliau semoga ukhti muslimah semua dapat mengambil manfaatnya. Karena cerita ini adalah ana dengar dari beliau tanpa mengetahui kronologis detail kejadiannya yang pasti maka ana hanya berusaha menyampaikan secara garis besarnya saja,..mungkin ukhti-ukhti yang tinggal di Timur Tengah pernah mendengar atau bahkan menyaksikan kisah nyata ini.Dimana ketika kejadian itu terjadi beliau ada disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang kita ketahui bahwa perintah untuk mengenakan jilbab bagi wanita muslimah di Timur Tengah sangat ketat sekali.Jarang kita lihat para wanitanya membuka kerudungnya disana walaupun pada kenyataannya ketika mereka bepergian keluar negeri (wisata),...mereka membuka jilbabnya(walaupun tidak seluruhnya hanya sebagian dari mereka).Dimana mereka mengenakan jilbab hanya karena patuh pada perintah negara bukan kepada Allah subhanahu wat’aala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman ana ini,..ketika berada di sana sangat senang sekali karena dimana-mana yang beliau lihat adalah para wanita yang berhijab dan bercadar sehingga beliau tidak merasa sendirian. Pada waktu itu beliau bersama dengan suaminya pergi berbelanja dalam suatu mall(shopping centre).Begitu ramai …maklum namanya juga tempat belanja..tapi ada satu yang mengganjal hatinya.Yaitu ketika beliau melihat seorang wanita yang berjalan didepannya tanpa mengenakan jilbab.Ya,..wanita tersebut tidak memakai jilbab. Terlihat begitu bahagianya tanpa jilbab.Dengan pakaian yang ketat dan mengundang perhatian kaum laki-laki.Dia tidak perduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena merasa risih,..datanglah seorang ikhwan/laki-laki kepadanya dan menyarankan agar ia menutup kepalanya dengan kerudung atau jilbab. Laki-laki itu berkata:”Wahai ukhti,..takutlah kepada Allah….janganlah engkau membuat Allah marah kenakanlah jilbab!!!wanita itu menjawab:”Untuk apa?? Apakah Dia bisa marah kepadaku?? Bila Dia marah hendaklah Dia menghubungi aku lewat handphoneku ini!!” kurang lebih demikian jawaban si wanita tersebut..meremehkan Allah subhanahu wata’ala yang begitu banyak melimpahkan nikmat kepadanya. Teman ana ini sangat terkejut mendengar jawaban si wanita tadi. Beliau merasa takut sekali apabila siwanita ini nantinya akan celaka akibat ucapan dan kesombongannya itu. Baru saja si wanita tadi melangkah satu atau dua langkah kaki dengan angkuhnya tiba-tiba ia terpeleset.Ketika terpeleset itulah dia jatuh terjerembab dan dalam sekejap posisinya sudah seperti orang yang akan sakarat (mendekati kematian) disusul dengan keluarnya kotoran dari duburnya yang berhamburan mengeluarkan bau yang tidak sedap.Orang-orang disekitar itupun panik.Tak lama kemudian diapun meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman ana ini sangat shock dengan kejadian tersebut,..karena seakan-akan seperti mimpi atau seperti bukan kisah nyata hanya terjadi didalam film saja.Segera beliau pulang dan tidak jadi pergi berbelanja karena masih shock dengan kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejadian diatas beliaupun setibanya di Sydney menyampaikan kisah yang dilihatnya tersebut kepada semua akhwat muslimah disini agar selalu taat kepada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dan agar kita selalu memohon akhir hidup yang baik atau husnul khatimah.Semoga kisah diatas dapat kita ambil hikmahnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-111863199819941982?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/111863199819941982/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=111863199819941982' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/111863199819941982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/111863199819941982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/06/akibat-berbuat-sombong.html' title='Akibat Berbuat Sombong'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-111863004654270304</id><published>2005-06-13T09:23:00.000+07:00</published><updated>2005-06-13T09:34:06.550+07:00</updated><title type='text'>Menggapai Kemuliaan Akhlaq</title><content type='html'>Oleh : Al Akh Abu ‘Utsman Mohammad Zuly Giansyah&lt;br /&gt;I. Definisi Akhlaq&lt;br /&gt;Beberapa definisi akhlaq antara lain adalah :&lt;br /&gt;1. Menurut Ibnu Abbas Radliyallohu ‘anhu ketika menafsirkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’alaa dalam surat Al Qolam ayat 4 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlaq yang agung”, akhlaq yang agung tersebut adalah dien yang agung (Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula pendapat Mujahid, Abu Malik, As Suddi, Rabi bin Anas, Ad Dhahak, dan Ibnu Zaid. Didalam Shohih Muslim, Aisyah Rodliyallohu ‘anha pernah ditanya tentang akhlaq Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Sallam, lalu beliau menjawab bahwa akhlaq Beliau Shollollohu ‘alaihi wa Sallam adalah Al Quran, karena segala perintah yang terdapat didalam Al Quran beliau laksanakan dan segala larangan yang terdapat didalamnya beliau tinggalkan. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata “Dengan ini menjadi jelas bahwa akhlaq yang agung dimana Nabi disifati dengannya adalah dien yang mencakup semua perintah-perintah Alloh Ta’alaa dan larangan-Nya, sehingga bersegera untuk melaksanakan segala yang dicintai Alloh dan di ridloi-Nya dan menjauhi segala yang dibenci dan dimurkai-Nya dengan sukarela dan lapang dada” (Makarimul Akhlaq/23) .&lt;br /&gt;2. Ibnul Atsir menyebutkan dalam An Nihayah (2/70) tentang “al khuluqu” dan “al khulqu” yang berarti dien, tabiat dan sifat. Syaikh ‘Utsaimin menerangkan tentang hakikatnya adalah potret batin manusia yaitu jiwa dan kepribadiannya (Makarimul Akhlaq, hal 9). &lt;br /&gt;3. Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah Rohimahullohu menyebutkan beberapa pendapat tentang definisi akhlaq didalam bukunya Madarijus Saalikin antara lain akhlaq yang baik adalah berderma, tidak menyakiti orang lain dan tangguh menghadapi penderitaan. Pendapat lain menyebutkan bahwa akhlaq yang baik adalah berbuat kebaikan dan menahan diri dari keburukan. Ada lagi yang mengatakan, “membuang sifat-sifat yang hina dan menghiasinya dengan sifat-sifat mulia”&lt;br /&gt;4. Imam Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidiin bahwa akhlaq merupakan ungkapan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah menghasilkan perbuatan tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan, jika perbuatan itu baik maka disebut akhlaq yang baik, dan jika buruk maka disebut akhlaq yang buruk.&lt;br /&gt;II. Keutamaan akhlaq yang baik &lt;br /&gt;Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali menyebutkan keutamaan-keutamaan akhlaq yang mulia yaitu :&lt;br /&gt;1. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab masuknya orang yang memiliki akhlaq yang mulia tersebut kedalam Jannah (surga)&lt;br /&gt;Nabi Shollollohu ‘alaihi wa Sallam bersabda yang artinya “Saya adalah penjamin bagi orang yang meninggalkan mira (debat kusir) meskipun ia ada dipihak yang benar dengan mendapatkan rumah di jannah terendah dan bagi orang yang baik akhlaqnya akan mendapatkan rumah di jannah yang tertinggi” (hadits riwayat Abu Daud/4800, Al Mizzi dalam Tahdzibul Kamal, dengan sanad yang hasan)&lt;br /&gt;Hadits lainnya yaitu dari Abu Huroiroh Rodliyallohu ‘anhu bahwasannya Rosululloh Shollollohu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan banyak manusia yang masuk Jannah, maka beliau menjawab yang artinya “Takwa kepada Alloh dan akhlaq yang baik”, beliau ditanya pula tentang penyebab yang menjadikan banyak manusia masuk neraka, maka beliau menjawab “mulut dan kemaluan” (diriwayatkan Tirmidzi (2003), Ibnu Majah (4246), Ahmad (2/291, 392, 442), Ibnu Hibban (Mawarid, 1923), Al Baghowi (Ma’alim At Tanziil, 4/377 dan Syarhu As Sunnah 13/79-80, Al Khoroithi (Makarimul Akhlaq hal. 10), dan Bukhori (Al Adab Al Mufrod, 442). Sanad hadits ini hasan &lt;br /&gt;2. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab seorang hamba dicintai Alloh&lt;br /&gt;Rosululloh Shollollohu ‘alaihi wa Sallam bersabda yang artinya “Hamba-hamba Alloh yang paling dicintai-Nya adalah yang paling baik akhlaqnya diantara mereka” (hadits riwayat Thabrani (471) dan Hakim (4/399-401)&lt;br /&gt;3. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab seorang hamba dicintai &lt;br /&gt;Rosululloh Shollollohu ‘alaihi wa Sallam. Beliau Shollollohu ‘alaihi wa Sallam bersabda yang artinya “Sesungguhnya yang paling aku cintai diantara kalian dan yang paling dekat dengan majelisnya dariku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaqnya diantara kalian” (hadits riwayat Tirmidzi (2018) dengan sanad yang hasan, dan memiliki penguat yang diriwayatkan Imam Ahmad (2/189) dengan sanad yang shohih, sehingga kesimpulannya hadits ini shohih lighoirihi)&lt;br /&gt;4. Akhlaq yang mulia mendapatkan timbangan yang paling berat di hari kiamat.&lt;br /&gt;Rosululloh Shollollohu ‘alaihi wa Sallam bersabda yang artinya “Sesuatu yang paling berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat adalah akhlaq yang baik” (hadits riwayat Abu Daud (4799), Ahmad (6/446-448), Ibnu Hibban (481) dan selain mereka)&lt;br /&gt;5. Akhlaq yang mulia meninggikan derajat seseorang disisi Alloh&lt;br /&gt;Rosululloh Shollollohu ‘alaihi wa Sallam bersabda yang artinya “Sesungguhnya seseorang itu dengan sebab akhlaqnya yang baik, sungguh akan mencapai derajat orang yang sholat malam dan shaum di siang hari” (hadits shohih riwayat Abu Daud (4798), Hakim (1/60) dan selainnya). Beliau Shollollohu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda yang artinya “Sesungguhnya seorang muslim yang dibimbing lurus (oleh Alloh) benar-benar akan mencapai derajat ahli shaum dan ahli ibadah (sholat) yang selalu melantunkan ayat-ayat Alloh disebabkan karakternya yang mulia dan akhlaqnya yang baik” (hadits shohih riwayat Ahmad (2/17 dan 220)&lt;br /&gt;6. Akhlaq yang mulia merupakan sebaik-baik amalan manusia&lt;br /&gt;Rosululloh Shollollohu ‘alaihi wa Sallam bersabda yang artinya ” Wahai Abu Dzar, maukah aku tunjukkan kepadamu dua hal ; keduanya itu sangat ringan dipikul dan sangat berat dalam timbangan dibandingkan selain keduanya?” Abu Dzar menjawab, “Tentu wahai Rosululloh.”, beliau bersabda, “Engkau harus berakhlaq yang baik dan harus banyak diam, demi yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidak ada amalan manusia yang menyamai keduanya.” (diriwatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam As Shamt (112 dan 554), Al Bazzar (Kasyful Atsar, 4/220) dan lain-lain. Hadits ini derajatnya hasan&lt;br /&gt;7. Akhlaq yang mulia menambah umur&lt;br /&gt;8. Akhlaq yang mulia menjadikan rumah makmur&lt;br /&gt;Rosululloh Shollollohu ‘alaihi wa Sallam bersabda yang artinya “Akhlaq yang baik dan bertetangga yang baik, keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur” (hadits shohih riwayat Ahmad, 6/159)&lt;br /&gt;Dari uraian tentang definisi dan keutamaan akhlaq diatas, semoga menjadikan kita dapat mengerti tentang akhlaq menurut ahli ‘ilmu yang benar-benar ahli dibidangnya yaitu ‘ilmu syar’i yang mulia dan menjadikan kita tidak salah kaprah dalam memahaminya karena pada umumnya banyak orang yang memandang akhlaq hanya sebagai sesuatu yang berkaitan tentang hubungan manusia dengan sesama manusia saja, padahal akhlaq juga mencakup hubungan manusia dengan Yang Mahatinggi, Yang ada di atas Arsy sana, Yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya yaitu Alloh Subhanahu wa Ta’alaa, Dialah Pencipta manusia, sehingga hanya Dialah yang Mahatahu tentang apa yang terbaik buat para hamba-Nya sehingga Dia memerintahkannya melalui KalamNya yang mulia yaitu Al Quran dan melalui lisan utusannya yang mulia yaitu Nabi Muhammad Shollollohu ‘alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt;InsyaAlloh akan disambung materi akhlaq berikutnya yaitu mengenai hubungan antara akhlaq dengan aqidah dan iman, tanda-tanda akhlaq yang baik, serta cara-cara memperoleh akhlaq yang baik. Semoga bermanfaat, Wollohu a’lam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa shollollohu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumil qiyamah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-111863004654270304?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/111863004654270304/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=111863004654270304' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/111863004654270304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/111863004654270304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/06/menggapai-kemuliaan-akhlaq.html' title='Menggapai Kemuliaan Akhlaq'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-111862855504873663</id><published>2005-06-13T08:48:00.000+07:00</published><updated>2005-06-13T09:09:15.053+07:00</updated><title type='text'>Kembalilah ke Taman surga</title><content type='html'>Saudaraku, …&lt;br /&gt;aku memang bukan ulama’ yang hafal beribu-ribu hadits&lt;br /&gt;dan menulis berjilid-jilid kitab&lt;br /&gt;walaupun begitu aku tetap saudaramu seakidah yang mencintai kebaikan bagimu sebagaimana aku menyenanginya bagi diriku&lt;br /&gt;Saudaraku, …&lt;br /&gt;bisa jadi engkau lebih banyak memiliki hafalan daripadaku&lt;br /&gt;bisa jadi engkau lebih senior dan lebih cerdas daripadaku&lt;br /&gt;namun kukira engkau masih mau menerima nasehat dari saudaramu&lt;br /&gt;Saudaraku, …&lt;br /&gt;sadarkah engkau bahwa kematian mengintai dirimu&lt;br /&gt;hari kebangkitan dan perhitungan ada di hadapanmu&lt;br /&gt;semuanya harus dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya&lt;br /&gt;Saudaraku, …&lt;br /&gt;semua tingkahmu terlihat tidak ada satupun yang tidak tercatat&lt;br /&gt;pintu kamar bisa kau tutup dan kau kunci lampu pun bisa kamu padamkan&lt;br /&gt;tapi ada sepasang mata yang selalu mengawasimu&lt;br /&gt;meskipun engkau tidak pernah melihatnya&lt;br /&gt;engkau tidak bisa bersembunyi&lt;br /&gt;kemanapun engkau lari dengan kemaksiatan dan kesia-siaan&lt;br /&gt;Saudaraku, …&lt;br /&gt;kebenaran ada di hadapanmu majelis ilmu bertebaran di sekelilingmu&lt;br /&gt;tidakkah engkau tergerak untuk menghampirinya&lt;br /&gt;mereguk cahaya ilmu dan merasakan kesejukannya&lt;br /&gt;Saudaraku, …&lt;br /&gt;aku memang bukan dosen yang bisa memaksamu&lt;br /&gt;mengerjakan tugas ini dan itu aku juga bukan rektor&lt;br /&gt;yang bisa mengusirmu dari bangku kuliah&lt;br /&gt;tapi aku sekedar sahabat dan saudaramu yang sedih&lt;br /&gt;menyaksikan cara hidupmu&lt;br /&gt;Saudaraku, …&lt;br /&gt;kesempatan dan kesehatan selama ini mungkin terlalu terbuka lebar bagimu&lt;br /&gt;sehingga dengan seenaknya kau sia-siakan dan kau telantarkan&lt;br /&gt;Saudaraku, …&lt;br /&gt;kehidupan penuh dengan tantangan sementara ilmu sangat dibutuhkan&lt;br /&gt;ilmu tentang Ar Rohman dan tentang bagaimana menjalani kehidupan&lt;br /&gt;tentang bagaimana berakhlak mulia tuk menggapai surga&lt;br /&gt;Saudaraku, …&lt;br /&gt;aku memang bukan ulama’&lt;br /&gt;walaupun begitu aku tetap saudaramu seakidah yang mencintai kebaikan bagimu sebagaimana aku menyenanginya bagi diriku&lt;br /&gt;Saudaraku, …&lt;br /&gt;jangan sia-siakan kesempatan ini mungkin tahun depan atau bahkan besok&lt;br /&gt;engkau tidak bisa menemukannya lagi&lt;br /&gt;lalu ketika itu penyesalanmu tiada berguna lagi&lt;br /&gt;’mengapa dulu aku tidak bersungguh-sungguh menimba ilmu syar’i’&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;dunia itu hina walaupun semua orang mengatakannya berharga&lt;br /&gt;dunia tetap hina dan akhiratlah yang lebih mulia&lt;br /&gt;dunia akan binasa sedangkan akhirat kekal selamanya&lt;br /&gt;Apakah yang kau kejar wahai saudaraku sementara kematian mengejarmu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seorang penuntut ilmu syar’i ma’had Al ’Ilmi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-111862855504873663?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/111862855504873663/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=111862855504873663' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/111862855504873663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/111862855504873663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/06/kembalilah-ke-taman-surga.html' title='Kembalilah ke Taman surga'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-111862695398752276</id><published>2005-06-13T08:37:00.000+07:00</published><updated>2005-06-13T08:42:33.993+07:00</updated><title type='text'>Butir-butir Mutiara Hikmah</title><content type='html'>Berkata Ibnu Mas'ud r.a : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutlah ilmu sebelum ilmu itu diangkat. Ilmu diangkat dengan kematian perawi-perawinya. Demi Tuhan yang jiwaku di dalam kekuasaanNya! Sesungguhnya orang-orang yang syahid dalam perang sabil lebih suka dibangkitkan oleh Allah nanti sebagai ulama', kerana mereka mengetahui kemuliaan ulama'. Sesungguhnya tak seorang pun dilahirkan berilmu. Ilmu diperoleh dengan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan datang kepada manusia suatu masa ketika kemanisan hati berubah menjadi masin. Sehingga pada hari itu, orang yang berilmu dan orang yang memepelajari ilmu tak dapat mengambil manfaat dari ilmunya. Maka hati orang-orang berilmu seumpama tanah kosong yang bergaram yang turun atasnya hujan dari langit maka tidak juga menjadi tawar. Iaitu, apabila condong hati orang berilmu kepada cinta dunia dan melebihkannya atas cinta akhirat, maka pada saat itu dicabutlah oleh Allah sumber-sumber hikmah dan dipadamkanlah lampu petunjuk dari hati mereka. Maka akan berceritalah kepadamu orang yang berilmu di antara mereka itu, ketika engkau menjumpainya bahawa ia takut kepada Allah dengan lisannya, sementara kezaliman jelas kelihatan pada amal perbuatannya. Alangkah suburnya lidah mereka dan tanduslah hati mereka ketika itu! Tidaklah terjadi yang demikian itu selain kerana para guru mengajar bukan kerana Allah dan para pelajar belajar bukan kerana Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah ilmu itu satu kemahiran bercerita tetapi ilmu itu (menimbulkan) taqwa kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran diturunkan untuk diamalkan. Maka ikutlah pelajaran tentang dengan amalan. Dan akan datang suatu kaum yang mebersihkan al-Quran seperti membersihkan solekan. Mereka itu tidak termasuk orang-orang yang baik. Orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya adalah seumpama orang sakit yang menerangkan tentang ubat dan seumpama orang lapar yang menerangkan tentang kelazatan makanan sedang makanan itu tidak dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang memberi fatwa kepada manusia mengenai tiap-tiap persoalan yang dimintakan kepada mereka fatwanya, adalah orang gila. (Dan seterusnya beliau berkata) :Benteng orang alim ialah 'laa adri' (saya tidak tahu). Jika ia meruntuhkan benteng itu, nescaya telah mendapat bencana tempat-tempat ia berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk yang baik pada akhir zaman adalah lebih baik daripada banyak amal perbuatan. (Dan berkata Ibnu Mas'ud r.a. pada tempat yang lain) : Kamu sekarang berada pada suatu masa di mana orang-orang baik di antaramu, segera melakukan segala pekerjaan. Lalu akan datang sesudahmu nanti suatu masa, di mana orang-orang baik di antara mereka bersikap teguh lagi berhati-hati dalam mengerjakan sesuatu kerana banyaknya perbuatan syubhah ( yang diragu halal-haramnya ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu sekarang berada dalam satu zaman di mana hawa nafsu mengikut ilmu. Dan akan datang kepadamu nanti suatu zaman di mana ilmu mengikut hawa nafsu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seseorang meminta-minta dalam masjid, maka mustahak tidak diberi. Dan apabila ia meminta-minta dengan membaca al-Quran, janganlah engkau beri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahawa seorang lelaki telah beribadah kepada Allah selama 70 tahun. Kemudian dia melakukan perbuatan keji, maka binasalah amalannya. Kemudian dia melewati seorang miskin dan menyedekahkannya sepotong roti. Maka diampuni oleh Allah dosanya dan dikembalikan kepadanya (pahala) amalannya selama 70 tahun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku peringatkan kamu dari berlebih-lebih dalam berkata-kata. Cukuplah bagi seorang manusia sekadar menyampaikan hajat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada suatu hari pun melainkan di dalamnya malaikat berseru: Hai anak Adam ! Yang sedikit tapi memadai bagimu, lebih baik daripada yang banyak tapi menganiaya kamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah kamu menjadi airmata ilmu, lampu petunjuk, banyak berdian di rumah, pelita malam, sunyi hati dari selain Allah, memakai pakaian dari kain buruk, terkenal di kalangan penduduk langit dan tersembunyi di kalangan penduduk bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah merupakan dosa bagi seseorang apabila dikatakan kepadanya bertaqwalah kepada Allah! Lalu ia menjawab : Jagalah dirimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan datang suatu kaumj yang meninggikan tanah liat dan merendahkan agama. Mereka mengenderai kuda Romawi, mengerjakan sembahyang menghadap kiblatmu, dan mati tidak dalam agamamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia adalah kerisauan dan dukacita. Apabila terdapat kesenangan di dalamnya, maka itu bererti keuntungannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua rakaat solat yang dilakukan oleh seorang alim (berilmu) yang mengerti dan ikhlas (tidak rakus kepada dunia), lebih baik daripada ibadah para ahli ibadah sepanjang masa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mukmin melihat dosanya sebagai bukti yang akab merobohinya, sedang seorang munafiq melihat dosanya sebagai lalat yang akan menghinggapi hujung hidungnya, dan kemudian diusir dengan tangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaitan pada diri orang mukmin bertubuh kurus- kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT membenci seorang pembaca (al-Quran) yang bertubuh gemuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kalian menginginkan ilmu pengetahuan, maka selidikilah al-Quran, sebab di dalamnya termuat ilmu-ilmu orang-orang yang terdahulu dan terkemudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran diturunkan untuk diamalkan isinya. Sesungguhnya ada di antara kalian seseorang yang membaca al-Quran dari permulaan sampai penghabisan tanpa meninggalkan satu huruf pun tetapi abai mengamalkan kandungannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya benar-benar benci melihat orang yang hanya mengaanggur saja, dan tidak berusaha untuk memenuhi kepentingan keduniaanmahu pun keakhiratannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir zaman akan banyak sekali orang yang menyelenggarakan ibadah haji tanpa sebab. Mereka melakukannya dengan perasaan ringan dan sama sekali tanpa kesukaran. Mereka sangat luas rezekinya dan berlimpah ruah hartanya. Tetapi mereka kembali tanpa mebawa pahala, tertutup dari rahmat Allah serta terampas semua ganjarannya. Untanya melintasi padang pasir, sedang tetangganya yang mengikat perutnya kerana sangat kelaparan, tidak dihiraukan, apalagi ditolongnya. &lt;br /&gt;Di antara kata-kata bersayapnya ialah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaik-baik kaya ialah kaya hati; &lt;br /&gt;Sebaik-baik bekal ialah taqwa; &lt;br /&gt;Seburuk-buruk buta ialah buta hati; &lt;br /&gt;Sebesar-besar dosa ialah berdusta; &lt;br /&gt;Seburuk-buruk usaha ialah memungut riba; &lt;br /&gt;Seburuk-buruk makanan usaha ialah makan harta anak yatim; &lt;br /&gt;Siapa memaafkan orang akan dimaafkan Allah; &lt;br /&gt;Dan sesiapa mengampuni orang akan diampuni Allah. &lt;br /&gt;Petikan dari "HIMPUNAN MUTIARA KATA PARA BIJAKSANA UNTUK MUHASABAH DIRI" - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Baihaqi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-111862695398752276?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/111862695398752276/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=111862695398752276' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/111862695398752276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/111862695398752276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/06/butir-butir-mutiara-hikmah.html' title='Butir-butir Mutiara Hikmah'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13168657.post-111703976465241259</id><published>2005-05-25T23:33:00.000+07:00</published><updated>2005-05-26T00:24:22.983+07:00</updated><title type='text'>Tidak Ada Istilah Kulit Dalam Agama</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Baz&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Bagaimana hukum syari’at tentang orang yang mengatakan bahwa mencukur jenggot dan memendekkan pakaian merupakan kulit dan bukan dasar agama, atau tentang orang yang menertawakan orang yang melakukannya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Ungkapan ini sangat berbahaya dan merupakan kemungkaran yang besar. Tidak ada istilah kulit dalam agama, tapi semuanya adalah isi, kebaikan dan perbaikan. Agama terbagi menjadi pokok dan cabang. Masalah jenggot dan memendekkan pakaian merupakan masalah cabang, bukan pokok, namun demikian, tidak boleh menyebut sesuatu di antara perkara-perkara agama sebagai kulitnya. Dikhawatirkan orang yang mengatakan ungkapan semacam itu akan terjebak ke dalam pengurangan dan olokan sehingga menyebabkan keluar dari agama. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok ? Tidak usah kamu minta ma’af, karena kamu kafir sesudah beriman” [At-Taubah : 65-66]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk memelihara jenggot, membiarkannya tumbuh dan menyuburkannya serta memotong kumis dan memendekkannya. Yang seharusnya adalah mentaatinya dan mengagungkan perintah dan larangannya dalam segala perkara. Abu Muhammad Ibnu Hazm menyebutkan, bahwa para ulama telah sepakat bahwa memelihara jenggot dan memotong kumis termasuk perkara yang diperintahkan. Adalah kebinasaan dan kerugian serta akibat yang buruk bagi yang bermaksiat terhadap Allah dan RasulNya. Begitu pula meninggikan pakaian hingga di atas mata kaki, merupakan perkara yang diperintahkan, berdasarkan sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Bagian yang melebihi mata kaki yang tertutup pakaian, maka termpatnya di neraka” [Hadits Riwayat Al-Bukahri dalam Shahihnya, kitab Al-Libas 5787]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga berdasarkan sabdanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Tiga golongan yang Allah tidak berbicara kepada mereka di hari kiamat, tidak pula memandang kepada mereka serta tidak mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih : Yang mengungkit-ngungkit pemberian dan yang mempromosikan barang dagangannya dengan sumpah palsu” [Hadits Riwayat Muslim dengan Shahihnya, kitab Al-Iman 106]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Allah tidak akan memandang kepada orang yang menyeret pakaiannya karena sombong” [Muttafaq ‘Alaih : Al-Bukhari dalam kitab Al-Libas 5783, Muslim dalam kitab Al-Libas 2085]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya seorang muslim bertakwa kepada Allah, meninggikan pakaiannya, baik itu gamis, kain atau celana, dan tidak melebihi mata kakinya. Yang lebih utama adalah antara pertengahan betis dan mata kaki. Jika isbal (melabuhkan ujung pakaian melebihi mata kaki) itu dilakukan dengan rasa sombong, maka dosanya lebih besar lagi. Jika dilakukan karena meremehkan, bukan karena sombong, maka ia seorang yang mungkar dan berdosa, tapi dosanya tidak seperti orang yang sombong. Tidak diragukan lagi, bahwa isbal bisa menjadi sarana menuju kesombongan, walaupun pelakunya mengatakan bahwa ia melakukannya bukan karena sombong. Lain dari itu, karena ancaman yang tersebut dalam sejumlah hadits bersifat umum. Dari itu tidak boleh meremehkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kisah Abu Bakar As-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu yang berkata kepada kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Sesungguhnya salah satu ujung kainku melorot, kecuali bila aku memeganginya” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.“Artinya : Engkau tidak termasuk orang yang melakukannya karena rasa sombong” [Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam kitab Al-Libas 5784]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian ini yang terjadi pada Ash-Shiddiq, ia selalu menjaganya dan berusaha menepatinya. Sedangkan orang yang sengaja mengulurkan pakaiannya (hingga melebihi mata kakinya), ia tercakup dalam ancaman tersebut, tidak seperti Ash-Shidiq. Tentang isbal ini, di samping adanya ancaman sebagaimana yang telah disebutkan di atas tadi, ada keburukan lainnya, yaitu berlebihan, mudah terkena kotoran dan najis serta menyerupai wanita. Semua ini wajib dihindari oleh setiap muslim. Hanya Allahlah yang kuasa memberi petunjuk dan hanya Dia-lah petunjuk kepada jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Majalah Ad-Da’wah, nomor 1608, Syaikh Ibn Baz]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari bukuAl-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Terbitan Darul Haq]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13168657-111703976465241259?l=saad01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saad01.blogspot.com/feeds/111703976465241259/comments/default' title='تعليقات الرسالة'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13168657&amp;postID=111703976465241259' title='0 تعليقات'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/111703976465241259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13168657/posts/default/111703976465241259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saad01.blogspot.com/2005/05/tidak-ada-istilah-kulit-dalam-agama.html' title='Tidak Ada Istilah Kulit Dalam Agama'/><author><name>saad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11153020571314663901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
